#DamaiItuNyata Jilid 3: Angkat Isu tentang Kekerasan dengan Pemutaran Film 27 Steps of May

Sesi diskusi dengan PPT Seruni dan LBH APIK Semarang setelah penanyangan film, Social Canteen Resto, 12 September 2019. (OPINI/Fany A)


AIESEC Semarang kembali menghadirkan sebuah proyek sosial yang bertajuk Damai Itu Nyata Jilid 3. Pada Sabtu (12/10) dengan berkolaborasi bersama Sineroom, AIESEC Semarang menggelar acara movie screening yang memutar penayangan film 27 Steps of May di Social Canteen Family Resto. Pemutaran film bertema kekerasan seksual ini juga turut dihadiri oleh LBH APIK dan PPT Seruni Semarang.

Damai Itu Nyata adalah rangkaian acara sosial yang dilaksanakan untuk memeringati Hari Perdamaian Internasional dan Hari Toleransi Sedunia. Pada tahun ini, proyek Damai Itu Nyata mengambil fokus pada Sustainable Development Goals nomor 16, yaitu Peace, Justice, and Strong Institutions dengan target dan indikator untuk mencapai kedamaian dan bebas dari kekerasan serta pelecehan.

“Tahun ini kita mengambil tema anti kekerasan. Seperti yang kita tahu, di Semarang sendiri masih ada banyak kekerasan yang terjadi. Kita belum sepenuhnya damai. Pemutaran film 27 Steps of May dipilih karena sesuai dengan fokus kita. Harapannya, setelah menonton film ini, kita bisa terbuka mata dan pikirannya, supaya bisa mengurangi kekerasan, baik kekerasan seksual maupun kekerasan lain di sekitar kita,” ujar Raena Septia, selaku ketua panitia dalam sambutannya.

Film yang disutradarai oleh Ravi Barwani ini bercerita tentang May yang diperkosa oleh sekelompok orang tidak dikenal ketika masih berusia 14 tahun. Ayah May sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri sebab merasa tidak dapat melindungi anaknya. Akibat trauma yang sangat mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan. Ia menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, atau kata-kata. 

suasana saat nonton bersama film 27 Steps Of May. (OPINI/Fany A)

Ayah dan May telah hidup seperti ini selama 8 tahun, tapi semua berubah ketika May bertemu dengan seorang Pesulap melalui celah kecil di dinding kamarnya. Pesulap membangkitkan rasa penasaran May sekaligus emosinya. Dia menjadi cukup berani untuk mencari dan menghadapi perasaan, sensasi, dan ingatannya yang hilang. Pada akhirnya, May berani membebaskan diri dan keluar dari trauma masa lalunya.

May dan pergulatannya melawan trauma kekerasan seksual berhasil membangun suasana yang intens dan menegangkan lewat detail-detail yang ditampilkan. Penonton dibuat ngilu ketika May menghadapi kepanikan akibat stimulus kecil, seperti bersentuhan tangan dengan orang lain, membawa ingatan May pada peristiwa traumatis yang membuatnya melakukan katarsis dengan melukai pergelangan tangannya menggunakan silet.

Kajian psikologi menyatakan trauma kekerasan seksual tidak hanya bersifat depresif bagi korban, tapi juga bagi orang-orang terdekat di sekitarnya. Dalam film, ini dibuktikan dengan karakter Ayah yang melampiaskan perasaan frustasi akibat rasa bersalah yang tak berkesudahan dengan bergulat di ring tinju, bahkan sampai pertarungan ilegal. Meski begitu, di rumah, Ayah tampil sebagai sosok yang lembut, yang mengorbankan segalanya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi anaknya.

Selesai penayangan film, acara ini dilanjutkan dengan diskusi terbuka bersama PPT Seruni (Pusat Pelayanan Terpadu Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan anak Berbasis Gender di Kota Semarang) dan LBH Apik (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan).

“Perspektif saya sebagai seseorang yang sehari-harinya terpapar dan menangani korban kekerasan seksual, film ini menunjukkan sekali gambaran nyata dari penderitaan dan beban yang dialami oleh korban kekerasan seksual. Dari hal kecil seperti makanannya saja kita bisa melihat May hanya makan makanan hambar karena makanan berbumbu mengingatkan dia akan traumanya. Kemudian kita bisa melihat bagaimana May tidak mau menerima perubahan, karena perubahan hanya akan membuatnya panik lantas histeris yang selanjutnya membuat dia melakukan self-harm,” kata Iis Amalia, selaku perwakilan dari PPT Seruni.

Iis menilai motif May melakukan self-harm memang bentuk katarsis dia yang tidak mampu mengungkapkan perasaannya. May mungkin ingin menunjukkan bahwa setelah bertahun-tahun pun ia masih merasa sakit jika teringat kejadian traumatis itu. Iis juga mengapresiasi bagaimana film ini menggambarkan emosi karakter yang sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.

Bagi banyak penyintas, untuk memulai membicarakan apa yang terjadi pada dirinya saja membutuhkan waktu yang cukup lama. Begitu pun dengan proses pemulihan. Tidak hanya sehari-dua hari, bahkan bisa berbulan-bulan, atau mungkin puluhan tahun. Dan trauma tersebut tetap tidak akan hilang. Belum lagi, jika ada pihak-pihak yang menyalahkan korban, beban yang dibawa oleh korban semakin mengakibatkan korban bungkam dan sulit berdamai dengan dirinya sendiri.

“Padahal kedamaian paling dekat itu adalah kedamaian dari diri kita sendiri. Kita berdamai dengan diri kita, kita berdamai dengan masalah kita, kita berdamai dengan lingkungan kita, kita bisa mengubah diri kita,” tutur Iis.

Kasus seperti May memang tidak sedikit. Dari PPT Seruni sendiri mencatat tahun ini ada 31 kasus kekerasan seksual di Semarang. Angka tersebut memang menurun dari tahun sebelumnya, tetapi ironinya, anak-anak yang kian menjadi korban. Mereka bahkan tidak sadar bahwa mereka adalah korban kekerasan seksual. Hal ini tentu akan menjadi masalah di kemudian hari, saat mereka paham bahwa mereka telah mengalami kekerasan seksual.

Mayoritas masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi keperawanan sampai menikah. Ketika anak-anak korban kekerasan seksual ini tumbuh dewasa, saat mereka sadar mereka tidak lagi perawan, yang ditakutkan adalah mereka akan merasa bahwa mereka tidak berharga dan tidak bisa diterima di masyarakat dengan kondisi seperti itu. Hal ini bisa membuat korban menjadi depresi.

Psikolog dari PPT Seruni Semarang, Iis Amalia, (tengah) saat menanggapi pertanyaan yang dikemukakan audiens. (OPINI/Fany A)

Diskusi dilanjutkan dengan termin tanya-jawab. Salah satu penanya, Okta, bercerita pernah mengalami pelecehan seksual dan bagaimana hal itu mengubah hidupnya. Ia merasa beruntung memiliki teman-teman dan keluarga yang mendukungnya untuk keluar dari traumanya. Tapi Okta bertanya, bagaimana jika korban lain tidak memiliki support system yang sama seperti dirinya, apa yang harus korban lakukan?

Menanggapi pertanyaan tersebut, pihak PPT Seruni menerima semua pengaduan dan jika korban ingin konsultasi mengenai hukum maupun konsul psikologis, Seruni sangat terbuka untuk itu serta semua biaya konsultasi gratis. PPT Seruni bisa dihubungi di nomor 024-3566517. Rulia, sebagai perwakilan dari LBH Apik juga menjawab bahwa LBH APIK menyediakan hotline yang bisa dihubungi jika korban ingin melakukan pengaduan kasus atau sekadar butuh seseorang yang bisa memberikan dukungan, yakni 024-355479.

“Penting bagi kita untuk meningkatkan kepedulian terhadap sekitar dan sebisa mungkin memberikan awareness bahwa kekerasanan seksual ini memang benar adanya dan terjadi di sekitar kita. Kita sebagai agen perubahan harus bisa meminimalisir hal ini dan sebisa mungkin kita menjadi support system bagi teman-teman kita yang mungkin menjadi korban kekerasan seksual,” pungkas Ilma, selaku moderator diskusi mengakhiri diskusi malam itu.

Oleh: Fany Adhiti

Editor : Gita N. Elsitra

Redaktur Pelaksana : Dian Rahma F. A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *