The Godfather of Broken Heart Ambyarkan Panggung Fisiphoria

Kemeriahan panggung Fisiphoria 2019, (OPINI/Johan Adrian)

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) kembali menggelar event tahunan mereka yaitu Fisiphoria pada Jumat, 18 Oktober malam yang bertempat di Stadion Diponegoro Semarang. Acara Fisiphoria kali ini mengusung tema “Folklore” yang berarti cerita rakyat.

Acara Fisiphoria mengangkat tema demikian karena untuk mengangkat kembali kebudayaan-kebudayaan yang sudah ada, seperti yang tercermin pada Didi Kempot sebagai salah satu guest star-nya. Di sisi lain, Sal Priadi serta Kunto Aji dianggap sedang hype oleh panitia sehingga menjadi guest star lainnya.

Fisiphoria tahun ke-7 kali ini mengundang 3 guest star, yaitu Sal Priadi, Kunto Aji, dan Didi Kempot. Penonton mulai padat ketika mendekati close gate. Event ini dibuka oleh local artist yaitu Everlasting yang tampil selepas maghrib. Dilanjutkan dengan sambutan oleh wakil dekan 2 Fisip Undip. Setelah itu local artist tiadhilm tampil.

Musisi solois asal Malang Sal Priadi menjadi guest star pertama yang tampil dengan lagunya yang berjudul Di Ubud sekitar pukul 19.45. Selanjutnya, Sal membawakan Ikat Aku di Tulang Belikatmu, Melebur Semesta, Amin Paling Serius, serta Kultusan. Di sela-sela penampilannya, Sal juga sesekali memancing gimmick penonton yang sedang patah hati, tentunya karena berhubungan dengan lagu yang dibawanya.

Setelah Sal Priadi selesai, penonton harus menunggu hampir 1 jam untuk menantikan Kunto Aji yang baru tampil pada pukul 21.15. Kunto Aji pun muncul dengan “Rancang Rencana”-nya. Setelah itu penonton kembali dihibur dengan lagu Kunto yang lainnya berjudul Mercusuar, Pilu Membiru, Topik Semalam, Konon Katanya, dan Rehat.

Didi Kempot yang menjadi guest star terakhir sudah ditunggu-tunggu oleh sebagian besar penonton yang menggemari musisi campursari tersebut. Penonton langsung merapat kembali begitu Didi Kempot pertama kali muncul di panggung pukul 22.20 dengan membawakan Cidro dan Banyu Langit. Setelah itu Didi sempat berkelakar “Cah Wedok pengen lagu opo?” yang dilanjutkan dengan Kalung Emas serta Tanjung Mas Ninggal Janji.

Didi Kempot membawakan beberapa lagu andalannya, 18 Oktober 2019 (OPINI/Anugrah Alif)

Penampilan musisi campursari asli Solo tersebut selalu membuat penonton menari dengan semangat. Untuk memeriahkan suasana, panitia tak sungkan menyiramkan water canon kepada penonton. Di sela-sela penampilan Didi, Didi juga mempersilakan penabuh gendang nya yaitu Dory untuk menggantikannya sekali dengan membawakan lagu Didi yaitu Wis Cukup.

Setelah itu Didi tampil kembali membawakan Pamer Bojo, Medhot Janji, Suket Teki, Layang Kangen, Sewu Kutha. Di akhir penampilannya, ia membawakan lagu nya yang berjudul “Stasiun Balapan”. Acara pun selesai pada jam 23.50.

“Aku pribadi sangat senang ya, dengan antusias penonton. Tidak menyangka akan seramai ini,” ujar Filipo. Melalui sesi wawancara, Renatha, humas fisiphoria, mengatakan penonton yang hadir cukup banyak. “Kurang lebih ada 9000 penonton,” kata Renatha. 

Para guest star diberi waktu 45 menit oleh panitia untuk membawakan lagunya. “Jumlah lagunya terserah mereka (guest star). Yang jelas kami hanya memberikan waktu 45 menit bagi masing-masing guest star,” lanjutnya.

Hasan, mahasiswa Undip mengaku terkesan dengan jalannya Fisiphoria kemarin. “Konsernya asik ya, mungkin karena pemilihan guest starnya yang tepat, terutama Didi Kempot.”

Dia mengaku akan datang pada Fisiphoria tahun depan jika guest star yang diundang terkenal serta venue mumpuni. “Soalnya masalah venue itu waktu joget diatas lapangan pasirnya keangkat semua, sama tadi water canonnya kurang merata aja,” pungkasnya.

oleh : Anugrah Alif M

Editor : Gita N Elsitra

Redaktur Pelaksana : Dian Rahma F A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *