Debat Pemira FISIP 2019 : Beradu Pikiran Kritis untuk Pilihan Logis

Paslon Ketua-Wakil BEM FISIP Undip 2020 dalam sesi debat, Ruang Teater, Jumat 15 November 2019. (OPINI/Fany A)

LPM OPINI, Semarang – Berpakaian serasi ungu pudar, pasangan calon tunggal Ketua dan Wakil Ketua BEM FISIP Undip, terlihat tegar mendapati serangan-serangan tak terduga dari ketiga panelis. Berbekal visi misi bertajuk  Bahtera Cahaya, pasangan calon tunggal tersebut dengan percaya diri memaparkan idealismenya, sebelum kemudian mendapat serangan bertubi dari jajaran panelis.

Kegiatan ini dimulai dengan ritual mainstream rakyat Indonesia,  yakni menyanyikan lagu Indonesia Raya yang kemudian dilanjutkan unjuk gigi paslon dengan pemaparan visi-misi.  Turut menghadirkan tiga panelis dari kalangan internal FISIP Undip, iaitu: Dian Fitriyani yang merupakan Wakil Presiden Mahasiswa 2019; Favian Laksono yang menjabat Kepala Bidang Sosial-Masyarakat BEM Undip 2019; serta Wira Fadhil, Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik BEM FISIP Undip 2018. Debat penel ini juga dimoderatori oleh Allya Natasya Aurora yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kebijakan Publik BEM FISIP Undip tahun 2019.

Bertempat di Ruang Teater FISIP Undip, debat panelis yang open mic sejak pukul 9.50 telat panas. Hingga klimaksnya, kritik pedas serta pertanyaan-pertanyaan tajam mulai membabi buta bukan hanya kepada pasangan calon yang menjadi pusat perhatian utama, tetapi juga mengkritisi birokrasi kampus dan bahkan election committee yang kinerjanya secara keseluruhan mendapat rapor merah dari salah satu mahasiswa departemen Administrasi Publik, Theo Agustinus Hasiholan.

Salah dua isu seksi yang menjadi bahasan paling laku dalam forum adalah masalah internal dari BEM FISIP Undip dan argumentasi yang mempertanyakan alasan penggemukan divisi komunikasi dan informasi, di mana humas dan DKV yang sebelumnya tidak termaktub dalam divisi tersebut. Hal itu dipertanyakan oleh salah satu panelis, Wira Fadhil dengan dalih,

“… Penilaian kerja humas dan komunikasi dan informasi dipandang BEM chaos, bahkan jika ada dua bidang yang sama bisa chaos, begitu, lalu kenapa dijadikan bidang yang sama, padahal mereka memiliki peranan berbeda jauh, di mana Kominfo lebih berada di balik layar dan humas lebih secara langsung. Mengapa dijadikan satu?” 

Hal itu dijawab lugas oleh Diva Sinar Rembulan dengan alasan, ”… Karena (Kominfo) tidak bisa merasa lepas dari humas dan DKV. Kalau jobdesknya nanti dikepalai dua orang, (yakni) humas dan DKV.” Perdebatan tersebut bahkan gagal menemui titik terang karena keterbatasan waktu dan membuat Wira Fadhil merasa tidak puas akan argumen yang diberikan. 

Kemudian mencuat pertanyaan menyoal indikator keberhasilan dari program kerja, terutama riset yang dipertanyakan oleh Dian Fitriyani, di mana pernyataan dari paslon berbunyi, “Sebenarnya kalau target kami akan membicarakannya dengan riset dan keilmuan. Pencapaiannya seperti, kita ingin meningkatkan apresiasi bukan hanya dari BEM FISIP tetapi juga dari dekanat.” Hal-hal tersebut sejatinya masih menjadi pro-kontra dalam debat yang diselenggarakan hingga menjelang salat jumat tersebut. 

Forum debat ini benar-benar membahas segala aspek aspirasi mahasiswa dari berbagai sudut pandang, seperti organisasi ekstra, permasalahan UKT, prestasi mahasiswa, hingga menyoal PKM yang menjadikan esensi forum debat ini menjadi agak sedikit melebar menjadi forum sharing dua arah antara hadirin mahasiswa dengan pasangan calon.

Debat tersebut diakhiri dengan closing statement berupa harapan jikalau nantinya mereka memenangi kontestasi politik PEMIRA Fisip Undip 2019 mengalahkan kotak kosong. “Kami menekankan sekali lagi, bahwa kami tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh kolaborasi dan kepercayaan bersama untuk FISIP, Undip, dan Indonesia.”

Oleh : Luthfi Maulana A

Editor : Gita N Elsitra

Redaktur Pelaksana : Dian Rahma F A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *