Self-Proclaimed dan Pencitraan “Kampus Rakyat” ala Undip

LPM OPINI – Bagi kawan-kawan Mahasiswa yang butuh hiburan di masa pandemi ini, mampirlah ke akun Instagram resmi undip.official, gelak tawa adalah sebuah keniscayaan saat menerawang salah dua posting-an yang admin mereka unggah. Apalagi tanggal yang diambil seolah sembari merayakan Hari Pendidikan Nasional. Wah, bisa masuk Teori Konspirasi, nih. Selamat Hari Pendidikan Nasional, Indonesia!

Kritik pedas terhadap salah satu kampus yang mengklaim dirinya sebagai “Kampus Rakyat” terus berdatangan dari berbagai pihak. Kenaikan biaya kuliah yang final melalui SK Rektor Nomor 149/UN7.P/HK/2020 tentang Penetapan Besaran UKT dan Sumbangan Institusi Program Sarjana/Diploma Universitas Diponegoro menjadi sumbu atas keributan yang terjadi di kanal media sosial.

Setelah sebelumnya BEM Undip menaikkan tagar #UndipKokJahatSih, media ternama yakni Opini.id turut meramaikan jagat kritik terhadap kebijakan oleh salah satu World Class University tersebut. Dalam postingan di Instagram pada Kamis (30/4) postingan bertuliskan “Biaya Kuliah Naik, Mahasiswa Menjerit” serta “Undip Naikkan Biaya Kuliah di Tengah Pandemi” itu sontak menarik perhatian netizen dengan jumlah like yang sudah mencapai lebih dari 9.000 pengguna Instagram.

Menanggapi ragam kritik yang dituduhkan kepada pihak Universitas, Undip melalui akun Instagram resminya yakni undip.official seolah berkilah atas kritik yang ditimpakan. Dalam posting-an yang sudah dihapus pada Jumat malam (1/5) itu, alih-alih merespon apa yang menjadi tuntutan mahasiswa, Undip justru melakukan pembelaan dengan self-proclaimed sontoloyo, bahwa selama ini kebijakan yang telah mereka tekan itu merupakan kebijakan yang baik dengan memunculkan tagar #UndipBaikHati dan #UndipPeduli. 

Posting-an akun Instagram resmi undip.official pada Jumat malam (1/5) yang telah dihapus. Foto : Instagram.

Posting-an yang kini sudah dihapus tersebut terkesan bahwa Undip menggeser hal yang menjadi poin penting dalam pembahasan yakni kritik atas kebijakan kenaikan UKT, dengan pencitraan self-proclaimed yang memalukan. Kalau tidak memalukan ya mestinya gak perlu dihapus, dong.

Setelah sedikit tersadar akan blunder yang dilakukan, Undip kembali menayangkan posting-an yang lagi-lagi menuai kontroversi. Posting-an yang naik bertepatan pada Hari Pendidikan Nasional, tepatnya Sabtu pagi (2/5) itu menayangkan dua postingan yang kembali menggunakan tagar #UndipBaikHati dan #UndipPeduli kini hadir dengan menggaet slogan “Undip Lebih Peduli” dan “Undip Semakin Peduli”.

Dua unggahan tersebut mengklaim bahwa Undip siap membebaskan serta menurunkan UKT mahasiswa lama dan baru yang terdampak finansial akibat pandemi covid-19. Eits, jangan senang dulu. Bak ajang undian ciki-ciki, dalam postingan tersebut terdapat tanda bintang (*) bertuliskan syarat dan ketentuan berlaku. Lagipula, hal ini masih sebatas wacana karena belum terbitnya Surat Keputusan atau Surat Edaran resmi dari Rektorat. Atau jangan-jangan karena kelamaan WFH, mereka lupa cara bikin SK dan SE itu bagaimana? Patut ditunggu.


Salah satu posting-an akun Instagram resmi Undip, undip.official yang memberikan jawaban atas kritik yang menimpa pihak Universitas. Foto : Instagram.

Munculnya dua postingan yang terkesan berasal dari kepanikan pihak Universitas akan citra buruk yang tersebar akibat kebijakan kenaikan biaya kuliah, agaknya merupakan refleksi bagaimana pihak Universitas bekerja demi mendapat citra baik dari publik, bukannya mendapat cinta dari keluarganya sendiri, yakni mahasiswa.

Sampai artikel ini diterbitkan, belum sama sekali terendus adanya SK Rektor yang membenarkan dua posting-an di Instagram tersebut, jika nantinya sudah naik ke permukaan, Saya penasaran dengan syarat dan ketentuan yang menjadi golden ticket mendapat keringanan, apakah pengikut media sosial mesti sampai 2500 pengguna? Atau syarat dan ketentuan lain yang lebih masuk akal?

Penulis: Luthfi Maulana

Editor: Ikhsanny Novira I.

Redaktur Pelaksana: Annisa Qonita A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *