Tepis Isu #UndipKokJahatSih, Undip Jadikan BEM sebagai Kambing Hitam

Widya Puraya Undip. Foto: dokumen pribadi.

LPM OPINI – Drama kenaikan biaya kuliah Undip di masa pandemi masih berlanjut. Tagar #UndipKokJahatSih yang naik pitam di Twitter dan Instagram menjadi buah bibir di media mainstream seperti Opini.id, Kumparan, hingga Detik. Bahkan, drama kenaikan biaya kuliah Undip turut menjadi busa gibah di kalangan pengikut minceu di Instagram lambe_turah.

Saat BEM Undip bersama BEM fakultas menggaungkan tagar #UndipKokJahatSih hingga admin Instagram resmi Undip blunder, BEM justru dituduh sebagai salah satu dalang dalam kebijakan kenaikan biaya kuliah, gerrr.

Pada salah satu unggahan berita yang dinarasikan oleh Kumparan, terdapat satu hal yang sangat bertolak belakang dengan apa yang diperjuangkan. Artikel daring yang berjudul Undip Jawab Isu #UndipKokJahatSih: Kenaikan UKT Sudah Dibahas Bersama BEM”, yang diterbitkan Kumparan pada Sabtu (2/5), membuat mahasiswa yang sadar ternganga, bahkan saat membaca judulnya saja.

Lebih lanjut, dalam berita yang diterbitkan Kumparan tersebut, Utami selaku Kasubag Humas Undip berdalih bahwasannya kebijakan kenaikan UKT merupakan hasil dari kesepakatan bersama setelah proses panjang dengan BEM seluruh fakultas. 

“UKT untuk mahasiswa baru tahun 2020 telah dibahas tahun 2019 bersama dengan BEM Fakultas masing-masing dan diputus pada bulan Februari 2020 sebelum terjadinya wabah covid-19 di Indonesia,” ujar Utami dalam keterangan pers yang diterima Kumparan, Sabtu (2/5).

Bayangkan, bisa-bisanya BEM Undip dan BEM fakultas yang menjadi pionir atas tagar #UndipKokJahatSih yang dalam seminggu mampu menjadi trending, ternyata juga merupakan salah satu pihak yang terlibat atas munculnya kebijakan yang mereka kritik sendiri. Pft, teori konspirasi baru macam apa itu, memangnya BEM Undip elit global?

Sontak saja hal tersebut dibantah keras oleh Ketua BEM Undip, Hilmy Baihaqi. Melalui akun Instagram pribadi hilmybaihaqii, ia menulis surat terbuka sebagai berikut:

Yang terhormat, Rektor dan Jajaran

Kami sangat bangga berkesempatan mengenyam pendidikan di Undip, salah satu world class university yang digaung-gaungkan akan bersinar dengan research quality-nya. Sayangnya kebanggaan kami ternodai dengan satu langkah kecil yang Bapak Ibu beri semalam tadi. Pak, Bu, amanah bisa digunakan untuk 2 hal. Memuliakan atau Menghinakan. Bukan tanpa sebab mahasiswa Anda memenuhi linimasa dengan gerakan tagar yang tanpa sadar, menembus trending topic di hari jadi kota Semarang.

Yang terhormat, Rektor dan Jajaran

Dalam forum yang menghadirkan Dekanat dan Mahasiswa, isinya hanyalah SOSIALISASI (Pemaparan rencana kenaikan UKT 2020) bukan KESEPAKATAN. Pun, forum tersebut hanya dilaksanakan satu kali. Mahasiswa yang kala itu diwakilkan oleh BEM-Fakultas hanya diminta pendapatnya, tidak diminta keputusan. Bagaimana mungkin, tidak ada bahasan lanjutan, hanya sekali, tiba-tiba tanggal 26 Februari 2020 muncul SK mengenai besaran SPI dan UKT 2020. Tolong hentikan counter-argument di media mainstream yang seolah-olah ada kesepakatan antara mahasiswa dengan Dekanat (sebagai perpanjangan tangan rektorat). Kami tidak se-hina itu

Yang terhormat, Rektor dan Jajaran

Bukan hanya tindakan insturuktif dan langkah kuratif yang kami tuntut. Di saat orang berlomba memberikan bantuan, insentif dan relaksasi kredit. Mengapa Undip mengambil arah kebijakan yang berbeda?

#UndipKokJahatSih

#undipnaikuktlagi

Dengan klarifikasi di atas, jika memang yang disampaikan oleh Ketua BEM Undip, Hilmy Baihaqi, tersebut benar demikian adanya, dengan berat hati kita sebagai manusia bernurani sepertinya harus mengakui kinerja pihak Universitas dapat dikatakan sangat menggelikan sekaligus memuakkan. 

Hitamnya transparansi seolah menjadi jalan pintas akan penguburan dosa-dosa mereka. Jika keinginan mahasiswa untuk melihat bentukan RKAT Undip sebagai wujud transparansi kebijakan belum bisa direalisasikan–entah dengan alasan apa–maka yang sebaiknya dilakukan pihak rektorat adalah menunda kebijakan ini mengingat kini kita tengah dalam kondisi memerangi pandemi.

Disamping itu, 2 Mei tahun ini adalah Hari Pendidikan Nasional terburuk bagi mahasiswa Undip, alih-alih memberi hadiah, kampus malah ngasih masalah, mesakke.

Penulis: Luthfi Maulana 

Editor: Ikhsanny Novira I. 

Redaktur Pelaksana: Annisa Qonita A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *