Khawatir Pencurian Data Pribadi? Berikut Langkah-Langkah Antisipasi yang Bisa Kamu Lakukan

Setelah kabar kebocoran 530.000 data pengguna aplikasi video konferensi Zoom membuat geger media sosial global, giliran isu kebocoran data oleh e-commerce Tokopedia yang kini memicu kegemparan dan berbagai reaksi dari masyarakat Indonesia. Sebanyak 91 juta data pelanggan Tokopedia dikabarkan bocor dan diperjualbelikan di dark web, yaitu sebuah situs misterius yang hanya bisa diakses orang-orang tertentu dan biasa digunakan untuk melakukan transaksi ilegal. Menanggapi ini, Tokopedia mengakui bahwa terjadi upaya pencurian data pelanggan, namun privasi pelanggan seperti password, dikatakan dalam keadaan aman. Untuk meredam ketegangan dari berbagai kalangan masyarakat, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menggandeng Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN) dan pihak Tokopedia untuk melakukan penyelidikan bersama terkait upaya kejahatan siber yang terjadi. Kasus kebocoran data lantas menimbulkan kekhawatiran dalam masyarakat –terutama bagi pengguna aktif layanan daring, pada masa serba daring akibat pandemi virus corona saat ini.

Kasus kebocoran data pengguna e-commerce menandakan kerentanan data pribadi seseorang dalam dunia siber. Belajar dari kasus tersebut, saat ini masyarakat memang perlu lebih waspada mengenai keamanan siber. Momen pandemi Covid-19 saat ini yang mengharuskan berbagai kegiatan termasuk berbelanja dilaksanakan secara daring dalam skala besar, masyarakat harus lebih memahami pentingnya privasi data di aplikasi daring yang kita gunakan serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk melindungi privasi data siber. 

Mengapa Privasi Data Siber Penting Dilindungi?

Berdasarkan rekapan data serangan siber oleh Pusat Operasi keamanan Siber Nasional (Pusopskamsinas) BSSN, tercatat sebanyak 88.414.296 serangan siber telah terjadi sejak 1 Januari hingga 12 April 2020. Jenis serangan siber meliputi pengumpulan informasi, serangan malware, dan web defacement. Seperti halnya banyak penipuan online yang banyak terjadi, data pribadi digunakan untuk melancarkan berbagai macam kejahatan siber. Para peretas, selama memiliki akses internet, dapat melakukan kejahatan kapan pun, di mana saja. Hal ini menandakan betapa rentannya data pribadi seseorang di dunia siber. Dengan modus kejahatan yang semakin bervariasi, perlindungan data pribadi harus diupayakan lebih giat oleh tiap individu. 

Satu informasi data pribadi yang dicuri dapat digunakan untuk berbagai kejahatan yang menyebabkan kerugian besar. Pada kasus peretasan aplikasi Whatsapp aktivis milik Ravio Patra, akun pribadi Ravio digunakan oleh pelaku untuk berbuat onar dan penghasutan untuk melakukan kekerasan. Sebagai seorang aktivis yang menyerukan suara rakyat, peretasan ini sangat merugikan Ravio. Ia bahkan sempat ditangkap oleh polisi dan menjalani pemeriksaan selama 33 jam di Polda Metro Jaya karena dianggap menyebarkan ancaman. Kasus tersebut menunjukkan bagaimana informasi pribadi yang dicuri dapat digunakan untuk melakukan tindak kejahatan terhadap orang lain mengatasnamakan data pribadi orang  yang dicuri. Pencurian suatu informasi data pribadi seseorang dapat menimbulkan kerugian secara moril dan finansial, oleh karena itu tindak kejahatan siber harus diwaspadai. 

Bagaimana Cara Melindungi Privasi Data dalam Sistem Daring?

Selain mempercayakan privasi data kepada penyelenggara sistem elektronik –seperti startup, layanan daring, dan lembaga negara terkait, dibutuhkan tindakan proaktif oleh tiap individu. Melindungi privasi data diri dari serangan siber dapat dilakukan dengan melakukan beberapa hal berikut.

1.“Merawat” Kata Sandi

Banyak layanan komersial daring, aplikasi-aplikasi, ataupun situs-situs tertentu yang mengharuskan tiap pengguna untuk menyertakan karakter huruf kapital, angka, dan simbol untuk pembuatan kata sandi. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan keamanan akun karena semakin sulit suatu kata sandi akan semakin aman. Kata sandi perlu diganti secara berkala, dan tidak disarankan untuk memiliki kata sandi yang sama di seluruh platform yang digunakan. Jika kata sandi suatu akun sama dengan akun lainnya, maka kerugian yang akan ditanggung akan semakin besar. Tindakan melindungi kata sandi selanjutnya adalah dengan tidak menyimpan kata sandi di sembarang tempat yang mudah diakses orang lain atau tanpa enkripsi.

2. Mengaktifkan Fitur Enkripsi

Enkripsi adalah pengubahan data, informasi, ke suatu format yang sulit dipahami dan memerlukan kode atau cara khusus untuk membacanya. Pihak yang tidak berwenang atau berusaha meretas tidak dapat membaca atau mengerti informasi yang hendak diakses. Enkripsi menjamin kerahasiaan informasi, menjaga integritas data, dan otentikasi dipastikan terverifikasi dan tidak bersifat anonim.  Layanan transaksi perbankan menyediakan layanan ini untuk memberikan perlindungan informasi dan finansial nasabah. Beberapa aplikasi media sosial yang memiliki banyak pengguna seperti Instagram dan Whatsapp telah dilengkapi fitur ini. Sebagai bentuk tindakan proaktif melindungi privasi data, pengaktifan fitur enkripsi tidak kalah penting.

3. Membuat Cadangan Data

Menyimpan cadangan data dapat dilakukan melalui hardware seperti flashdisk, ataupun melalui software tempat penyimpanan data seperti Google Drive, Dropbox, dan sebagainya. Cadangan data ini sebagai bentuk antisipasi jika data hilang karena terkena virus, proses pemulihan data dapat dilakukan. Penempatan cadangan data harus dipastikan memiliki akses terbatas untuk menghindari “kecolongan” informasi dan data yang diupayakan dalam keadaan aman.

4. Rajin Memperbarui Sistem

Sistem yang lemah dan lawas akan lebih mudah disusupi malware atau virus. Dengan memperbarui sistem operasi, anti virus,  dan aplikasi yang dimiliki, keamanan data menjadi terjaga. Pembaharuan sistem biasanya dilengkapi dengan perbaikan kesalahan (bug) dan peningkatan-peningkatan keamanan yang telah diuji untuk melawan virus atau malware yang lebih beragam. 

5. Menggunakan Anti Virus

Memasang anti virus pada gawai adalah langkah dasar upaya menjaga keamanan informasi dan data. Setelah itu melakukan pemindaian data secara berkala menggunakan anti virus yang senantiasa diperbarui. Pemindaian berkala ini bertujuan untuk memastikan data di gawai, baik yang sudah lama disimpan atau yang baru diunduh tidak memiliki virus di dalamnya. Sedangkan anti virus yang rajin diperbarui bertujuan untuk meningkatkan kualitas identifikasi jenis virus baru yang tidak selalu dimiliki sistem versi lama. 

6. “Klik” secara Hati-hati

Situs-situs yang tidak dikenal dan mencurigakan sebaiknya tidak coba-coba untuk diklik. Sebab salah satu cara virus atau malware dapat masuk ke gawai adalah dengan klik ke website yang dirancang untuk dapat menyuntikkan virus ke perangkat. Hal ini berlaku juga bagi pengunduhan aplikasi atau dokumen yang tidak jelas sumbernya dan tidak dikenal. Untuk menghindari dari virus dan kebocoran informasi, langkah yang dapat diambil yaitu dengan mengakses situs dan aplikasi yang terpercaya dari sumber yang resmi.

7. Mengedukasi Diri

Edukasi yang dimaksud tidak lain mengenai seputar sistem keamanan pada gawai, dan informasi-informasi terkait modus kejahatan siber yang terjadi di masyarakat. Para pencuri data akan terus mengembangkan metode-metode baru dalam melancarkan rencana kejahatannya ketika cara yang lama telah diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu, mengikuti perkembangan informasi mengenai perlindungan data dan kejahatan siber mengoptimalkan upaya melindungi privasi data siber pada masa serba daring.

Oleh: Halima Iradati A.

Editor: D. Rahma Fika Alnina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *