Kenalkah Kamu dengan Sabun, Sang Pahlawan Kulit?

Oleh Biro Riset LPM OPINI

Zaman sekarang, siapa sih, yang tidak tahu sabun? Sebuah benda yang punya sejuta manfaat dan pesona untuk kulit. Pastinya, semua orang dari berbagai kalangan tentu mengenal dan menggunakan sabun untuk menghilangkan bau, kotoran, dan kuman baik di kulit, baju, atau perabotan rumah tangga lainnya. Apalagi di masa pandemi covid-19 ini, di mana menjaga kesehatan dan kebersihan kulit merupakan hal yang krusial agar tidak terpapar oleh virus tak kasat mata tersebut. Meskipun banyak orang sudah menggunakan sabun, sayangnya tidak semua orang tahu sejarah dibaliknya. Oleh karena itu, yuk sama-sama kupas tuntas sejarah sabun di masa lalu dan kilas baliknya.

Awal Mula Terciptanya Sabun : Inovasi Dari Ketidaksengajaan 

Dilansir dari Historia.id, bahan-bahan yang terkandung di dalam sabun diduga sudah dimanfaatkan sejak 2.800 SM oleh Bangsa Babilonia. Bukti tersebut tertulis dalam Papirus Eber yang merupakan dokumen kesehatan asal Mesir Kuno pada tahun 1.500 SM. Masyarakat Mesir Kuno sering kali menggunakan kombinasi minyak hewani (seperti lemak sapi atau lemak kambing) atau minyak nabati (seperti minyak zaitun) dengan garam alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) yang secara tradisional diperoleh melalui pembakaran tumbuhan seperti arang kayu. Mereka melakukan itu dengan tujuan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit dan membersihkan badan. 

Proses pencampuran minyak dengan garam alkali dikenal dengan istilah saponifikasi. Istilah ini diambil dari bahasa latin yaitu “sapo” yang artinya soap atau sabun. Sapo merupakan nama sebuah gunung –ada juga yang menyebutnya bukit– dalam legenda Romawi Kuno. Tempat tersebut merupakan tempat yang biasanya menjadi tempat pemotongan hewan kurban dalam upacara ritual atau pemujaan terhadap dewa-dewi bangsa tersebut. Ketika hujan, sisa-sisa pembakaran lemak hewan itu bercampur abu kayu pembakaran dan mengalir menuruni tanah liat sepanjang perjalanannya menuju Sungai Tiber di bawah gunung. Tak diduga, saat masyarakat sekitar sungai sedang mencuci, mereka mendapati air tersebut mengeluarkan busa dan pakaian yang sedang dicuci mereka menjadi lebih bersih. Mereka mendapati bahwa campuran tanah liat, air, dan lemak hewan ini membuat cucian bisa menjadi lebih cepat bersih.

Dikutip langsung dari situs kecantikan ternama Sociolla, secara modern, arti saponifikasi sendiri merupakan proses pembuatan sabun dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali. Reaksi tersebut menghasilkan garam karbonil (sejenis sabun) dan gliserol (merupakan gugus alkohol). Pada masa ini, teknologi sabun telah berkembang pesat di pasaran. Jenis dan fungsinya pun bervariasi, mulai dari sabun mandi (body wash), sabun mencuci pakaian (detergen), sabun muka (facial wash) hingga sabun untuk membilas perabotan rumah tangga seperti piring, gelas, panci, dan lain-lain. 

Perkembangan Sabun Modern

Setelah penemuan yang tidak disengaja tersebut, sabun mulai berkembang secara pesat dan banyak diproduksi oleh bangsa-bangsa lain seperti Fenisia, Celt, Yunani dan China yang tentunya disertai dengan kekhasan modifikasinya masing-masing. Akibatnya, harga sabun melonjak tinggi dan menjadi sangat mahal seiring dengan banyaknya permintaan dan tingginya minat konsumen di pasar. Sabun saat itu dianggap sebagai komoditas mewah yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang berada dan kaum bangsawan tertentu saja. Keadaan tersebut diperparah dengan monopoli yang dilakukan di beberapa daerah tertentu sehingga membuat sabun semakin sulit untuk diperoleh dan dijangkau. 

Lalu, pada tahun 1791, seorang kimiawan berkebangsaan Perancis yang bernama Nicholas LeBlanc akhirnya berhasil menemukan proses reaksi kimia yang memungkinkan membuat sabun dengan bahan yang murah dan praktis. Produksi sabun yang mahal itu kemudian anjlok seketika. Bahkan beberapa orang secara mandiri memproduksi sabun baik digunakan untuk keperluan sendiri atau dijual kembali. Sejak saat itu, sabun mulai diproduksi secara komersial dalam skala yang besar dan dijual dengan harga yang sangat ekonomis ketimbang harga sebelumnya. Sabun pun menjadi komoditas sehari-hari yang bisa dijangkau dan digunakan masyarakat biasa untuk meningkatkan standar hidup bersih dan menjamin kesehatan khalayak ramai. 

Karena sabun batang lama-lama dipandang tidak efektif dan efisien jika digunakan untuk mencuci baju, maka hadirlah sabun dalam bentuk bubuk yang disebut deterjen. Deterjen bukan digunakan seperti sabun mandi pada umumnya, melainkan sabun yang khusus diperuntukkan untuk membersihkan pakaian dari kotoran dan noda yang menempel. Hadirnya sabun deterjen menjadi metode pembersihan yang lebih murah dan lebih efisien. Pembuatan deterjen dilakukan dengan menggunakan komponen yang sedikit berbeda daripada pembuatan sabun biasa. Salah satu bahan yang paling membedakan deterjen dengan sabun mandi biasa adalah surfaktan. Bahan kimia tersebut dinilai lebih efektif sebagai bahan pembersih dan pengangkat kotoran yang menempel di serat kain dibandingkan dengan menggunakan sabun mandi biasa.

Seiring dengan berkembangnya waktu dan kemajuan ilmu pengetahuan, masyarakat kalangan atas mulai menuntut bentuk sabun yang bisa dipakai untuk berendam. Awalnya, mereka hanya berendam dalam susu kambing atau kedelai yang diberi campuran madu serta minyak zaitun. Campuran tersebut dipercaya ampuh untuk membuat kulit menjadi lebih sehat, bercahaya, awet muda serta membantu mengembalikan keremajaan kulit. Namun, lama kelamaan mereka menyadari dan merasa bahwa kebiasaan ini cukup boros serta memakan waktu yang lama dan biaya yang tidak sedikit. 

Hanya orang-orang tertentu saja yang biasanya menggunakan metode berendam seperti ini secara terus-menerus. Misalnya seperti yang dilakoni oleh ratu legendaris asal Mesir, Cleopatra, yang terkenal dengan kecantikan dan kemolekannya. Ia memiliki ritual mandi susu yang cukup ekstrim. Untuk melakukan perawatan kecantikan mandi susu ini, Cleopatra sendiri disebutkan tidak tanggung-tanggung dalam usahanya. Bagaimana tidak? Sebagaimana yang diwartakan oleh Vintagenews, demi  menjaga vitalitas dan kecantikan kulitnya, Cleopatra secara teratur mandi dengan susu, tepatnya susu keledai. Tak main-main, untuk bisa berendam mandi susu setiap harinya, diperlukan setidaknya 700 ekor keledai yang digunakan untuk menyediakan susu yang cukup untuk mandi bagi seorang Cleopatra per harinya. 

Untuk menekan biaya dan menghemat waktu, sabun mulai diproduksi dalam bentuk cair dan mulai digunakan untuk berendam. Berbagai kandungan juga ditambahkan untuk memberi manfaat yang lebih lagi bagi kesehatan kulit seperti minyak zaitun, susu kambing, bengkoang, madu, dan masih banyak lagi. Selain untuk berendam, sabun cair juga bisa digunakan secara bersamaan dengan loofah yaitu spons alami yang terbuat dari buah tumbuhan yang dikeringkan. Penggunaan loofah dianggap efektif untuk membersihkan dan mengangkat sel kulit mati sehingga membuat kulit menjadi lebih cerah. Sekarang dengan semua kemudahan yang ada, semua orang bisa mandi dengan sabun apa saja yang tentunya harus disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing. 

Solusi Alam untuk Sabun yang Lebih Aman

Perlu diingat bahwa penggunaan sabun yang berlebihan juga dapat membahayakan kesehatan kulit. Hal ini dikarenakan sabun bersifat basa dan kulit kita bersifat asam. Mandi yang berlebihan juga dapat menghilangkan beberapa bakteri baik yang ada di kulit. Padahal bakteri tersebut berguna untuk menjaga kesehatan kulit agar bebas dari jerawat dan gangguan kulit lainnya. Oleh sebab itu, ada baiknya kita mengganti sabun mandi dengan sabun yang terbuat dari bahan-bahan yang lebih organik. Selain menjamin kesehatan kulit dan mencegah dari gangguan yang tidak diinginkan, sabun dari bahan organik juga lebih ramah lingkungan dan mudah terurai. Tentunya hal ini penting untuk menjadi pertimbangan, mengingat bagaimana bumi kita sudah masuk dalam tahap kekritisannya. Sabun ini juga aman digunakan bagi pemilik kulit sensitif tanpa memicu reaksi alergi apapun. Memang harga sabun jenis ini cenderung mahal dan belum banyak peminatnya. Tetapi, siapa yang dapat menjamin kesehatan kulit kita untuk kedepannya? Hitung-hitung, menggunakan produk yang murni dari alam dan  dijamin 100% aman untuk kulit merupakan investasi jangka panjang yang tidak akan kita sesali di kemudian hari. Tidak ada lagi alasan untuk malas mandi dan merawat kulit. Yuk mulai biasakan mandi 2x dalam sehari dengan sabun yang tepat agar kulit menjadi sehat, bersih, dan terawat. Mandi cantik jadi nyaman, bumi sehat juga jadi aman.

Penulis : Rosella Veltin

Editor : Dian Rahma Fika A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *