Hidden Figures: Kisah Emansipasi Kelompok Minoritas AS di Balik Misi Antariksa

Photo Credit: Hopper Stone/Hopper Stone, SMPSP - © TM & © 2017 Twentieth Century Fox Film Corporation. sumber: m.imdb.com

“Biarkan dia masuk ke rapat eksternal? Dia wanita. Tidak ada prosedur wanita yang bisa hadir”

Cuplikan percakapan di atas kiranya bisa menjadi gambaran bagaimana kisah dalam film Hidden Figures. Diproduksi dan didistribusikan oleh 20th Century Fox, film berdurasi 127 menit ini menjadi garapaan keempat sutradara Theodore Melfi. Hidden Figures pun menjadi booming di kala perilisannya, mendapat kritikan positif, masuk dalam jajaran film Box Office, hingga berhasil dinominasikan untuk 3 kategori penghargaan Oscar.

Hidden Figures berkisah mengenai tiga orang wanita kulit bewarna yang bekerja di divisi West Computing Group di NASA. Katherine Johnson, jenius dalam perhitungan geometri dan matematika, wanita kulit hitam pertama yang lulus dari West Virginia University Graduate School. Mary Jackson, jenius dalam perhitungan dan ingin menjadi insinyur roket di NASA. Lalu, Dorothy Vaughan, kepala divisi West Computing Group, divisi perhitungan dasar yang semua pegawainya adalah perempuan. Selain mengangkat isu rasisme, Hidden Figures juga menggambarkan bagaimana laki-laki mendominasi pekerjaan di NASA. Hanya ada satu pegawai perempuan dari puluhan pegawai laki-laki di divisi perhitungan lintang Space Task Group saat itu, serta rapat eksternal yang hanya boleh dihadiri oleh laki-laki.

Melihat bagaimana ketiga tokoh dunia tersebut mendapatkan haknya sebagai individu di dunia kerja, adalah murni dari kemampuan dan kinerja yang dimiliki para tokoh. Mungkin tanpa otak jenius dan tekad yang tinggi, Katherine Johnson selamanya hanya berada di divisi West Computing Group tanpa pernah merasakan mengawasi langsung proses pendaratan roket di ruang operasi dan menjadi bagian dari Space Task Group, yang semua pegawainya—lagi-lagi—adalah laki-laki. Sama seperti Katherine, Mary Jackson pun mungkin tidak akan menjadi mahasiswi insinyur pertama di Hampton High School, yang tidak menyediakan kurikulum untuk perempuan sekaligus orang kulit hitam. Sementara Dorothy Vaughan, berkat keberanian dan kesungguhannya diam-diam mempelajari IBM di saat semua orang sudah pulang kerja, ia pun menjadi supervisor IBM Afro-Amerika pertama di NASA.

Ketidakadilan serta cemoohan mewarnai jalan cerita Hidden Figures, menjadi makanan sehari-hari ketiga tokoh utamanya juga merupakan orang-orang kulit hitam, yang membuat mereka musti berlipat-lipat lebih tegar dan sabar. Diskriminasi ras dan gender di tempat kerja merupakan pengalaman yang tida menyenangkan. Beberapa orang barangkalo masih pernah merasakan ada pada posisi ketiga tokoh Hidden Figures, meski dalam berbagai versi. Mungkin bahkan kamu sendiri.

Melihat bagaimana perjuangan Katherine dan kawan-kawannya, membuat film biografi ini masih tetap layak dinikmati oleh masyarakat meski rilis tiga tahun lalu. Terlebih di tengah masih maraknya isu diskriminasi ras dan kesetaraan gender saat ini, sebagai upaya membangun awareness dan edukasi.

Penulis: Langgeng Irma Salugiasih

Editor: I. N. Ishlah

Redaktur Pelaksana: Annisa Qonita A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *