Memantau Perjalanan Tugumasa Undip Menuju Rektorat

Aksi kreatif mahasiswa Undip menyuarakan Tujuh Gugatan Mahasiswa pada Kamis (16/7). Foto: Fika/OPINI

Diskusi panjang oleh mahasiswa Undip yang berasal dari berbagai elemen sejak beberapa minggu lalu, dan telah dilanjutkan dengan aksi dan upaya audiensi, sampai kini belum terlihat mendapat tindak lanjut dari Rektor menyoal tujuh poin tuntutan yang disuarakan melalui Aliansi Suara Undip sepanjang bulan Juli ini.  

Keresahan yang dinilai memiliki urgensi tinggi menurut narahubung Aliansi Suara Undip yang kami wawancarai via LINE, terdapat pada poin tuntutan pertama yakni pemotongan biaya pendidikan semester gasal dan perpanjangan waktu pembayaran.

Aliansi Suara Undip mulai memantik mahasiswa untuk mengemukakan keresahan mereka dalam beberapa diskusi terbuka sejak 26 Juni lalu dan terus berlanjut hingga kini. Diskusi-diskusi ini kemudian dianalisis dan dipercayakan kepada Tim Kajian untuk dirasionalisasi lebih lanjut berlandaskan pada peraturan dari kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang dikomparasikan dengan kebijakan dari PTN-BH, hingga akhirnya lahir tujuh poin tuntutan yang disebut Tugumasa Undip (Tujuh Gugatan Mahasiswa). 

Gerakan ini terus berlanjut hingga diadakannya audiensi terbuka yang absen dihadiri Rektor, Prof. Yos Johan Utama, SH., M.Hum, pada Selasa (14/7) lalu. Ketidakhadiran Rektor pada hari itu akhirnya menggiring mahasiswa untuk melakukan aksi damai pada Kamis (16/7). Aksi yang semula direncanakan akan berlangsung di Widya Puraya itu harus terhalang perizinan, sehingga kemudian digelar di depan Bundaran Undip. 

Hal tersebut turut dibenarkan oleh Ketua BEM Undip, Hilmy Baihaqi yang ditemui selepas aksi, 

“Sebenarnya dari mahasiswa sudah coba melakukan langkah-langkah diplomasi etis formal, kita sudah mengajak audiensi, sudah mengajak bertemu tapi tidak ditanggapi. Bahkan perwakilan Prof. Yos satupun ga ada, jadi aksi ini hadir karena kita sudah jengah dengan tingkah Rektorat yang tidak mau bertemu dengan kami.” 

Bahkan melalui Wakil Ketua BEM Undip, Rochmah Rizqiyanti, diketahui bahwa Prof. Yos belum merespon undangan audiensi  hingga Senin malam (20/07). 

“Jadi kan, pas tanggal 14 Juli 2020 itu Mas Hilmy Ketua BEM Undip sama Edy Ketua SM Undip menyerahkan langsung surat undangan audiensi terbuka secara online kepada Prof Yos dan diterima Mba Anggi (sekretaris beliau).Di hari yang sama jam 11.33 WIB saya menanyakan via chat WA ke beliau, apakah surat sudah beliau terima atau belum. Tapi tidak dibalas. Setelah itu saya mendapat kabar dari Mas Hilmy kalau Mba Anggi sudah memberitahu bahwa Prof Yos tidak bisa bergabung. Ketika ditanya alasannya, jawaban Mba Anggi hanya ‘Saya hanya mengikuti arahan beliau,'” ungkap Anti saat dihubungi via Whatsapp (17/7).

Kemudian Anti juga menjelaskan bahwa Ia telah menghubungi kembali pada Jumat (17/7) untuk mengonfirmasi undangan audiensi kedua yang telah diserahkan ke Ajudan Rektor, namun hingga setidaknya Senin malam (20/7) belum kunjung mendapat tanggapan.

Meski hingga kini tindak lanjut dari pihak Rektorat terkait tuntutan mahasiswa masih terasa abu-abu, Aliansi Suara Undip masih sangat meyakini Tugumasa Undip dapat direalisasikan.

“Kita masih meyakini bahwa Rektorat Undip masih memiliki hati nurani dan mau mendengarkan aspirasi kita semua, walaupun pada kesempatan Selasa kemarin pihak Rektorat Undip tidak bisa hadir dalam audiensi terbuka,” terang Tim Kajian Aliansi Suara Undip. 

Melihat minimnya tanggapan birokrat kampus, menjadi pertanyaan kemudian mengenai keberlanjutan gerakan ini, akan terus digaungkan? Tim Kajian Aliansi Suara Undip menegaskan bahwa akan mengusahakan segala upaya untuk dapat membawa Tugumasa hingga ke Rektorat. “Tentunya segala upaya akan selalu dihadirkan oleh seluruh Aliansi Suara Undip untuk mencoba mengetuk pintu hati Rektorat Undip dengan harapan Tugumasa Undip dapat direalisasikan dengan baik.” jelas Tim Kajian lagi.  

Namun, harapan untuk merealisasikan Tugumasa Undip masih belum menemui titik aman. Senin (20/7), untuk yang kedua kalinya, birokrasi kampus belum terlihat memenuhi undangan audiensi terbuka yang diserahkan mahasiswa pada aksi damai di Bundaran Undip pada Kamis (16/7). Hal tersebut dikonfirmasi melalui Ketua Senat Mahasiswa Undip, Edy Hartanto yang berkesempatan mem-follow up bersama Aliansi ke Rektorat. 

“Berhubung hari ini saya juga ikut, tadi pagi sama teman-teman Aliansi diajak jadi saya hadir. Nah di situ kita tanyakan, berkaitan dengan surat apakah sudah ada tanggapan atau belum nah ternyata di jam yang sama ternyata di rektorat sedang ada rapat. Agenda dengan beberapa jajaran rektor sehingga ya tidak bisa. Atau bahkan ketika dikonfirmasi ke ajudan Prof. Yos sendiri belum ada respon,” jelas Edy saat dihubungi Senin malam (20/7). 

Menanggapi kejadian ini, mahasiswa Aliansi mengungkapkan kekecewaan mendalam mengingat bahwa undangan audiensi sudah diserahkan jauh hari namun tak kunjung ditanggapi. Meski demikian, berdasarkan kesepakatan forum Aliansi, diketahui akan ada aksi lanjutan yang sekaligus mengarah pada penguatan basis massa guna menunjukkan keseriusan dari tuntutan dan gerakan ini. 

Reporter: D. R. Fika Alnina, I. N. Ishlah

Penulis: I. N. Ishlah, D. R. Fika Alnina

Editor: D. R. Fika Alnina

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *