06/12/2021

Kartini, Emansipasi, dan Perempuan di Era Teknologi

Model perempuan berswafoto yang jadi model sebuah bus di tengah kerumunan perempuan berjalan di Tanah Abang, DKI Jakarta (12/7/2018). Emansipasi perempuan yang digagas Kartini kini memasuki babak baru di era digitalisasi teknologi. (Dita Suci/LPM OPINI).

LPM OPINI – Berbicara mengenai perempuan di Indonesia, sosok inspiratif yang menuntut emansipasi erat kaitannya dengan peran seorang Raden Ajeng (R.A.) Kartini. Emansipasi bertujuan agar wanita memperoleh hak dan kesempatan yang sama dalam segala bidang kehidupan dan diakui keilmuan yang dimilikinya, sehingga wanita tidak lagi direndahkan kedudukannya. 

Upaya emansipasi wanita yang dilakukan oleh Kartini telah dituliskannya dalam buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.  Buku ini sekaligus menjadi lambang semangat bagi wanita Indonesia dalam memperjuangkan hak-haknya. Bukti nyata lainnya dari perjuangan Kartini, yakni didirikannya sekolah gratis khusus wanita dengan nama Kartini School. Jasa-jasa Kartini merupakan bekal dasar bagi wanita di Indonesia guna meningkatkan pengetahuan dan wawasan serta menggali potensi diri sebagai usaha mewujudkan mimpi dan tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain.

Melalui emansipasi, wanita Indonesia dapat merasakan setara dengan kaum pria pada berbagai bidang kehidupan. Peran wanita bukan hanya berkutat pada urusan domestik semata, melainkan wanita sekarang telah memperoleh peluang untuk dapat melebarkan sayap dalam berkarier dan bersaing di kancah publik, dengan tetap memperhatikan perannya dalam keluarga sebagai ibu dan istri.

Dengan kata lain, wanita sudah dapat berkontribusi pada semua bidang masyarakat tanpa adanya diskriminasi pengotak-ngotakan pekerjaan, termasuk dalam ranah politik sekalipun. Hal ini ditegaskan pada Pasal 65 Ayat 1 Undang-Undang No. 2 Tahun 2008 Tentang Keterwakilan Perempuan Minimal 30% dalam Partai Politik yang sekaligus menjadi wujud nyata peran keterlibatan perempuan dalam ranah politik.

Kondisi wanita sekarang telah jauh lebih dinamis, cerdas, dan telah mampu menyejajarkan diri dengan pria. Bahkan wanita sekarang tidak hanya hadir sebagai pengikut,  lebih dari itu, mereka juga mampu menjadi pemimpin dan tampil sebagai pemikir, penganalisis, serta pengambil keputusan. Kemajuan dapat dilihat dari beragamnya profesi pekerjaan yang biasanya diduduki oleh kaum pria, kini telah banyak diduduki oleh perempuan juga seperti posisi direktur, menteri, hingga presiden.

Di era modernisasi, teknologi semakin tinggi penggunaannya. Peran wanita pun semakin terasa nyata dalam segmen ini, sebagaimana fungsi wanita yang “dianggap” menjadi tangan pertama untuk mendidik anaknya di dalam keluarga. Kemajuan teknologi yang tidak terbendung, terutama di tengah pandemi menambah beban wanita sebagai ibu yang harus mengarahkan anak-anaknya ketika melakukan pembelajaran secara daring dan bagaimana menanggapi penggunaan teknologi secara positif.

Belum lagi peran wanita sebagai pekerja di perusahaan kian penting dan dituntut untuk terus inovatif serta adaptif menghadapi perubahan yang ada di era industri 4.0. Akan tetapi, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di awal tahun 2018 justru menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan hanya sebesar 55,44%, sedangkan TPAK pria telah mencapai 83,01%.

Di sisi lain, masih terdapat kesenjangan kemampuan dan penguasaan teknologi informasi antara wanita dan kaum pria yang cukup besar. Mengutip data International Telecommunication Union (ITU), menunjukkan pengguna teknologi wanita lebih rendah sebesar 12% dari pada pria. Sebenarnya perempuan di Indonesia termasuk dalam pengguna internet yang aktif, tetapi literasi digitalnya masih rendah akibat kurangnya pelatihan serta latar belakang pendidikan yang masih rendah. 

Maka dari itu, wanita di masa sekarang harus dapat menjawab tuntutan teknologi dengan mengoptimalisasi daya guna, tetapi tetap bijaksana dalam pemanfaatannya. Apabila kemajuan teknologi di era industri 4.0 tidak dimanfaatkan dan digunakan sebagai usaha mengaktualisasikan diri menjadi lebih baik, hal ini akan berpengaruh pada menurunnya peran perempuan dalam pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Sebab hadirnya revolusi industri akan menjadi kesempatan yang menjanjikan bagi perempuan sebagai bagian dari peradaban dunia bila dikelola dengan baik.

Referensi: https://www.untan.ac.id/wanita-di-era-globalisasi-menuntut-emansipasi-namun-tidak-membuktikan-dirinya-layak-untuk-berkontribusi/

Penulis : Dhiya Alya 

Editor : Annisa Qonita

Redaktur Pelaksana : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *