Medan Senayan Patut Diklaim Jadi Penghelat Lomba Agustusan Terbaik Tahun Ini

Ilustrasi gedung DPR MPR RI Senayan (Source: Shutterstock.com)

LPM OPINI – Pagebluk yang tak kunjung surut membuat lomba-lomba agustusan yang sudah menjadi semacam pesta rakyat tahunan dari buruh hingga penguasa oligarki terpukul mundur. Kendati demikian, kompetisi akbar terselenggara sebagai lanjutan dari pertarungan yang belum usai antara rakyat melawan wakilnya menyoal RUU Cipta Kerja.

Demonstrasi yang terselenggara mulai 14 hingga 16 Agustus kemarin ini, dimulai dari depan gedung Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mulai pukul 10 pagi pada hari Jumat (14/8), dengan menggaungkan penolakan terhadap DPR yang bersikukuh melanjutkan pembahasan RUU Cilaka yang kini sudah tumpengan pergantian nama menjadi Omnibus Law Ciptaker di masa krisis pandemi dan reses.

Perlombaan yang mengiringi pidato kenegaraan presiden Joko Widodo di Senayan masih belum menemukan pemenangnya, meskipun sejatinya rakyat tidak akan pernah kalah. Dalam pertarungan itu, berhadapanlah rakyat yang berprajurit kalangan buruh, mahasiswa, aktivis, hingga gerakan-gerakan akar rumput dan akademisi, melawan pemerintah yang disinyalir dipenggawai oligarki yang bersekutu dengan golongan rakyat budak pendengung (buzzer), dan beberapa influencer.

Kendati ada survei yang menyatakan 52% rakyat Indonesia setuju, mereka belum bisa masuk dalam barisan pemerintah karena dalam survei lain, 83% rakyat Indonesia nyatanya tidak tahu rencana penerbitan Omnibus Law atau RUU Ciptaker dan 47% bahkan tidak tahu apa itu Omnibus Law. Terlebih survei SMRC yang menyatakan 52% masyarakat setuju dengan RUU Ciptaker dinilai salah satu akademisi UI, Dirga Ardiansa menggunakan cara penyajian survei yang bias dan metodologi yang tidak sesuai kaidah statistika.

Setelah beberapa waktu tak banyak muncul, ramai-ramai RUU Cipta Kerja ini kembali mencuat pasca aturan perundang-undangan yang rencananya akan merevisi 79 Undang-Undang dengan 1224 pasal, dan berorientasi pada percepatan investasi ini secara sah akan kembali ngebut dibahas dan diklaim sudah 75 persen rampung. Padahal RUU Cipta Kerja dinilai banyak praktisi masih prematur, merugikan buruh, serta instrumen-instrumen lingkungan hidup.  Polemik ini tentunya menjadi lumbung sambat banyak masyarakat setelah pemerintah mengesahkan RUU Minerba dan mengesahkan untuk menunda pembahasan RUU PKS. 

Kembali pada perlombaan di Senayan, genderang lomba ini semakin memanas tatkala seruan #TolakOmnibusLaw dilawan dengan tagar #IndonesiaButuhKerja dengan menggaet influencer ternama dengan bayaran berkisar sepuluh juta rupiah. Namun tak sampai situ, puncak perlombaan ini adalah yang mulia ketua DPR Puan Maharani yang enggan melambaikan bendera putih dengan tetap melanjutkan pembahasan RUU Cipta Kerja. Yah, namanya lomba siapa mau kalah, kan.

Akhir kata, demonstrasi yang dihelat di Senayan saat pandemi dan suasana perayaan kemerdekaan RI ke-75 ini patut menduduki chart paling pucuk soal lomba agustusan terbaik tahun ini, ditambah alpanya lomba-lomba konyol dan meriah penuh gengsi itu. Meskipun Ibu Ketua DPR sudah memposisikan dirinya seolah unggul di atas kertas dengan enggan menggubris tuntutan massa, tetapi perlombaan tetap belum menemukan pemenang. Satu yang pasti, rakyat tak pernah kalah dari wakilnya, sebab suara rakyat tak pernah sumbang. Semoga perlombaan ini membawa kemerdekaan.

Dirgahayu Indonesia! Semoga waras selalu.

Penulis : Luthfi Maulana

Editor: I. N. Ishlah

Redaktur Pelakana: Annisa Qonita A.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *