22/10/2021

Menilik Perjuangan Demokrasi di Korea Selatan Melalui Film 1987: When The Day Comes

Poster Film When The Day Comes (Sumber: hancinema.net)

Protect the constitution and overthrow the dictators!”

 

Judul Film    : 1987: When The Day Comes

Sutradara      : Jang Joon-Hwan

Penulis Naskah    : Kim Kyung-Chan dan Jang Joon-Hwan

Produser               : Jang Young-Hwan

Tanggal Rilis        : 27 Desember 2017

Durasi Film          : 2 jam 9 menit

Bahasa                   : Korea

Negara Asal           : Korea Selatan

 

Masih ingatkah tragedi 1998 yang pernah terjadi di Indonesia? Tragedi berdarah para mahasiswa untuk memperjuangkan demokrasi di Indonesia. Ternyata, tragedi serupa pernah dialami oleh Korea Selatan. Dikenal sebagai peristiwa June of Democratic Movement, massa menggelar aksi protes besar-besaran menuntut berakhirnya pemerintahan rezim militer diktator yang memimpin negeri ginseng tersebut.

Bermula dari tewasnya seorang aktivis pro-demokrasi mahasiswa Universitas Seoul, Park Jeong-Cheol (Yeo Jin-Goo) yang disiksa saat diinterogasi oleh Dewan Keamanan Anti-Komunis. Pemerintah sedang gencar memberantas kelompok pro demokrasi Kim Jeong-Nam yang anti terhadap pemerintahan Chun Doo-Hwan, presiden Korea Selatan masa itu, dengan dalih mereka merupakan kelompok pro-komunis. Komisaris Dewan Keamanan Anti-Komunis, Park Cheo-Won (Kim Yun-Seok), memerintahkan jasad Park Jeong Cheol segera dikremasi dengan alasan meninggal karena serangan jantung untuk menutupi hal ini.

Akan tetapi, perintah kremasi yang terkesan terburu-buru itu memancing kecurigaan jaksa Choi Hwan (Ha Jung-Woo) sehingga ia menolak memberikan izin kremasi dan memerintahkan jasad Park Jeong-Cheol untuk diautopsi. Berita tewasnya Park Jeong-Cheol saat diinterogasi sampai di telinga para jurnalis. Mereka segera mengkonfirmasinya kepada Dewan Keamanan Korea Selatan, tetapi fakta bahwa seorang mahasiswa berusia 21 tahun mengalami serangan jantung karena terkejut tidak memuaskan mereka ditambah pihak keluarga yang menyaksikan autopsi menyatakan bahwa Park Jeong-Cheol disiksa oleh polisi yang menginterogasinya.

Seorang jurnalis bernama Yoon Sang-Sam (Lee Hee-Jun) terus berusaha menggali kebenaran kematian Park Jeong-Cheol mendatangi dokter yang memeriksa di tempat kejadian dan menemukan fakta-fakta didukung bukti penyelidikan yang ditinggalkan jaksa Choi Hwan bertolak belakang dengan apa yang diungkapkan oleh pemerintah. Massa yang diliputi rasa penasaran terus mendesak kebenaran pada Dewan Keamanan Anti-Komunis, yang membuat Park Cheo-Won menempuh jalan pintas, yakni mengambinghitamkan dua polisi yang menginterogasi Park Jeong-Cheol sebagai pelaku utama yang bertanggung jawab atas kematiannya. Di lain sisi, Han Byeong Yong (Yu Hae-Jin), seorang sipir penjara yang menjadi informan antara para aktivis di dalam penjara dengan Kim Jung-Nam yang sedang bersembunyi di sebuah kuil. Han Byeong Yong kerap meminta keponakannya, Yeon-Hee (Kim Tae-Ri), untuk menyampaikan informasi ke Kim Jung-Nam agar bisa menghindari pemeriksaan identitas.

Jang Joon-Hwan juga menambahkan bumbu romantis dalam filmnya, yaitu Yeon-Hee menaruh perhatian kepada Lee Han-Yeol (Gang Dong-Won) yang menolongnya ketika terjadi kericuhan demonstrasi mahasiswa. Beberapa adegan romantis sepintas diselipkan sehingga menambahkan warna baru selain ketegangan yang melekat di sepanjang film. Sebagai mahasiswa baru, perasaan Yeon-Hee semakin melambung ketika ternyata Lee Han-Yeol adalah seniornya di Universitas Yonsei. Akan tetapi, fakta bahwa Lee Han-Yeol merupakan aktivis pro demokrasi membuat Yeon-Hee menghindarinya karena trauma sang ayah yang meninggal saat aksi protes Gwangju tahun 1980.

“Apakah kalian yang melakukan protes dapat mengubah dunia? Kapan hari itu akan tiba?” – Yeon-Hee.

Bagai sebuah keajaiban, dua polisi yang menjadi kambing hitam ditempatkan di lapas penjara yang sama. Salah satu polisi yang ditangkap mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya terjadi dalam turut andil tewasnya Park Jeong-Cheol. Sesuai prosedur kunjungan, kepala sipir mencatat seluruh percakapan tersebut. Isi percakapan tersebut merupakan kunci jawaban untuk melepaskan diri dari kediktatoran yang melanda negeri ini. Kewajiban yang mengikatnya sebagai kepala sipir membuatnya berada di ambang dilema, yakni memegang sumpahnya sebagai kepala sipir untuk merahasiakan isi percakapan tersebut atau membocorkannya demi lepas dari rezim ini.

Dewan Keamanan Anti-Komunis yang merasa cemas didesak oleh publik untuk segera menyampaikan kebenaran yang simpang siur terkait kematian Park Jeong-Cheol mulai bergerak menangkap beberapa oknum yang mengancam terbongkarnya kronologis kematian tersebut. Dengan mengatasnamakan pemberantasan komunis dan mata-mata Korea Utara, satu per satu mereka yang ingin mengungkapkan kebenaran mulai ditangkap dan disiksa untuk menangkap dalang dari gerakan pro demokrasi, Kim Jung-Nam. Kehilangan pekerjaan, disiksa mati-matian, hingga membawa keluarga sebagai ancaman merupakan hal lumrah yang harus dilakukan oleh Dewan Keamanan Anti-Komunis agar mereka buka mulut.

Satunya-satunya harapan yang membuat mereka bertahan dari siksaan yang diterima adalah rekan seperjuangan mereka tetap gigih mengungkap kebenaran yang sebenarnya. Pengorbanan mereka yang bertumpah darah merelakan nyawanya demi kebebasan negara merupakan puncak rakyat menahan diri dari kesewenang-wenangan yang ada dan tergerak untuk bersatu melepaskan negara dari rezim diktator.

Perilisan 1987: When The Day Comes memang sangat dinanti mengingat film ini digadang sebagai sekuel dari film A Taxi Driver (2017) yang mengisahkan salah satu peristiwa Gwangju Uprising 1980. Jang Joon-Hwan berhasil mengemas film 1987: When The Day Comes secara apik. Tokoh-tokoh diperagakan oleh para aktor papan atas yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya, berhasil memainkan emosi penonton. Tegang, sedih, dan marah bercampur menjadi satu saat menyaksikan film. Belum lagi, nuansa warna pada sinematografi film terkesan suram mewakilkan alur cerita yang menggambarkan suasana nanar dan keputusasaan tokoh yang lelah dengan rezim yang diktator.

Pengambilan adegan dibuat seakan film dokumenter yang mengajak penonton menikmati film dari sudut pandang orang ketiga tanpa adanya narator sehingga benar-benar mewakilkan setting latar film, tahun 1987. Di bagian akhir film, Jang Joon-Hwan tidak lupa menyelipkan potret real terlukanya Lee Han-Yeol, demonstrasi yang terjadi secara masif, dan pemakamannya sebagai penghormatan terhadap sosoknya, serta penjelasan lengkap hingga pemilihan umum presiden berhasil ditegakkan.

Alur yang diceritakan dengan cepat menyebabkan penonton sedikit bingung karena dapat terjadi lebih dari satu peristiwa di satu waktu dan ditambah tokoh-tokoh penting yang berada di dalamnya sangat banyak. Selain itu, beberapa peristiwa dan tokoh di dalam film tersebut memiliki kesinambungan dengan peristiwa lain, Gwangju Uprising yang terjadi pada tahun 1980, dapat menyebabkan penonton tidak memahami secara maksimal jalan cerita film ini. Pada dasarnya, film 1987 ini memiliki genre thriller sehingga tidak mengherankan banyak adegan kekerasan yang ditampilkan secara eksplisit.

Namun, terlepas dari kekurangan tersebut, film ini berhasil menyampaikan rasa nasionalisme, pantang menyerah, dan tidak takut untuk mengungkapkan kebenaran demi terlaksananya demokrasi yang memegang teguh konstitusi dalam kehidupan bernegara. Selain itu, sepintas tayangan di akhir film yang memperlihatkan potret real peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan sebuah memoriam bagi perjuangan para tokohnya sehingga penonton dapat menumbuhkan rasa hormat kepada mereka.

 

Penulis: Salsabila Febryanti

Editor: Langgeng Irma

Pemimpin Redaksi: Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *