
Kegiatan tahunan FISIP Ormawa Expo (Forex) kembali memperkenalkan mahasiswa baru kepada berbagai Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) dan Organisasi Mahasiswa (Ormawa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip). Melalui rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dari hari Selasa (19/08) hingga Kamis (21/08), masing-masing Ormawa di FISIP Undip diberikan kesempatan untuk membawakan nilai-nilai beserta keunikan tiap organisasi dengan harapan mampu menarik anggota dari mahasiswa baru angkatan 2025. Dengan venue yang lebih besar dari tahun lalu dan jangka waktu pelaksanaan yang cukup panjang, mahasiswa baru dapat mengunjungi booth tiap Ormawa secara antusias dengan sedikit masalah. Meskipun begitu, beberapa kendala dalam pelaksanaan Forex tahun 2025 perlu dijadikan acuan evaluasi untuk Forex ke depannya.
Mahasiswa Baru, Lingkungan Baru, Semangat Baru

Mengikuti tahun sebelumnya, kegiatan Forex merupakan bagian wajib dari Pendidikan karakter (Pendikar) dan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) FISIP Undip. Tidak hanya itu, mahasiswa baru wajib mengumpulkan stempel dengan berkeliling meminta kepada setiap Ormawa setelah menyelesaikan tugas atau pemaparan yang diberikan. Meskipun menggunakan sistem yang sama, Forex 2025 juga memiliki perbedaan terutama dalam penempatan acara yang berpindah ke lapangan basket FISIP Undip. Perubahan tersebut menjadi perhatian salah satu person in charge (PIC) booth Forum Keluarga Mahasiswa Muslim (FKMM), Ridho Izzudin ketika diwawancarai pihak LPM OPINI pada Kamis (21/08).
“Aku rasa kalau yang di sini (lapangan basket) itu lebih luas ya, kan kalau kemarin kan di antara dua gedung ya, Gedung B sama Gedung C, jadi akses jalannya itu lebih sempit, sementara di sini di tengah-tengah lapangan basket itu lebih luas,” paparnya.
Hal lain yang juga menjadi perbedaan dengan tahun lalu adalah perlunya tiap UPK untuk melakukan pementasan yang dapat memperkenalkan organisasi mereka dalam skala yang lebih signifikan.
“Sama teman-teman UPK dikasih kesempatan buat yang mau perform, yang mau tampil, itu kan bisa jadi salah satu cara buat nge-branding UPKnya juga ya, itu positif menurut saya,” lanjutnya.
Perubahan-perubahan tersebut membuahkan respon mahasiswa baru yang tergolong positif dan antusias dalam mengikuti kegiatan Forex 2025. Project Officer (PO) Forex 2025, Cynara Winarno menyebut beberapa mahasiswa baru telah tertarik mengikuti organisasi saat berlangsungnya kegiatan Forex.
“Antusiasme dari mahasiswa baru aku lihatnya mereka sangat antusias ya. Karena beberapa mahasiswa itu yang memang tertarik join ke organisasi. Bahkan mereka juga sudah tahu mau mengunjungi booth yang mana,” jelasnya.
Mahasiswa Baru Berhadapan dengan Berbagai Pilihan Ormawa

Forex sebagai kegiatan wajib bagi mahasiswa baru, memeroleh beberapa respon dari pesertanya. Dalam perspektif mahasiswa baru, kegiatan Forex sudah terbilang cukup baik untuk memperkenalkan Ormawa secara layak dan menarik. Antusiasme dan respon positif tersebut tercurahkan oleh salah satu mahasiswa baru Program Studi (Prodi) Administrasi Publik, Salma Nayla.
“Menarik sih, terus waktu datang ke lapangan juga, oh seru banget, rame banget gitu, udah cukup bagus, sepuluh persepuluh,” ungkapnya.
Sentimen tersebut juga dirasakan mahasiswa baru lain yakni Muhammad Rifqi dari Prodi Administrasi Publik.
“Lumayan baik dan ya seru sih overall rame, dan kakak-kakaknya asik juga,” ujar Rifqi.
Meskipun memperoleh pujian dari berbagai pihak, mahasiswa baru juga menyuarakan saran untuk Forex ke depannya. Salah satu saran yang diberikan berasal dari Habiburokhman mahasiswa baru Prodi Administrasi Publik.
“Menurut aku sih tendanya nanti bisa (lebih) besar biar gak panas, kalau bisa ditambahin kipas gitu,” responnya.
Evaluasi untuk Forex yang Lebih Baik ke Depannya

Kritik dan saran bagi Forex 2025 tidak hanya berkutat pada kesediaan tenda, melainkan dalam berbagai aspek seperti permasalahan yang berulang dari tahun lalu, kesiapan panitia, dan komunikasi antarpihak panitia dengan Ormawa-Ormawa. PIC booth FKMM, Ridho Izzudin, mengangkat permasalahan terkait stempel pada tahun lalu yang kembali terulang di Forex 2025.
“Mahasiswa di sini fokusnya lebih mendapatkan stempel, bukannya mengenali UPK atau Ormawa yang ada,” tegasnya.
Tidak hanya itu, komunikasi yang masih belum mampu berjalan secara maksimal antara pihak panitia dengan Ormawa juga menjadi sorotan. PIC booth Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hubungan Internasional, Pocut Nasywa, menyebut beberapa informasi kurang dikomunikasikan dengan baik oleh panitia.
“Banyak informasi-informasi mendadak yang panitia tuh suka ngasih ke kita gitu. Kayak tadi tuh H-10 menit baru dikasih tahu buat kita briefing, ternyata nggak jadi. harapannya sih untuk kasih informasi harus lebih jelas dan konkret,” urainya.
Tidak hanya itu, hujan deras yang mengguyur lokasi Forex 2025 pada Selasa (19/08) membuat panitia perlu membentuk penjadwalan ulang rangkaian acara. Hal ini mengakibatkan terdapat beberapa anggapan ketidaksiapan panitia dalam menanggulangi peristiwa mendadak seperti hujan. Cynara sendiri menyebut perlunya koordinasi berbagai pihak sebagai sebab belum terbentuknya rencana pengganti pada hari pertama.
“Keadaan yang tidak (bisa) diprediksi salah satunya hujan itu dari kami sendiri sebenarnya untuk menghadapinya kita menunggu koordinasi dari seluruh rangkaian yang terlibat di PKKMB dan Pendikar. Karena kalau semisal dari salah satu rundown ada yang berubah, itu akan mengubah seluruh rundown yang sudah kami rencanakan,” tanggapnya.
Meskipun memiliki berbagai evaluasi dalam pelaksanaannya, Pihak Forex terus berharap untuk kelancaran Forex ke depannya.
“Pesannya untuk Forex di tahun depan agar perencanaannya bisa lebih siap lagi, lebih lancar lagi agar eksekusi di hari-hari (pelaksanaan)nya lancar.” tutupnya.
Reporter: Taufiqurrahman Alfarisi, Davino Hernawan
Penulis: Taufiqurrahman Alfarisi
Editor: Kayla Fauziah
Pemimpin Redaksi: Kayla Fauziah



