Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) saat ini dihadapkan dengan dinamika baru terkait proses pembelajaran. Sejumlah sesi perkuliahan yang biasanya hanya terpusat di lingkungan fakultas, kini dialihkan ke beberapa lokasi di luar gedung utama, seperti di Muladi Dome dan Gedung Training Center. Kebijakan ini muncul sebagai respons meningkatnya jumlah mahasiswa serta keterbatasan ruang kelas yang semakin terasa setiap tahun ajaran.
Meskipun solusi telah diupayakan, mahasiswa masih mengeluhkan berbagai hal, mulai dari perpindahan lokasi ruang kelas dalam waktu singkat, kesulitan mobilitas bagi mereka yang tidak memiliki kendaraan, hingga belum optimalnya penggunaan fasilitas pendukung seperti bus FISIP. Kondisi ini menunjukkan kebijakan pemindahan ruang kelas memiliki konsekuensi nyata terhadap kelancaran kegiatan belajar, terutama terkait kebutuhan mobilisasi dalam waktu singkat dan keterbatasan sarana pendukung. Situasi tersebut turut menyoroti perlunya evaluasi terhadap penataan ruang dan sistem transportasi internal kampus agar mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah mahasiswa yang terus meningkat setiap tahun.
Keluh Kesah Mahasiswa: “Rasanya Belajar Sambil Mengejar Waktu”
Perpindahan ruang kelas di luar lingkungan FISIP nampaknya memberikan pengalaman yang dinilai kurang baik bagi sebagian mahasiswa. Salah seorang mahasiswa Administrasi Publik, Bernadetta Dara Pandu Pertiwi mengatakan beberapa mata kuliah yang kini harus dilaksanakan di luar fakultas, seperti di Muladi Dome dan Training Center menyulitkan bagi dirinya.
“Menyulitkannya adalah kita harus berpindah lokasi dalam waktu yang cepat. Kalau pengalaman aku, hari Rabu itu aku ada empat mata kuliah yang mengharuskan aku buat bolak-balik FISIP, Muladi Dome, dan juga Gedung Training Center, di mana jarak antar mata kuliah itu cuma 10 menit aja. Jadi, menurut aku menyulitkannya di situ, kita mobilisasinya harus terburu-buru, mengejar waktu, dan juga mengejar dosen karena kalau telat kita pasti akan ditegur,” jelas Dara saat diwawancarai LPM OPINI pada Kamis (30/10).
Solusi Penggunaan Bus FISIP yang Belum Menyentuh Akar Masalah

Salah satu langkah akademik untuk meminimalkan beban mobilitas mahasiswa adalah dengan menyediakan bus FISIP sebagai transportasi antarlokasi kuliah. Sayangnya, pengalaman beberapa teman Dara menunjukkan efektivitas bus masih jauh dari harapan.
“Aku cuman dengar cerita dari teman aku aja. Menurut aku sih mereka tetap kesusahan ya, karena buktinya kadang mereka masih terlambat juga kalau pakai bus itu karena busnya harus berhenti, muter dulu terus nanti nganter yang lain dulu. Kebanyakan akhirnya nebeng teman, karena kalau nunggu bus itu lama dan takut nggak keburu masuk kelas,” terangnya.
Minimnya jumlah unit bus FISIP turut memperparah kondisi, seperti mahasiswa yang harus menunggu lama, sedangkan perpindahan kelas seringkali hanya berjarak 10 menit. Bagi mahasiswa tanpa kendaraan pribadi, pilihan transportasi menjadi terbatas dan tidak praktis. Dara berpendapat bus FISIP masih kurang efektif karena jumlah unitnya yang terbatas.
“Unitnya (bus) nggak banyak, jadi kalau telat ya sudah. Nunggu lama lagi,” tambah Dara.
Minimnya armada dan rute yang tidak fleksibel membuat keberadaan bus FISIP belum cukup menyelesaikan perihal kebutuhan mobilitas mahasiswa, terutama ketika jeda antarmata kuliah sangat singkat. Dara menilai seharusnya fakultas juga perlu mempertimbangkan akses mobilitas mahasiswa yang memadai ketika membuat kebijakan perpindahan ruang kelas, terutama bagi yang tidak memiliki kendaraan pribadi.
“Fakultas harus lebih care. Perhatikan fasilitas yang ada dan bagaimana itu menunjang semua mahasiswa, bukan sebagian saja,” tutur Dara.
Tanggapan Birokrasi: Kapasitas Tak Mencukupi, FISIP Ambil Langkah Persebaran Kelas ke Gedung Lain
Menanggapi berbagai keluhan mahasiswa terkait persebaran ruang kelas, waktu perpindahan yang singkat, serta keterbatasan mobilisasi bagi yang tidak memiliki kendaraan, Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FISIP Undip, Rouli Manalu menegaskan bahwa penggunaan ruang kuliah di luar FISIP bukanlah keputusan tiba-tiba, melainkan hasil perhitungan kapasitas yang matang.
“Kita menggunakan ruangan di luar FISIP karena ruangannya terbatas dan jumlah mahasiswa yang terus bertambah di FISIP. Ini ada sekitar dua puluh ruangan, kita kali empat sesi, nggak bisa. Maka kita membutuhkan ruangan di luar,” tegas Uli saat diwawancarai LPM OPINI pada Kamis (10/11).
Uli juga menuturkan alternatif memperpanjang sesi perkuliahan hingga jam 21.00 WIB sudah pernah dicoba, namun mendapat protes dari orang tua mahasiswa terkait keamanan. Oleh karena itu, ia menuturkan solusi paling realistis adalah memanfaatkan ruang di luar kampus FISIP. Menurutnya, kebijakan tersebut bukan tanpa upaya, sebab setiap ruang yang dipinjam harus melalui proses perbaikan dan pengadaan fasilitas.
“Kita mencari kelas itu effort yang luar biasa. Bolak-balik ke Wadek II untuk bertanya ruangan mana yang tidak optimal pemakaiannya yang bisa kami pakai, dan ketika itu dikasih, tidak bisa langsung dipakai. Harus di-refurbish, butuh uang untuk mengecat, memperbaiki elektroniknya, mengangkat kursi, memasang panel. Kursi dan panel yang dipakai itu juga dari FISIP,” ungkap Uli.
Perihal kasus mahasiswa yang mendapat seluruh sesi perkuliahan di luar kampus FISIP, Uli menyebutkan hal tersebut terjadi karena keterlambatan mahasiswa dalam memilih Isian Rancangan Studi (IRS).
“Most likely adalah kelasnya dia memilih IRS yang terakhir. Kalau dia mau, boleh bernegosiasi dengan temannya atau datang ke kita nanti kita atur kelasnya seperti apa,” jelasnya.
Lebih jauh, Uli menegaskan bahwa kebijakan persebaran kelas adalah pilihan terbaik dari berbagai opsi yang semuanya tidak ideal. Disebutkannya bahwa keputusan tersebut ditempuh untuk memaksimalkan efisiensi dan memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan lancar meski lokasi kelas berada di luar fakultas. Dalam penjelasannya, ditekankannya juga bahwa setiap kebijakan yang diambil selalu mempertimbangkan kepentingan mahasiswa sebagai prioritas utama. Uli juga menjelaskan bahwa dengan persebaran kelas yang ada akan memberikan efisiensi dan dimanfaatkan untuk mengurangi potensi penumpukan jadwal, sehingga dinilai lebih baik dibandingkan opsi lainnya.
“Alternatif yang kita pilih itu jauh lebih baik daripada alternatif yang lain. Well-being dan best interest mahasiswa ketika membuat kebijakan perkuliahan itu menjadi pertimbangan utama,” lanjutnya.
Uli juga mengingatkan bahwa kondisi ini bersifat sementara hingga gedung baru atau tower Undip yang sedang digarap rampung. Ia menegaskan bahwa fakultas tetap melakukan upaya perbaikan sembari menunggu fasilitas tersebut dapat digunakan, sehingga mahasiswa tidak perlu khawatir situasi saat ini akan berlangsung permanen.
“Ini adalah kondisi sementara sebelum gedung itu dipakai. Bukan berarti kita berpangku tangan dan membiarkan kondisi ini. Dalam melihat bigger picture kepentingan bersama, sebenarnya itu adalah pengambilan keputusan yang bisa menguntungkan semua orang,” ungkapnya.
Kurang Optimalnya Penggunaan Bus FISIP sebagai sarana Penunjang Mobilisasi
Bus FISIP merupakan salah satu fasilitas yang diberikan pihak fakultas sebagai solusi untuk menjawab masalah mahasiswa yang terkendala mobilisasi. Terkait implementasi bus FISIP yang dinilai tidak sesuai harapan mahasiswa, Uli menegaskan pihak fakultas sudah menyiapkan jadwal keberangkatan. Dijelaskannya juga bahwa peraturan ini disusun agar operasional bus FISIP lebih tertib dan dapat diprediksi oleh mahasiswa.
“Kita sudah mengatur, 10 menit sebelum setiap kelas itu sudah harus standby dan berangkat,” jelas Uli.
Ia mengatakan penggunaan bus FISIP belum efektif karena pemanfaatannya tidak berjalan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan ketidakselarasan antara kebutuhan mahasiswa dan pemanfaatan layanan yang telah disediakan.
“Tapi lihat, sampai minggu keberapa bus itu dipakai. Jadi, kenapa bilang kesulitan untuk yang tidak punya kendaraan, itu kan tersedia busnya kok nggak dipakai?” lanjutnya.
Uli juga menegaskan dosen yang melangsungkan kelas di luar area FISIP tetap memberikan toleransi keterlambatan selama 20 hingga 30 menit sebelum kelas dimulai.
“Kalau memang niat ke kampus dan niat belajar, walaupun sudah telat sampai dengan 15 menit, kalian masih bisa masuk,” tambahnya.
Evaluasi Menyeluruh Jadi Harapan Mahasiswa
Di tengah ketidaknyamanan ini, mahasiswa berharap fakultas dapat melakukan evaluasi lebih mendalam mengenai kapasitas ruang dan distribusi kelas. Menurut Dara, persoalan perpindahan ruang kelas adalah tanda adanya “overlap kapasitas” di mana jumlah mahasiswa bertambah, tetapi ruang tidak bertambah sebanding.
“Fakultas harus bisa menyeimbangkan kapasitas ruang kelas FISIP dengan jumlah mahasiswa yang masuk. Jangan sampai mahasiswa yang lain dikorbankan harus pindah jauh hanya karena ruangan kurang,” tegas Dara.
Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi evaluasi bagi FISIP, terutama terkait fungsi pelayanan kepada mahasiswa dari segi keterjangkauan kelas dan kemudahan mobilisasi mahasiswa.
“Kita berharap ada lokasi kelas yang lebih terjangkau dan fasilitas yang benar-benar memperhatikan mahasiswa yang harus pakai transportasi umum.” tutup Dara.
Penulis: Asharia Putri
Editor: Aulia Retno
Pemimpin Redaksi: Kayla Fauziah




