ARTIKEL RISET

Artificial Intelligence (AI) Pada Mahasiswa: Ancaman atau Bantuan?

 

sumber foto: Fujitsu

 

Artificial Intelligence (AI) telah banyak digunakan oleh manusia di zaman digital. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) versi IV, kecerdasan buatan atau AI adalah kecerdasan (kemampuan berpikir, mengerti, dll.) yang ditunjukkan oleh mesin atau program komputer yang dirancang untuk meniru kecerdasan manusia, seperti mengambil keputusan, menyediakan dasar penalaran, dan karakteristik manusia lainnya. AI dapat memenuhi kebutuhan manusia di era digital ini.

Mengutip dari mspoweruser.com, sebanyak 50%–60% dari semua organisasi yang menggunakan AI merupakan imbas dari globalisasi. AI mengacu pada kemampuan mesin untuk menyimulasikan kecerdasan manusia, sehingga memungkinkan mereka untuk melakukan tugas yang membutuhkan kemampuan kognitif manusia seperti belajar, berpendapat, dan memecahkan masalah. Sistem AI dirancang untuk meniru proses pemikiran manusia dan dapat digunakan untuk mengotomatisasi tugas, membuat prediksi, dan memberikan wawasan. Contohnya dengan kemunculan ChatGPT, Gemini, dan Bing AI.

Kemajuan teknologi digital dan ilmu komputer membawa kita menuju era digitalisasi,  yaitu ketika mesin secara progresif dirancang dan dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam kaitannya dengan penggunaan etika AI, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sedang bekerja pada pengembangan kerangka kerja global dengan membimbing penggunaan dan aplikasi AI untuk memastikan penggunaan etis dari teknologi baru ini. Pengembangan kerja global ini harus mempertimbangkan banyak keuntungan, tetapi pada saat yang sama kita harus mengantisipasi risiko, penggunaan jahat, dan pembagian untuk menjamin hak asasi manusia dan martabat. 

 

AI: Revolusi Pembelajaran dan Peluang Emas bagi Mahasiswa

Salah satu implementasi AI dalam kehidupan manusia yang paling relevan di bidang pendidikan dapat dilihat dari kemunculan  e-learning, CT scan, dan sebagainya. AI dalam pembelajaran tatap muka dan lingkungan belajar cerdas, dan pembelajaran daring menggunakan e-learning, membuat proses pembelajaran otomatis dan personalisasi yang nyata berdasarkan pembelajaran adaptif, pembelajaran mesin, ontologi, teknologi semantik, pemrosesan bahasa alami atau pembelajaran mendalam. 

Zena Adi Pradita, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) jurusan Administrasi Publik angkatan 2023, mengungkapkan bahwa AI memiliki banyak manfaat bagi mahasiswa, dosen, dan juga institusi. Mulai dari meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, administratif, serta keamanan, AI membantu setiap pekerjaan mahasiswa, ketika diaplikasikan dengan bijak.

“Menurutku Kecerdasan Buatan (AI) punya banyak makna penting dalam kehidupan di kampus, baik bagi mahasiswa, dosen, maupun institusi. AI bisa digunakan untuk sistem pembelajaran yang lebih adaptif bagi dosen, dan membantu pekerjaan mahasiswa seperti penelitian, dan juga mendorong inovasi. Maraknya AI di kampus punya banyak manfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penelitian, efisiensi administratif, dan keamanan. Selain itu AI juga membantu setiap pekerjaan mahasiswa. Jadi, perlu untuk menggunakan AI dengan sebijak mungkin,” ucap Zena saat diwawancarai via WhatsApp oleh LPM OPINI pada Kamis (20/06).

Dengan menstimulasi cara kerja otak manusia, AI berperan sebagai alat untuk membantu pembelajaran mahasiswa, terutama dalam mencari sumber materi perkuliahan.

“Menurut saya AI  berguna untuk alat bantu yang meningkatkan efisiensi dan membantu pembelajaran seperti dalam mencari sumber-sumber materi dengan cepat,” ujar Intan Amalina Yusrin, seorang mahasiswi jurusan Akuntansi Undip 2023 via WhatsApp oleh LPM OPINI pada Kamis (20/06).

Rasya Aulia, selaku mahasiswa jurusan Kedokteran Umum Undip angkatan 2023 mengungkapkan bahwa AI membantunya dalam mempelajari teknologi canggih dan mengaplikasikannya, terutama di bidang kedokteran, serta sebagai fasilitas penunjang untuk melakukan penelitian.

“Yang saya rasakan adalah saya cukup terbantu dengan adanya artificial intelligence, seperti contohnya adalah ChatGPT. Dengan adanya ChatGPT memudahkan saya mendapatkan penjelasan serta jawaban yang lebih mendalam mengenai pemaparan materi yang diberikan dosen di kampus. Meskipun begitu, penggunaan artificial intelligence seperti ChatGPT juga memiliki risiko apabila tidak kita tidak bijaksana dalam penggunaannya. Contohnya, apabila mahasiswa terus menerus mengandalkan ChatGPT dalam proses belajar, dapat menyebabkan mahasiswa tersebut kehilangan kemampuan analisis kritis ketika menghadapi suatu pertanyaan terkait materi yang disampaikan dosen,” jelas Rasya.

“Selain itu, artificial intelligence memberi kesempatan dan peluang kepada saya sebagai mahasiswa untuk bisa mempelajari teknologi canggih dan pengaplikasiannya terutama di bidang kedokteran, seperti X-ray, CT scan, dan sebagainya. Selain itu, artificial intelligence juga dapat memfasilitasi saya dalam proses belajar terutama penelitian mutakhir yang berbasis teknologi,’’ lanjutnya.

Berbagai hal yang didapatkan dengan memanfaatkan AI, khususnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. AI juga sangat berguna untuk membantu penelitian mahasiswa dan melakukan inovasi. Akan tetapi, AI juga harus digunakan secara bijaksana sebab AI memiliki risiko dalam penggunaannya.

 

Penggunaan AI Bagi Mahasiswa: Ancaman atau Bantuan? 

AI telah memberikan dampak yang signifikan bagi kehidupan manusia, khususnya bagi mahasiswa. AI dituntut untuk siap membantu setiap pekerjaan mahasiswa. Zena mengungkapkan bahwa AI punya dampak positif seperti meningkatkan efisiensi, menghemat waktu, dan juga mendorong inovasi, serta penemuan baru. Selain memiliki dampak positif, AI juga memiliki dampak negatif. Dampak negatifnya seperti robot menggantikan pekerjaan manusia dan ketergantungan pada AI dapat mengurangi interaksi manusia dan menghambat pengembangan keterampilan manual dan berpikir kritis.

“Menurutku penggunaan Artificial Intelligence punya dampak positif dan negatif ya. Dampak positifnya, AI meningkatkan efisiensi, dan menghemat waktu, dan juga mendorong inovasi, serta penemuan baru. Tapi, dampak negatifnya robot menggantikan pekerjaan manusia dan ketergantungan pada AI dapat mengurangi interaksi manusia dan menghambat pengembangan keterampilan manual dan berpikir kritis,” tutur Zena.

Intan menambahkan bahwa AI memberikan kemudahan dalam proses belajar dan sangat bermanfaat karena pembelajaran jadi lebih efisien. Namun, dampak negatif ketergantungan AI dalam proses pembelajaran, yaitu menghasilkan informasi yang salah atau bahkan palsu. Selain itu, hal tersebut mengurangi kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis dan kreatif.

“AI memberikan kemudahan dalam proses belajar saya, bagi saya itu sangat bermanfaat karena pembelajaran jadi lebih efisien. AI mampu memberikan referensi sumber-sumber jurnal dan bacaan dengan cepat dan mudah. Namun, dampak negatif dari  ketergantungan AI dalam proses pembelajaran, bisa menghasilkan informasi yang salah atau bahkan palsu, mengurangi kemampuan mahasiswa dalam berpikir kritis dan kreatif. Positifnya AI dalam pembelajaran adalah meningkatkan aksesibilitas pendidikan, membantu dalam penelitian dan pengelolaan analisis data,”  ujar Intan.

Rasya juga mengatakan bahwa AI memiliki dampak negatif seperti ketergantungan dalam proses belajar, serta adanya risiko keamanan dan privasi. Hal ini dikarenakan AI sangat bergantung pada data dan pengumpulan informasi sehingga rawan akses pencurian terhadap data tersebut. Sedangkan dampak positifnya adalah membantu mahasiswa untuk menemukan informasi yang lebih mendalam terkait materi yang disampaikan dosen, serta dapat memperluas akses dan kualitas proses pembelajaran.

“Dampak negatifnya antara lain dapat menyebabkan mahasiswa ketergantungan artificial intelligence (seperti ChatGPT) dalam proses belajar mereka serta adanya risiko keamanan dan privasi karena AI sangat bergantung pada data dan pengumpulan informasi sehingga rawan akses pencurian terhadap data tersebut. Sedangkan dampak positifnya adalah membantu mahasiswa untuk menemukan informasi yang lebih mendalam terkait materi yang disampaikan dosen, serta dapat memperluas akses dan kualitas proses pembelajaran.” 

 

Strategi Mencegah Bahaya Penggunaan AI

Terdapat berbagai keuntungan ketika menggunakan AI dengan benar, tetapi hal ini harus dipisahkan dari risikonya. Misalnya, ketergantungan pada AI dapat menyebabkan kreativitas otak menurun serta adanya risiko keamanan dan privasi karena AI sangat bergantung pada data. 

Membatasi penerapan AI, menurut Rasya, merupakan pendekatan terbaik untuk menghindari risiko yang ada. Mahasiswa bisa menggunakan AI, namun baiknya mahasiswa harus berusaha untuk tidak menggunakannya terlalu sering. Sebaliknya, akan lebih baik jika mahasiswa dapat lebih mengandalkan kemampuan analitis saat melakukan pencarian informasi daripada terus-menerus bergantung pada respons yang diberikan oleh AI.

“Caranya adalah dengan membatasi penggunaan AI. Sebagai mahasiswa, kita boleh menggunakan AI namun diusahakan agar tidak terlalu sering, karena akan lebih baik apabila saat proses mencari informasi bisa kita lakukan dengan lebih mengandalkan kemampuan analisis kita daripada terus menerus bergantung pada jawaban yang diberikan AI,” tutupnya.

Kemajuan terkini dalam bidang teknologi  menjadi landasan untuk mengatasi tugas-tugas yang  menantang. Namun, kemajuan teknologi tersebut dapat meningkatkan resiko keamanan data dan melemahkan daya berpikir kritis manusia. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi risiko penggunaan AI dengan tepat guna memaksimalkan manfaatnya. Proses manajemen risiko yang ada di bidang pendidikan, seperti sistem perangkat lunak yang perlu mempertimbangkan secara spesifik AI, serta adanya regulasi terkait pemakaian AI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *