Keadilan (The Verdict): Dibalik Hukum, Ada Kuasa

(Sumber foto: Popline.id)

Di mana ada masyarakat, di situ ada hukum. Sebagai alat yang menakar baik dan buruknya perilaku manusia, hukum seharusnya mampu menjadi sarana keadilan. Akan tetapi dalam praktiknya, hukum terkadang tidak sepenuhnya netral karena seringkali bergantung dengan mereka yang memiliki kuasa. Realita inilah yang membuat hukum terasa tumpul ke atas dan tajam ke bawah, mereka yang tak berkuasa seringkali menjadi korban dari sebuah sistem yang seharusnya melindungi masyarakat kecil dari ketidakadilan.

Keadilan (The Verdict) merupakan film kolaborasi antarsutradara asal Indonesia, Yusron Fuadi dengan sutradara asal Korea Selatan, Lee Chang-hee. Melalui pemikiran kedua sutradara, film ini berusaha mengangkat kondisi praktik hukum yang rentan menjadi bahan manipulasi untuk menentukan nasib seseorang agar sesuai dengan keinginan pihak yang lebih berkuasa. 

Kisah diawali oleh seorang satpam pengadilan bernama Raka (Rio Dewanto) yang sedang mengawasi sidang putusan seorang remaja bernama Sadam (Rafly Altama Putra) dengan dugaan melakukan penganiayaan hingga korban menderita luka parah. Namun, Sadam berhasil lolos dari tuntutan berkat pembelaan pengacara licik bernama Timo (Reza Rahadian), yang menggunakan alibi gangguan kejiwaan. Alasan tersebut menjadi celah yang membebaskannya dari ancaman hukuman berat. Raka menyaksikan seluruh persidangan dalam diam karena dirinya sadar bahwa pihak penuntut atau korban merupakan rakyat biasa dengan kemampuan ekonomi menengah ke bawah. Sentimen ini diperparah dengan tragedi yang serupa menimpa Raka. Istrinya, Nina (Niken Anjani) menjadi korban pembunuhan oleh seorang anak konglomerat bernama Dika (Elang El Gibran). Raka yang tak memiliki kuasa untuk memperjuangkan keadilan mendiang istri di meja hijau pun memilih untuk meraih keadilan dengan caranya sendiri.

 

Pengorbanan Demi Keadilan

(Sumber foto: Tix.id)

Kebenaran mengenai kematian Nina terbungkam di persidangan pertama karena adanya kesaksian palsu dan koordinasi rahasia antara pengacara dan jaksa. Raka yang sudah muak dengan pemandangan tersebut pun mengambil cara yang ekstrem untuk memperoleh suara dalam persidangan. Pada persidangan terakhir, Raka menyambut dan menyandera semua pihak di dalam ruang persidangan dengan senjata api di tangan dan bom di sudut-sudut gedung Pengadilan Negeri Metropolitan. Sang suami korban pun mengajukan permohonan untuk melakukan persidangan ulang sebagai syarat untuk membebaskan pengunjung sidang sekaligus menyatakan penyerahan diri atas pelanggaran dalam sidang pengadilan seusai putusan akhir ditetapkan. 

Setelah permohonan disetujui, sidang pun berlangsung panjang dan penuh interupsi dari pihak Kepolisian, hanya Raka dan para pihak yang terlibat dalam perkara termasuk Timo yang kembali hadir menjadi pengacara terdakwa yang berada di dalam ruang sidang. Selama sidang berlangsung, Raka dan Timo beradu argumen dengan sengit, bukti-bukti dan pernyataan palsu dari Timo tidak melemahkan kegigihan Raka yang ingin menguak kebenaran atas kematian istrinya.

 

Visualisasi Praktik Hukum dalam Bingkai Sinema

(Sumber foto: Kompas.id)

Film dengan durasi 1 jam 40 menit ini berhasil menggambarkan rangkaian persidangan dan realitas implementasi sistem hukum serta ketimpangan sosial di dalamnya. Membuat penonton mudah merasa terepresentasikan dan terhubung dengan situasi mengingat bagaimana janggalnya penerapan hukum terutama dalam konteks sistem hukum di Indonesia yang masih sering menimbulkan kontroversi.

Dari segi penyajian, Keadilan (The Verdict) mengemas dialog dalam bentuk semi-formal untuk memberikan kesan natural, tetapi tidak kehilangan nuansa formal persidangan. Penokohan dalam film ini juga menjadi salah satu keunggulan, terutama pada karakter utamanya. Rio Dewanto dan Reza Rahadian kembali membuat penonton terpukau dengan akting yang spektakuler, peran keduanya mampu menciptakan ketegangan yang terlihat natural, menimbulkan rasa kagum terhadap Raka sekaligus kekesalan terhadap Timo.

Tidak hanya dari segi keaktorannya, film yang berhasil debut di Fantasia International Film Festival Montreal, Kanada pada tahun 2025 ini memanfaatkan unsur mise-en-scène untuk memperkuat penyampaian makna secara visual tanpa bergantung pada dialog. Melalui properti persidangan yang detail, serta perbedaan kostum antar karakter yang merefleksikan kelas sosial, film ini mampu membangun pemahaman terhadap posisi masing-masing tokoh tanpa penjelasan verbal, lalu blocking actor dan camera angle yang menggambarkan dominasi antar tokoh. Pengolahan elemen audio dalam film ini juga tidak kalah baik, penggunaan sound effect mendukung dan memperjelas suasana setiap adegan dalam film, dari menggemanya ketukan palu hakim, riuh rendah ruang sidang, hingga momen hening yang sengaja dipertahankan untuk menciptakan suasana yang penuh ketegangan.

Pada akhirnya, film Keadilan (The Verdict) ini merupakan salah satu film dengan latar persidangan yang digarap dengan baik dari segi konflik maupun unsur artistiknya. Dari film ini kita belajar bahwa hukum bukanlah sesuatu yang sungguh netral, melainkan dapat dibentuk, diarahkan, bahkan dimanipulasi untuk keuntungan pihak tertentu. Namun, di tengah sistem yang mudah direkayasa ini, masih ada ruang bagi kita untuk melawan dan mengusung kebenaran serta menegakkan keadilan.

 

 

Penulis: Yasinta Alicyagrace

Editor:  Taufiqurrahman Alfarisi

Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *