Menapaki Jalan Menuju Kemenangan: Perjalanan Mahasiswa FISIP Undip Menjadi Juara Mawapres

Ainun Rahimah Iskandar, Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2023 Peraih Juara 1 Mahasiswa Berprestasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (UNDIP) (Sumber: Dokumentasi yang diunggah melalui akun Instagram @itsainunisk)

Mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2023, Ainun Rahimah Iskandar, berhasil meraih Juara 1 Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) tahun 2026. Pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat fakultas yang digelar 16 Februari 2026, Ainun unggul atas dua kandidat terbaik lainnya berkat dedikasi, pengalaman organisasi, dan kapasitas dirinya.

 

Langkah Awal Perjalanan

Ainun Rahimah Iskandar, Peraih Silver Medal Lomba Indonesia Investors Day World Young Investors Exhibition (WINTEX) (Sumber: Dokumentasi yang diunggah melalui akun Instagram @itsainunisk)

Ketertarikan Ainun mengikuti ajang ini bermula dari rasa ingin tahu yang kuat mengenai kapasitas dirinya dan seberapa bergengsi ajang Pilmapres tersebut. Berbekal latar belakang sederhana dan satu sertifikat internasional dari perlombaan Indonesia Inventors Day 2025, ia memberanikan diri untuk mendaftar. 

“Aku pengen ngeliat bagaimana, sih, fakultas terutamanya mereka yang nanti bakal jadi juri menilai pencapaian-pencapaian yang emang udah aku siapin dari semester 2,” ujar Ainun saat diwawancarai oleh OPINI pada Selasa (17/03).

Dengan latar belakang sederhana hanya bermodalkan satu sertifikat tingkat internasional dari lomba bernama Indonesia Inventors Day 2025 yang melibatkan 24 negara, Ainun memberanikan diri untuk mendaftar. Keputusan yang dipilih Ainun berdasarkan pada keinginan untuk memahami proses dan pencapaian selama menduduki bangku perkuliahan. 

I want to know (aku ingin tahu) sebenarnya sebergengsi apa, sih, event ini sampai teman-teman aku yang aku tahu ambisius banget tuh ngejar-ngejar title Mawapres,” jelas Ainun.

 

Antara Ambisi dan Penerimaan Diri

Bagi Ainun, tantangan terbesar dalam mengikuti ajang Pilmapres justru datang dari dirinya sendiri. Ia mengaku memiliki ekspektasi tinggi terhadap setiap pencapaian yang ingin diraih. 

“Aku tuh punya ekspektasi yang tinggi, bisa dibilang aku tuh always want to achieve something big (selalu ingin mencapai sesuatu yang besar),” ungkap Ainun.

Namun, seiring berjalannya waktu, Ainun mulai mengubah cara pandangnya. Baginya, menjalani proses dengan maksimal jauh lebih penting dibanding terus menekan diri untuk selalu menjadi pemenang. 

“Aku tetap kerjain semuanya dengan penuh niat. Jadi, gak perlu terlalu kayak nge-push diri kamu untuk jadi winner (pemenang),” tutur Ainun.

Kesadaran tersebut mendorong Ainun untuk lebih fokus mengembangkan potensi diri melalui berbagai pengalaman, mulai dari mengikuti lomba, terlibat dalam kegiatan volunteer (sukarelawan), hingga menjadi pembicara di sejumlah acara.  

 

Kejutan Menjelang Hari Penentuan

Momen yang paling membekas bagi Ainun, yaitu saat mendekati penilaian presentasi Mawapres. Tiga hari sebelum penilaian presentasi, Ainun berencana meminta bantuan kepada dosen pembimbingnya untuk melakukan review presentasi akhir. Namun, kabar mengejutkan datang bahwa dosen pembimbingnya ditetapkan sebagai juri Pilmapres, sehingga ia tidak dapat mendampingi Ainun dengan alasan kode etik.

“Aku udah bikin janji dengan salah satu dosen pembimbing aku dan dia mengiyakan, tiba-tiba di tengah-tengah dia bilang Ainun aku minta maaf aku ga bisa ngelanjutin bimbingan sama kamu lagi, karena surat juri udah turun,” ujarnya.

Kondisi tersebut sempat membuat Ainun tertekan, karena persentase penilaian presentasi salah satu komponen terbesar di ajang Pilmapres. Terlebih lagi hal tersebut menjadi kesempatan bagi Ainun untuk memaparkan karya dan gagasan miliknya.

“Aku nangis dan aku sebenernya mau tau bagaimana presentasi aku, karena presentasi aku bakal menggambarkan karya yang aku buat dan akhirnya aku latihan sendiri. Dua dosen pembimbing aku sama-sama jadi juri.” lanjutnya.

 

Proses Seleksi Mawapres

Pada kompetisi Pilmapres terdapat penilaian Mawapres yang menguji peserta melalui berbagai komponen. Hal yang paling utama tentunya kemampuan akademik, dilanjut dengan penilaian gagasan kreatif, kemampuan berbahasa Inggris, dan Capaian Unggulan (CU).

“Buat penilaiannya jadi 35% untuk gagasan kreatif, 35% mengambil dari capaian unggulan. Tiga puluh persen yang terakhir ini bahasa Inggris,” ungkapnya.

Terdapat tujuh kategori dalam penilaian capaian unggulan, yaitu kompetisi, pengakuan resmi, profesi, wirausaha, karya kreatif, organisasi dan kepemimpinan, serta aksi kemanusian.

“Segala hal yang udah kamu lakuin dari semester satu sampai semester kamu mengikuti Pilmapres, itu ada tujuh kategori dari mulai kompetisi, hak cipta, penghargaan, volunteer, ada bisnis, praktisi, sama organisasi,” tambah Ainun.

Menurut Kholidil Amin, dosen Ilmu Komunikasi FISIP yang menjadi salah satu pembimbing Ainun, mengatakan bahwa proses seleksi Mawapres menghadirkan tantangan tersendiri. Salah satu persoalan yang sering dihadapi adalah kemampuan dalam bahasa Inggris, selain itu saat penyusunan dan merapikan portofolio juga memerlukan waktu yang sedikit lama, terutama bagi mahasiswa yang memiliki banyak prestasi dan pengalaman organisasi.

“Dari bahasa Inggris memang beberapa dari mereka struggle, tapi beberapa sudah sangat unggul dalam bahasa Inggris. Yang mungkin saya rasa bisa jadi tantangan bagi individunya adalah merapikan portofolio. Itu juga bisa jadi cukup menguras waktu,’’ jelas Kholidil saat diwawancarai oleh OPINI pada Jumat (13/03).

 

Komitmen Sebagai Kunci 

Ainun Rahimah Iskandar dalam Meeting of the International Association of Children’s Organization di Rusia. (Sumber: Dokumentasi yang diunggah melalui akun Instagram @itsainunisk)

Seleksi Pilmapres tidak hanya menilai satu aspek tertentu. Peserta dihadapkan pada tiga sub kompetensi utama, sekaligus penilaian menyeluruh terhadap kepribadian, latar belakang, dan pengalaman yang mereka miliki. 

Di tengah kompleksitas seleksi, Ainun berpegang pada prinsip untuk selalu menuntaskan apa yang telah dimulai dengan maksimal. Prinsip tersebut juga ia terapkan selama aktif berorganisasi dan mengikuti berbagai kegiatan. 

“Aku tuh akan selalu menuntaskan apa yang aku kerjakan. Kalau aku udah komitmen masuk organisasi,” ucap Ainun.

Selain komitmen, dukungan lingkungan pertemanan dan dosen pembimbing turut menjadi sumber dorongan emosional selama proses Pilmapres berlangsung. 

“Aku beruntungnya itu punya dosen pembimbing yang baik yang juga selalu kasih afirmasi positif. Aku suka banget sama afirmasi dan manifesting,” pungkas Ainun.

 

Peran Krusial di Balik Layar Pilmapres

Peran dosen pembimbing menjadi faktor penting dalam ajang Pilmapres, terutama dalam mendampingi peserta menghadapi tekanan selama proses seleksi berlangsung. Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa arahan teknis, tetapi juga penguatan mental dan pengembangan gagasan kreatif.

Kholidil menjelaskan bahwa setiap peserta Mawapres harus memiliki gagasan kreatif berupa ide konkret yang dapat diimplementasikan. Ia mendampingi Ainun dalam menyusun gagasan kreatif dari segi visibilitas dan koherensi.

“Kenapa kemudian ada dosen pembimbing gagasan kreatif, karena salah satu syarat di Mawapres itu seorang Mawapres harus memiliki gagasan. Kira-kira ide apa, sih, yang mau dia bawa sebagai seorang Mawapres,” ungkapnya.

Ainun meyakini bahwa memilih Kholidil sebagai dosen pembimbing merupakan keputusan yang tepat karena kedekatan akademik yang terjalin memudahkan komunikasi dan pengembangan potensi. Kholidil pun memberikan berbagai masukan terkait ide dan pengembangan gagasan kreatif agar isu yang diangkat tetap relevan serta didukung data yang valid. 

“Kalau kamu punya kesulitan, silahkan disampaikan kepada dosen pembimbing atau kepada tim PIC (Person In Charge) Mawapres di fakultas, untuk kira-kira apa yang bisa kita bantu. Sesederhana, misalnya, kita bantu ke mahasiswa untuk kemudian bisa membuat video persiapan Mawapres. Itu kita fasilitasi,” jelas Kholidil.

 

Dari Keraguan Menuju Kesempatan

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu, karena setiap pengalaman memiliki nilai dan manfaat tersendiri. Justru rasa takut tertinggal dan kekhawatiran terhadap hasil menjadi penghalang terbesar untuk berkembang.

Ainun berpesan kepada mahasiswa yang ingin mencoba mengikuti ajang Pilmapres agar tidak merasa terlambat meskipun berada di semester akhir. Menurutnya, keberanian untuk memulai dapat membuka banyak peluang baru. 

Jadi ya guys, jangan pernah merasa kalian telat untuk melakukan sesuatu. Karena kelak semua yang kalian lakukan itu bakalan ada manfaatnya buat kalian. Every path you make is actually going to open a door. You don’t know when the door is going to be in front of you, tapi it will be there (Setiap jalan yang kamu ambil sebenarnya akan membuka sebuah pintu. Kamu tidak tahu kapan pintu itu akan muncul di hadapanmu, tapi pintu itu pasti akan ada).” tutupnya. 

 

 

Penulis: Niemas Aulia

Editor: Kayla Fauziah

Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *