Blokade kala Semarang Menggugat: Tuntut Pantura di Tugu Muda

Massa aksi membentangkan spanduk berisi tuntutan di kawasan Tugu Muda, Semarang (Sumber foto: Moh. Arif Maulana Azmi)

Mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Semarang Raya (SERA) kembali turun ke jalan, tepatnya di sepanjang Jalan Pemuda, pada Rabu (26/8). Membawa tajuk “Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) Jilid 2”, aksi yang menargetkan kawasan Tugu Muda ini tidak berjalan mulus. Laju mahasiswa sempat diadang oleh barikade kepolisian di depan area DP Mall.

 

Lima Tuntutan Kembali Disuarakan dengan Tambahan Urgensi Bencana

Perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Semarang menyampaikan orasi (Sumber foto: Moh Arif Maulana Azmi)

Aksi unjuk rasa pada Rabu (26/8) ini mengangkat kembali lima poin Pantura yang sebelumnya telah disuarakan pada aksi jilid pertama, (Senin, 24 Agustus 2026). Namun, massa tidak sekadar mengulang isu nasional tersebut, tetapi juga menambahkan urgensi baru berupa desakan penyelesaian konflik dan pertanggungjawaban atas wilayah yang terdampak bencana. Lima tuntutan tersebut adalah:

  1. Turunkan harga bahan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM)
  2. Kembalikan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) ke fungsi utama masing-masing lembaga
  3. Evaluasi total program Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan hentikan program Koperasi Desa Merah Putih
  4. Kembalikan kepemilikan tanah rakyat dan revitalisasi segera wilayah terdampak bencana
  5. Hentikan praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintahan

Koordinator lapangan (Korlap) dari Aliansi BEM SERA, Fadhil, menegaskan bahwa pemerintah belum menunjukkan itikad untuk menindaklanjuti tuntutan yang telah disuarakan sejak aksi Pantura jilid pertama.

“Sepertinya tidak ada perubahan atau penyelesaian apapun dari pemerintah, maka kami dari Aliansi BEM SERA mengangkat kembali lima poin yang saat ini masih relevan,” ungkapnya.

 

Pengadangan dan Negosiasi Alot di Tugu Muda

Massa aksi Pantura Jilid 2 berhadapan dengan aparat kepolisian (Sumber foto: Moh Arif Maulana Azmi)

Langkah massa Aliansi BEM SERA untuk menggelar aksi simbolik di kawasan Tugu Muda sempat terhenti. Tepat di depan DP Mall, aparat kepolisian telah memasang barikade berlapis dengan menerjunkan tim negosiator Polisi Wanita (Polwan) di barisan terdepan. Kondisi tersebut berujung pada ketegangan dan perdebatan antara massa aksi dengan pihak keamanan.

Massa aksi merasa kecewa lantaran mereka telah mematuhi prosedur administrasi dengan mengirimkan surat pemberitahuan aksi jauh hari sebelumnya.

“Surat pemberitahuan ada di Tugu Muda. Dari Polsek (sudah disampaikan), bahwa kami akan di Tugu Muda. Kenapa ditahan di sini? Kalau ditahan, malah memantik amarah (massa),” protes salah satu perwakilan massa aksi saat berhadapan dengan barikade polisi. Ia menegaskan bahwa mahasiswa telah menyiapkan skema damai dan hanya ingin melakukan aksi simbolik.

Menanggapi protes tersebut, pihak negosiator kepolisian berargumen bahwa pengadangan dilakukan demi alasan ketertiban.

“Kan ada tempat-tempat yang memang kita tidak boleh (tutup) juga… Yang pertama takut ngerusak fasilitas, yang kedua (akan) mengganggu aktivitas masyarakat,” jelas salah satu negosiator aparat di lapangan.

Namun, taktik ini justru dipandang sinis oleh mahasiswa. Proses dialog yang berlarut-larut tanpa titik temu dinilai sebagai strategi aparat untuk mengulur waktu. 

“Kami disajikan oleh bentuk-bentuk negosiasi yang tidak memiliki satu bentuk esensi sama sekali, hanya menahan waktu sehingga kami tertahan di sini lama,” sesal Fadhil. Menurutnya, polisi melakukan pengadangan tanpa dasar hukum yang jelas dan sekadar beralasan bahwa aksi mahasiswa akan memicu kemacetan di pusat kota.

 

Penyampaian Aspirasi di Tengah Blokade Aparat

Kumpulan mahasiswa membawa spanduk berisi kritikan saat aksi Pantura Jilid 2 (Sumber foto: Moh Arif Maulana Azmi)

Di tengah pengadangan aparat dan proses negosiasi yang berlangsung panjang, massa aksi tetap berupaya menyampaikan aspirasi di bundaran Tugu Muda. Semangat para demonstran untuk menyuarakan Pantura membuat mereka tetap bertahan dan tidak mengurungkan niat untuk menggelar aksi, sekaligus terus mendorong pemerintah agar memberi perhatian terhadap tuntutan yang diusung.

Fadhil juga menegaskan bahwa tujuan massa sejak awal adalah menyampaikan aspirasi secara damai tanpa mengganggu aktivitas masyarakat.

“Padahal kami hari ini hanya ingin berorasi dan menyampaikan kampanye di bundaran Tugu Muda. Tidak ada satu bentuk hal-hal lain yang ingin kami sampaikan dan kami sudah menyiapkan skema-skema agar tidak terjadi kemacetan yang parah,” tegas Fadhil.

Sikap tersebut menunjukan bahwa pengadangan aparat tidak menyurutkan semangat massa untuk terus menyuarakan tuntutannya. Fadhil juga mengatakan bahwa tetap ada kemungkinan untuk kembali menggelar aksi apabila tuntutan yang dibawa pada aksi “Pantura Jilid 2“ ini belum mendapatkan respons dari pemerintah.

“Sepertinya akan ada aksi lanjutan entah dalam waktu dekat.” tutupnya.

 

 

Reporter: Moh. Arif Maulana Azmi, Baruna Lazuardi, Musyaffa Afif, Afifah Dinda Pratiwi, Tampi Anjani, Anisah Budi Windarti, Dafan Mahendra, Sundari Kasih

Penulis: Yasinta Alicyagrace, Amadea Kalila, Dafan Mahendra

Editor: Kayla Fauziah

Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *