Tunggu Aku Sukses Nanti: Kritik Sosial yang Dibalut Film Layar Lebar

Sumber foto: IDN Times

Tunggu Aku Sukses Nanti, sebuah film layar lebar pendatang yang berhasil  menggemparkan media sosial. Selain diisi oleh nama-nama artis ternama, film ini juga mempunyai plot yang erat dengan generasi negara ini. Larisnya film ini terbukti dengan berrhasil meraih 250 ribu penonton dalam waktu empat hari sejak penayangan perdana pada 19 Maret 2026 (Rahmat, 2026), ditambah mendapatkan rating 9,7/10 dari Tix.id.

Film ini sendiri mengisahkan seorang laki-laki berumur 28 tahun yang berjuang untuk menuju suatu kesuksesan. Arga (diperankan oleh Ardit Erwandha) dikisahkan menganggur selama tiga tahun dan sedang berupaya mencari pekerjaan. Tidak hanya itu, Arga juga merupakan bagian dari sandwich generation yang perlu menjadi tulang punggung keluarga. Dengan premis tersebut, film mampu menggambarkan problematika umum pada generasi muda di negara ini secara kompleks. Hal ini tampak dalam berbagai momen pada film, seperti Arga yang perlu menanggung biaya perkuliahan sang adik. Di saat bersamaan, tekanan sosial yang kian menumpuk terus muncul. Mulai dari cibiran dari sanak keluarga hingga tuntutan nikah dari kekasihnya membuat permasalahan yang dihadapinya semakin runyam. Konflik tersebut membuat plot film ini begitu dekat dengan realitas banyak orang.

Tekanan yang datang mencapai puncaknya justru pada momen damai, yaitu hari raya Idulfitri. Pada situasi tersebut, Arga dipertemukan oleh sepupu-sepupu yang telah melangkah lebih jauh daripada dirinya. Salah satu sepupunya telah menjadi manajer di perusahaan ternama, satu yang lain mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan S2 di luar negeri. Namun, disaat yang sama Arga masih berkutat dengan cara mendapatkan pekerjaan di usia yang hampir menyentuh kepala tiga. Tak sampai disitu, terdapat desakan dari Tante Yenny (diperankan oleh Ayu Laksmi) untuk menjual rumah peninggalan sang nenek yang menjadi tempat tinggal satu-satunya.

 

Film sebagai Cerminan Realitas Sosial di Masyarakat

Sumber foto: Rapi Films

Naya Anindita sebagai sutradara tidak hanya berhasil dalam menciptakan film yang menghibur segenap penggemar sinema. Film ini juga hadir untuk mengangkat permasalahan sosial yang sering ditemui oleh anak muda. Sang sutradara menciptakan tokoh Arga sebagai representasi generasi yang bukan hanya bergulat dengan tekanan keluarga, tetapi juga mereka yang berjuang mendapatkan pekerjaan di tengah lapangan pekerjaan kian tak memiliki harapan. Di sisi lain, tatanan masyarakat seringkali menafsirkan arti “sukses” ke dalam arti sempit, mendapatkan pekerjaan yang dianggap “layak” dan terpenuhinya kebutuhan ekonomi. Padahal, untuk mencapai kesuksesan yang demikian, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Di negara ini, mendapatkan pekerjaan bukan hanya menyangkut kesiapan calon pekerja, melainkan terdapat permasalahan struktural yang tak kunjung usai diselesaikan oleh negara.

Pada film ini Naya menggunakan kepekaan sosialnya secara optimal untuk dituangkan ke dalam karyanya. Melalui kisah kehidupan Arga, Naya berhasil membuktikan bahwa pengembangan film ini menggunakan kondisi empiris yang nyata. Arga merupakan bukti sekaligus pengingat bagi pemerintah bahwa masyarakat, terutama generasi muda masih kesulitan dalam mencari pekerjaan. Masalah ini divalidasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan bahwa masih terdapat pengangguran sebesar 7,46 juta orang pada tahun 2025 (Simanjuntak, 2025). Data ini menjadi sebuah pertanda bahwa permasalahan terbukanya lapangan pekerjaan belum berhasil terentaskan sampai hari ini.

Lebih dari sekadar data, keberhasilan film ini merupakan pertanda bagi pemerintah yang gagal dalam mengatasi permasalahan penyerapan lapangan kerja. Respon positif dari kedekatan penonton dengan nasib Arga, menunjukkan realitas banyak orang yang juga kesulitan dalam mencari pekerjaan di kehidupan nyata. Dan ketika pemirsa merasakan perasaan “dekat” dengan tokoh utama, terdapat kemungkinan bahwa negara masih belum berhasil menjawab masalah yang dirasakan jutaan orang seperti Arga.

 

Permasalahan yang Perlu menjadi Perhatian Pemerintah

Sumber foto: Pexels.com

Fenomena sempitnya lapangan pekerjaan tidak serta merta menjadi sebuah permasalahan yang disebabkan oleh individu. Terdapat peran pemerintah disana untuk menyediakan sektor formal dalam menjawab keterbutuhan peluang kerja. Selain itu, pemerintah juga wajib untuk menyediakan pelatihan bagi calon angkatan kerja untuk mempersiapkan mereka sebelum terjun ke medan kerja. Pelatihan tersebut diperlukan karena masih terdapat skill mismatch antara penawaran dan penerimaan tenaga kerja. Lulusan pendidikan tinggi seringkali tidak memiliki keterampilan yang sesuai. Di sisi lain, sektor formal hanya membutuhkan beberapa lulusan dari beberapa bidang studi.  Dalam konteks ini, Pemerintah perlu melihat permasalahan ini secara mendalam untuk mengatasi kesenjangan tersebut. Seringkali, kebijakan yang dikeluarkan hanya pemberian pelatihan atau pemberian intensif, tetapi tidak menyelesaikan masalah utama. Deni Friawan, seorang Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) menilai bahwa akar dalam persoalan ini terletak pada ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dengan kebutuhan industri (Saputra, 2026).  

Dengan demikian, pemerintah perlu melakukan beberapa rekomendasi langkah-langkah untuk membenahi permasalahan lapangan pekerjaan secara mendalam. Pertama, pemerintah perlu memperbaiki kurikulum pendidikan formal untuk lebih sekadar menyiapkan angkatan kerja, melainkan memperbaiki metode berpikir masyarakat. Metode berpikir yang rasional, kritis, dan adaptif merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan memperbaiki metode berpikir angkatan kerja. Hal pertama yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan mengubah sistem pendidikan yang kaku serta berbasis hafalan, menjadi kurikulum yang dinamis. Harapannya, pendekatan tersebut dapat menjawab keterbutuhan tiap-tiap masyarakat, mengingat masyarakat Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda-beda tiap wilayahnya. Untuk itu, kurikulum yang ideal seharusnya bersifat penuh dialog dan menjadikan siswa sebagai subjek pengajaran, bukan objek. Selain itu, sistem pengajaran wajib menekankan kecakapan dalam berpikir kritis, logis, literasi, dan numerasi para peserta didik. Ketiga, pemerintah perlu untuk merumuskan kurikulum yang dapat mempersiapkan siswa dalam menjawab pesatnya perkembangan teknologi. Namun, itu semua tak akan berhasil tanpa adanya pengajar yang berkualitas. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah patut memperhatikan beberapa komponen, seperti kesejahteraan, keamanan, dan kompetensi guru itu sendiri. Dengan demikian, negara tidak hanya menciptakan generasi muda yang siap kerja, melainkan juga generasi yang memiliki kemampuan berpikir dan siap menjawab tantangan masyarakat. Dengan memiliki generasi yang berkualitas, bukan mustahil negara ini memiliki peluang besar untuk menuju kesejahteraan umum yang diimpikan.

Selanjutnya, pemerintah perlu berkolaborasi secara langsung bersama perguruan tinggi dan pihak swasta. Kolaborasi ini berguna untuk menghindari ketidaksesuaian  antara kebutuhan perusahaan dengan produk lulusan. Kerjasama yang dilakukan dapat dilakukan melalui beberapa skema. Pertama, pemerintah dapat mendorong universitas untuk mensurvei jenis keahlian apa yang dibutuhkan pihak swasta. Harapannya, kajian tersebut dapat dielaborasi menjadi sebuah kurikulum yang meningkatkan kapabilitas mahasiswa sesuai dengan kebutuhan pasar. Kedua, sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan sektor privat bisa dilakukan pada riset penelitian. Sebagai contoh pihak swasta dapat memanfaatkan hasil temuan riset dari perguruan tinggi untuk membantu dalam proses industri. Sedangkan, pihak universitas dapat melakukan riset tersebut menggunakan dana hibah yang diberikan oleh pihak swasta. Melalui langkah-langkah ini lulusan akan memiliki kualitas dalam berpikir, sekaligus kesiapan memasuki dunia kerja.

Tunggu Aku Sukses Nanti berakhir bukan hanya menjadi karya seni hiburan pada Hari Raya. Film ini menjelma menjadi alarm pengingat bagi pemerintah untuk melihat ulang permasalahan yang menyangkut generasi penerusnya. Arga bukan sekadar tokoh fiksi, melainkan representasi jutaan pemuda sandwich generation yang terhimpit tekanan ekonomi dan sosial. Pemerintah perlu reformasi kurikulum dari hafalan kaku menjadi adaptif-dialogis dengan menekankan pada literasi, berpikir kritis, serta kesiapan teknologi dengan didukung guru berkualitas. Selanjutnya, dibutuhkan beberapa skema kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan swasta. Tanpa perubahan struktural ini, kesuksesan akan tetap menjadi privilese segelintir orang, bukan hak seluruh generasi muda Indonesia.

 

Referensi

Saputra, B. (2026, Januari 6). CSIS: Mismatch pendidikan-industri akar masalah pengangguran muda. Antara News. https://www.antaranews.com/berita/5337973/csis-mismatch-pendidikan-industri-akar-masalah-pengangguran-muda

Rahmat, B. (2026, Maret 22). Film Tunggu Aku Sukses Nanti tembus seperempat juta penonton!. Medcom.id. https://www.medcom.id/hiburan/film/Wb7djxWk-film-tunggu-aku-sukses-nanti-tembus-seperempat-juta-penonton

Jati, H. (2025, November 15). Mengurai mismatch dunia pendidikan dan kerja, soft skills jadi kunci. IDN Times Jogja. https://jogja.idntimes.com/news/jogja/mengurai-mismatch-dunia-pendidikan-dan-kerja-soft-skills-jadi-kunci-00-mfbww-2yqbjh

Simanjuntak, A. K. M. (2025, November 5). BPS: 7,46 juta orang menganggur pada Agustus 2025. DDTCNews.

 

Penulis: Rafi Amru

Editor: Taufiqurrahman Alfarisi

Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *