Pasangan calon (Paslon) Kabem – Wakabem Muhammad Razan Alif Siregar – Enricko Naufal Luqman Majid resmi terpilih menjadi Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro masa jabatan 2024.
Penetapan Razan dan Enricko sebagai kabem dan wakabem melalui mekanisme penghitungan suara Pemilihan Raya di Auditorium FISIP, Kamis (30/11). Adapun Razan – Enricko berhasil memperoleh sebanyak 1048 suara. Jumlah tersebut lebih unggul 368 suara dari paslon Rizqi – Mutiara yang memperoleh sebanyak 680 suara.
Resolusi Untuk FISIP yang Lebih Baik
Usai resmi memenangkan kontestasi, Razan Alif selaku Ketua BEM FISIP terpilih turut membagikan resolusi yang diharapkan mampu dicapai secara optimal selama masa kepemimpinan satu tahun ke depan.
Razan menyatakan bahwa ia ingin membawa BEM FISIP menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa dengan anggota yang betul-betul memahami tugas dan tanggung jawabnya.
“Jadi kamu tau dulu kamu tugasnya ngapain, tanggung jawabmu apa, itu yang paling penting supaya kamu nggak pincang dalam bergerak ke depan,” ucapnya.
Menurut Razan, pemahaman mendasar mengenai tugas dan tanggung jawab tersebut merupakan suatu urgensi yang perlu dibenahi karena berkaitan dengan esensi dari hadirnya BEM FISIP itu sendiri.
“Sering banget aku sampaikan ketika forum-forum, sowan, atau berdiskusi, permasalahan hari ini adalah ketidaktahuan akan tugas dasar atau esensi dari hadirnya BEM FISIP pun dari bidang-bidangnya. Makanya sebelum lebih jauh melangkah, kita pengen seenggaknya orang tau apa sih yang mendasari hadirnya BEM FISIP, entah dari anggotanya pun juga mahasiswa yang jadi konstituennya,” jelasnya.
Di samping fokus membenahi internal organisasi, Razan menambahkan bahwa ia beserta BEM FISIP akan senantiasa mengawal isu-isu pendidikan tinggi yang hingga kini masih menjadi masalah penting bagi mahasiswa.
“Masalah Dikti itu kan sebenernya udah masuk ke isu strategis kami ya, jujur aja memang jadi concern tersendiri bagi kami dan akan dikerahkan segala moda yang dimiliki oleh BEM FISIP Undip. Pada akhirnya kita mencoba menyelesaikannya atau mengupayakan penyelesaian masalah pendidikan tinggi,” tuturnya.
Dalam mengawal isu tersebut, Razan turut mengharapkan partisipasi aktif dari seluruh mahasiswa FISIP agar upaya penyelesaian masalah dapat berjalan secara organik dan diterima oleh seluruh mahasiswa.
“Permasalahan pendidikan tinggi itu bukan dibebankan ke teman-teman Kesejahteraan Mahasiswa (Kesma) aja, namun juga mahasiswa lainnya dan juga perlu kiranya di kemudian hari dibentuk gerakan secara organik dan kolektif agar upaya kita dalam menyelesaikan masalah pendidikan tinggi itu dapat menjadi isu yang organik dan dapat diterima oleh tiap-tiap mahasiswa,” tutupnya.
Evaluasi Keberlangsungan Pemilihan Suara
Berdasarkan partisipasi pemilihan suara Pemira yang terhitung sebanyak 1728 suara, Awaludin Murtadho selaku Ketua Komisi Penyelenggara Pemilihan Raya (KPPR) mengatakan bahwa partisipasi Pemira tahun ini meningkat secara signifikan apabila dibandingkan dengan tahun lalu.
“Menurut saya, animo tahun ini meningkat drastis ya jika dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu itu partisipasinya hanya sekitar 1100, nah pada tahun ini 1700-an. Jadi ini kan sebuah peningkatan yang cukup signifikan,” terang Awaludin saat diwawancarai oleh LPM Opini pada Kamis (30/11).
Dibalik kesuksesan dalam menggaet animo, tidak meratanya distribusi surat suara menjadi keluhan utama dalam Pemira tahun ini.
“Terkait form pengaduan itu (yang banyak muncul) tentang distribusi surat suara. Bisa dibilang, distribusi surat suara itu ada yang nggak bisa mencakup semuanya,” ujar Awaludin
Awaludin menjelaskan alasan dibalik tidak meratanya pendistribusian surat suara disebabkan oleh pihak akademik yang tidak memberikan izin kepada KPPR untuk mengakses e-mail mahasiswa FISIP.
“Sebenarnya sudah ada (kerjasama) dengan pihak akademik, Akan tetapi akademik tidak mengizinkan untuk membagi e-mail SSO (Single Sign-On) dengan menilai bahwasannya e-mail itu privasi. Nah, dalam hal ini kami (KPPR) mau nggak mau harus minta daftar nama-nama mahasiswa aktif FISIP. Jadi, distribusi surat suara itu dilakukan secara manual, namanya siapa, terus diinput (surat suara), terus dikirim,” jelasnya.
Tidak hanya kesulitan dalam mendapatkan data e-mail SSO mahasiswa FISIP, Awaludin menambahkan bahwa KPPR juga kesulitan dalam distribusi surat suara dikarenakan terkena limit pengiriman e-mail.
“Nah, yang distribusi itu kan pakai akun saya, baru beberapa jurusan saja sudah terkena limit. Jadi mau nggak mau harus menyuruh semua anggota KPPR untuk distribusi surat suara pakai akun (e-mail) pribadi masing-masing untuk menanggulangi limit tersebut. Dalam hal ini, itu kan menjadi sebuah kendala juga, sudah terkena limit, harus mengirim satu-satu, itu kan cukup susah lah ya,” imbuhnya.
Setelah mengalami lika-liku pelaksanaan serangkaian acara Pemira, Awaludin berpesan kepada Ketua BEM dan Wakabem terpilih serta para senator UPK maupun prodi terpilih.
“Saya berpesan kepada senator terpilih dan kabem wakabem terpilih untuk bisa menjalankan tupoksinya secara lebih baik lagi daripada tahun yang sekarang. Kemudian harus melakukan evaluasi terhadap kinerja BEM dan juga senator periode sekarang, kemudian menghadirkan berbagai inovasi agar nantinya dapat meningkatkan minat mahasiswa FISIP dalam berorganisasi seperti Senat atau BEM,” pungkasnya.
Penulis: Aulia Retno, Zharabib Risa, Fauzan Haidar
Reporter: Aulia Retno, Zharabib Risa, Fauzan Haidar
Editor: I Gusti Ayu Nyoman Septiari
