
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) kembali menggelar kegiatan tahunan bertajuk “Mei Berkabung” pada Rabu (13/05) di Panggung Tanah Merah, belakang Gedung B FISIP Undip. Acara yang berlangsung sejak pukul 15.30 hingga 17.00 WIB tersebut mengangkat tema “Melawan Arus Lupa, Bersuara Seraya Duka”. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Bidang Sosial dan Politik (Sospol) BEM FISIP Undip ini bekerja sama dengan WIP (What’s Happening in Public) Administrasi Publik serta mengundang mahasiswa umum dan bidang sospol dari seluruh fakultas di Undip.
Mei Berkabung Jadi Ruang Refleksi dan Ekspresi Mahasiswa
Di tengah upaya mengingat kembali berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu, Mei Berkabung kembali hadir sebagai ruang refleksi sekaligus ekspresi bagi mahasiswa untuk menyuarakan keresahan terhadap kondisi sosial-politik Indonesia.
Ketua Pelaksana Mei Berkabung, Brenna Fatima Azzahra, menyebut tema tahun ini diangkat sebagai bentuk pengingat terhadap berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi pada bulan Mei.
“Bulan Mei itu banyak tragedi yang membekas di hati masyarakat Indonesia, sehingga melawan arus lupa artinya kita menolak untuk lupa dan kita bersuara seraya kita berkabung,” ujar Brenna.
Senada dengan hal tersebut, Ketua BEM FISIP Undip 2026, Rijaldi Rauf, mengatakan bahwa Mei Berkabung merupakan agenda tahunan yang menjadi ruang bebas bagi mahasiswa untuk mengekspresikan pandangan mereka terhadap isu kemanusiaan dan keadilan.
“Ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Bidang Sospol BEM FISIP untuk mengakomodasi panggung bebas dan menjadi wadah ekspresi mahasiswa dalam menyampaikan tanggapan serta refleksi mereka terhadap Mei Berkabung,” jelas Rauf.
Merawat Memori Perjuangan melalui Seni dan Dialog Kritis
Kegiatan kilas balik tragedi yang pernah terjadi di bulan Mei ini mempersembahkan berbagai penampilan seni. Dimulai dari penampilan teatrikal yang disuguhkan oleh teater Emper Kampus (Emka) dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB), pentas grup musik yang ditampilkan oleh band Sakutala dari FISIP, hingga pembacaan puisi oleh salah satu mahasiswa FISIP Undip.
Puisi bertema perjuangan ini ditampilkan oleh Najla Aura Azzahra dengan panggilan Aura, mahasiswa Hubungan Internasional (HI) FISIP Undip. Melalui puisinya, Aura menekankan mengenai pentingnya mengingat kembali dan meneruskan perjuangan para aktivis nasional dalam menyuarakan hak masyarakat.
“Puisiku mengangkat bagaimana masyarakat kita di jaman sekarang yang mengingat jasa para aktivis nasional tetapi tidak menghayati arti dari perjuangan tersebut. Meskipun kita mengenangnya, kita tidak menaruh perasaan di dalam masa lampau itu. Kayak, ‘oh aku tau aktivis ini dulu kayak gini’ tapi kita nggak tau apa arti dari perjuangan mereka,” jelas Aura ketika diwawancarai oleh LPM OPINI pada Rabu (13/05).


Acara tahunan ini diakhiri dengan sesi diskusi yang dipandu oleh seorang moderator dari bidang Sospol BEM FISIP Undip, Rayi Muffid Saraut. Rayi beranggapan bahwa sesi diskusi berawal dengan keadaan canggung dan pasif. Namun, setelah dipancing dengan beragam pernyataan dari pemantik diskusi, partisipasi audiens mulai aktif dalam menyuarakan pandangan mereka mengenai isu tersebut.
“Nah, oleh karena itu, karena yang awalnya tadi tidak aktif, ketika diberi pernyataan yang janggal oleh pemantik, orang-orang pun mulai terpicu untuk mengoreksi pernyataan itu dan diskusi pun kembali hidup,” terang Rayi.
Harapan terhadap Kesadaran Mahasiswa mengenai HAM

Melalui kegiatan ini, BEM FISIP Undip berharap mahasiswa dapat memiliki kesadaran yang lebih besar terhadap pentingnya hak asasi manusia dan perannya sebagai social control. Rauf menegaskan bahwa esensi dari Mei Berkabung tidak berhenti pada diskusi satu hari, melainkan pada dampak yang dapat membentuk pola pikir mahasiswa kedepannya.
“Esensi dari acara ini bukan hanya diskusi, tetapi tentang impact terhadap pemahaman mahasiswa dari Mei Berkabung tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Rayi menilai Mei Berkabung bukan hanya menjadi ruang untuk mengenang korban dan aktivis yang telah gugur, tetapi juga medium untuk melawan kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat.
“Mei Berkabung bukan hanya cara kita untuk bersedih, tapi bagaimana kita melawan kebijakan-kebijakan yang tidak benar, sebagaimana tugas kita mahasiswa sebagai watchdog. Ada salah satu argumentasi menarik dari Mas Pekong tadi, (bahwa) ‘kita harus menjadi pengawas bagi pemerintah’.” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus menjadi ruang untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap berbagai pelanggaran HAM agar tidak hilang ataupun dimanipulasi.
“Acara Mei Berkabung ini menjadi medium untuk merawat ingatan kolektif kita, supaya pemerintah tidak memanipulasi ingatan itu, supaya ingatan itu tidak hilang, dan korban-korban, baik yang telah tiada maupun yang masih berjuang hingga saat ini mendapat keadilan,” tuturnya.
Hal serupa juga disampaikan Aura yang berharap generasi muda semakin peduli terhadap sejarah perjuangan aktivis dan tragedi kemanusiaan di Indonesia.
“Aku berharap generasi muda memperingati Mei Berkabung, agar kedepannya kita dapat meneruskan perjuangan mereka,” katanya.
Melalui tema “Melawan Arus Lupa, Bersuara Seraya Duka”, Mei Berkabung diharapkan tidak hanya menjadi agenda refleksi tahunan, tetapi juga ruang bagi mahasiswa untuk terus mengawal isu kemanusiaan dan menyuarakan keadilan di tengah dinamika sosial-politik Indonesia.
Reporter: Dafan Mahendra, Ridzqie Abdillah
Penulis: Amadea Kalila, Yasinta Alicyagrace
Editor: Kayla Fauziah
Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma 
