Menimbang Perayaan Hari Musik Nasional melalui Telinga Mahasiswa FISIP

Penampilan Perunggu di perhelatan musik FISIPHORIA ke-13 pada Jumat (14/11/2025) (Sumber foto: Youtube @alproindonesia-media)

Musik kini seolah telah menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Ia mengisi keheningan yang ada dalam hari-hari kita, menggantikannya dengan melodi yang ritmis, asyik, dan menyenangkan bagi telinga. Di kamar kos, di mal, hingga di kampus—musik diperdengarkan dan didengarkan di mana-mana. Begitu pula di Indonesia.

Dewasa ini, di Indonesia, musik yang banyak didengarkan berasal dari musisi-musisi tanah air atau musisi lokal. Laporan pada Agustus 2024 dari goodstats.id menunjukkan bahwa sebanyak 79% responden mengaku lebih menyukai musisi lokal dibandingkan musisi luar negeri saat ditanyai perihal musisi favorit. 

Maka, untuk turut merayakan semakin meriahnya lanskap musik tanah air dalam momentum Hari Musik Nasional 2026, LPM OPINI telah meminta pendapat beberapa mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) perihal musik Indonesia hari ini.

 

Sedikit Mengintip Selera Musik Lokal Mahasiswa FISIP

Pemandangan dari halaman depan FISIP UNDIP (Sumber foto: fisipundip.ac.id)

Jika berjalan memasuki FISIP, tidak jarang akan kamu temui mahasiswa-mahasiswa yang memasang penyuara telinga (earphone) untuk mendengarkan musik sambil berjalan. Terdengar pula musik yang berasal dari speaker monitor dari dalam ruang-ruang kelas. Bahkan, setiap tahun mahasiswa FISIP rutin mengundang musisi-musisi lokal ternama ke dalam perhelatan musik besar di Semarang, yaitu FISIPHORIA. Maka, kegiatan mendengarkan musik bukanlah suatu hal yang asing bagi mahasiswa FISIP.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi tahun pertama, Minke (nama samaran), mengaku kagum dengan musik-musik punk atau rock lokal yang memasuki arustama lanskap musik Indonesia, seperti musik dari Sukatani dan .Feast. Ia juga mengaku belakangan suka mendengarkan musik dari beberapa musisi tanah air, seperti Reality Club dan Hindia.

“Paling disuka itu Reality Club, itu aku ketemu tanpa sengaja di shuffle Spotify pas tahun 2023. Lagu-lagunya itu relate ke kondisi romance-ku pada saat itu, dan sampai sekarang masih top notch untuk aku dengarkan. Ada banyak albumnya, my all-time favorite itu What Do You Really Know? Apalagi untuk track ‘Sorrowful Reunion’, it broke my soul,” ujarnya ketika diwawancarai LPM OPINI secara daring pada Minggu (08/03).

Tak jauh berbeda dengan Minke, mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2023, Aidit (nama samaran) juga memiliki preferensi musik lokal yang cukup spesifik. Bagi Aidit, musik juga merupakan saluran untuk mengekspresikan keresahan sosial. Ia menyebutkan nama-nama band seperti Dongker, Eleanor Whisper, The Trees and The Wild, hingga Sore sebagai penghuni tetap daftar putarnya. Ia biasanya mendengar musik lewat Spotify atau Youtube.

Personal pick-ku tetep album Ceriwis Necis, soalnya ada lagu favoritku, ‘Sepenggal Sadar’, itu asik, sih. Rasa alienasi juga keberjarakan emosional yang dirasakan ketika berada dalam sistem kapitalisme terasa banget setiap denger lagu itu,” jelas Aidit.

Masih banyak lagi musik-musik dari musisi lokal yang didengarkan oleh mahasiswa FISIP. Beragamnya selera musik mahasiswa menjadi bukti aktifnya konsumsi musik di kalangan mereka. Namun, ternyata hal itu tidak hanya terjadi di lingkungan kampus. Benarkah konsumsi dan industri musik se-Indonesia memang sedang ramai-ramainya?

 

Perkembangan Industri Musik Indonesia: Sudah Patutkah Dirayakan?

Merujuk data dari Luminate, Indonesia menempati posisi ke-8 sebagai pasar musik terbesar di dunia dengan total streaming sebanyak 178,9 miliar sepanjang 2025. Data ini menunjukkan besarnya antusiasme orang Indonesia dalam mengonsumsi musik, termasuk musik lokal. Saat ini, pembagian konsumsi musik Indonesia telah bergeser menjadi 60 persen musik internasional dan 40 persen lokal. Ini menjadi dukungan besar bagi para musisi lokal untuk terus berkarya dan bersaing di industri musik bahkan dengan musisi-musisi internasional.

Salah satu mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2024, Avicenna (nama samaran), mengaku senang dengan perkembangan ini. Ia melihat adanya kenaikan standar dalam industri musik Indonesia.

“Jujur aku senang banget, karena memang menurut aku musik lokal sekarang lagi banyak banget yang bagus, baik dari lirik yang penuh kiasan sampai ritme dan nadanya yang unik, sehingga dalam sisi produksi persaingan musik Indonesia jadi punya standar yang tinggi, dari sisi konsumsi yang marak jadi apresiasi yang baik bagi para artis,” ungkapnya.

Berkambangnya musik lokal tidak lepas dari berbagai faktor, salah satunya media pemasaran musik. Menurut Avicenna, platform seperti TikTok sangat membantu musisi lokal untuk meraih audiens yang lebih luas, bahkan memberi kesempatan untuk beradu jotos dengan musik populer dari luar negeri.

“Terus juga untuk perkembangan audiens, karena sekarang udah ada TikTok, lagu-lagu lokal bener-bener bisa ngambil hati banyak orang, baik dalam atau pun luar negeri. Menurutku, kalau diadu dengan musik internasional, terutama musik-musik di zaman sekarang ini sangat bisa. Karakteristik yang unik dari musik lokal akan punya tempat spesial tersendiri di hati pendengarnya,” jelas penggemar Perunggu itu lebih lanjut.

Sementara itu, terdapat sudut pandang lain mengenai faktor penyebab perkembangan musik Indonesia. Salah satu mahasiswa Administrasi Publik angkatan 2023, Rafi, menyorot pentingnya peran komunitas musik lokal bagi perkembangan industri musik.

“Berkembangnya (musik), masifnya, produksinya, segala macam, (yang) jadi salah satu pemicu utama itu adanya yang namanya komunitas. Komunitas di Indonesia itu kental banget kalau di industri musik itu. Misalnya, Sun Eater dan Grimloc. Jejaring mereka (para musisi) itu bisa makin meluas dengan lebih bebas, (sehingga) artis-artis kecil ini naiknya itu progresif. Kita bisa lihat Dongker atau misalnya The Cottons,” paparnya.

Meski demikian, terdapat pula kekurangan-kekurangan yang masih menjadi noda dalam permusikan Indonesia hingga saat ini, salah satunya perihal kesejahteraan musisi. Menurut data dari Kompas.id pada 2021, sebanyak 92,24 persen pekerja musik menerima upah di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) dan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK)

Selain itu, pembagian royalti musik yang terbilang tak adil atau inkonsisten pun masih terjadi. Salah satu kasusnya, yaitu perseteruan antara Fanny Soegi dan band Soegi Bornean akan royalti lagu “Asmalibrasi”. Fanny mengeluhkan pembagian royalti lagu tersebut yang dinilai tak adil. Meski lagu itu meledak dan menghasilkan banyak uang, salah seorang pencipta lagu itu, Dhimas Tirta Franata, harus hidup miskin dan masih tinggal di rumah kontrakan di Sleman dengan kondisi yang kurang layak. 

Ironisnya, di tengah karut-marut kesejahteraan musisi tersebut, keran produksi musik justru terbuka makin lebar. Di zaman ini, semua orang dapat menciptakan dan menyebarkan musiknya sendiri. Hal ini memiliki pengaruh positif terhadap kuantitas musik yang dirilis. Namun, belum tentu demikian dengan kualitasnya. Salah satu mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2025 yang merupakan penggemar berat Fanny Soegi, Shafa, menyorot salah satu kekurangan karya musik zaman sekarang.

“Aku kadang kesel dengan maraknya kegiatan produksi lagu yang liriknya gak jelas. Aku tuh kayak, ‘ya Allah, lirik opo seh!’ dan orang tuaku tuh sampe bilang, ‘Kak, kok lagu Indo sekarang liriknya pada ngawur ngalor ngidul semua, ya?’ jadi gitulah. Please-lah bikin lagu jangan asal nulis lirik, dong!” keluhnya.

Keresahan Shafa mengenai pendangkalan lirik ini dapat ditarik pada masalah yang lebih mendasar, yaitu kurangnya kreativitas. Hal ini selaras dengan pandangan Rafi yang menyorot minimnya kreativitas dalam industri musik Indonesia. Padahal, baginya, Indonesia budaya yang kaya untuk menjadi inspirasi dalam berkarya.

“Kita tahu Indonesia itu, wah gila, budayanya ya kental. Tapi, ketika ini masuk ke industri musik, pasar itu meminta hal-hal yang paling generik, yang paling mudah. Dan ketika kita melihat industri musik itu sendiri, ya mereka-mereka hanya meneruskan proyek-proyek yang generik itu. Mereka nggak berani untuk mengembangkan, entah mereka ganti alter ego, entah mereka ganti suara gitu. Improving,” sesalnya.

Hari Musik Nasional 2026 Menjadi Refleksi Sekaligus Bentuk Penghargaan terhadap Musik Indonesia

Tingginya minat terhadap musik lokal oleh mahasiswa FISIP Undip dan orang Indonesia secara keseluruhan merupakan hasil dari proses panjang perbaikan ekosistem musik di Indonesia. Penetapan Hari Musik Nasional setiap 9 Maret melalui Keputusan Presiden No. 10 Tahun 2013 adalah salah satu langkah perbaikannya.

Meskipun masih terdapat berbagai kekurangan dan noda dalam industri kita, gairah musik nasional tetap patut dirayakan.  Hal ini sejalan dengan keyakinan mahasiswi Hubungan Internasional angkatan 2023, Zahra, bahwa industri musik Indonesia sedang aktif-aktifnya dan kita harus selalu mendukungnya.

We’re in our creative energy high, di mana ga cuman band dan musisi baru aja yang lagi emerging tapi juga yang lama. With the emergence of AI tech, I just hope we never lose that high. Keep producing, keep writing, keep listening, keep supporting each other. Dan aku juga berharap for a more fairer economic sustainability soalnya sistem royalti di kita masih agak… ya begitulah… and I also hope to see the decentralization of music more, jauh dari ibu kota dan kota-kota besar juga, i wanna hear more from them too,” harapnya.

Hari ini, Hari Musik Nasional 2026, menjadi pengingat bagi kita tentang upaya perlindungan hak cipta, perbaikan tata kelola industri, hingga perjuangan para musisi agar karyanya dihargai dengan layak di rumah sendiri. Maka kita dapat merayakan hari ini dengan mendukung para musisi lokal dengan cara-cara seperti mendengarkan atau membeli rilisan musiknya, membeli merchandise-nya, hingga membeli tiket dan menonton pertunjukan musiknya.

Sebab, sebagaimana tanggal Hari Musik Nasional yang ditetapkan berdasarkan tanggal lahir pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, Wage Rudolf Supratman, sudah seharusnya kita merasakan hal yang sama seperti ia. Bangga terhadap musik tanah air. Musik kita sendiri.

 

Referensi

Izar, M. (2026, Januari 17). “Indonesia Duduki Peringkat 8 Pasar Musik Terbesar Dunia di 2025”. Hypeabis.id

https://hypeabis.id/read/54236/indonesia-duduki-peringkat-8-pasar-musik-terbesar-dunia-di-2025

Purwanti, A. (2024, Oktober 14). “Industri Naik Terus, Nasib Musisi Kurang”. Kompas.id.

www.kompas.id/artikel/industri-naik-terus-nasib-musisi-kurang-terurus

Iswenda, B. (2024, Oktober 05). “Benarkah Musisi Lokal Masih Jadi Musisi Favorit Masyarakat Indonesia?”. Goodstats.id

https://goodstats.id/article/benarkah-musisi-lokal-masih-menjadi-musisi-favorit-sebagian-besar-masyarakat-indonesia-8E5gt

Arlando, I. (2024, September 09). “Jadi Pihak yang Dirugikan, Inilah Pencipta Lagu Asmaralibrasi yang Jadi Sorotan”. Jawapos.com.  

https://radarmojokerto.jawapos.com/berita-terbaru/825071255/jadi-pihak-yang-dirugikan-inilah-pencipta-lagu-asmaralibrasi-yang-jadi-sorotan

 

Penulis: Ridzqie Abdillah

Editor: Najwa Rahma

Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *