
Suatu karya seni tak pernah bisa dipisahkan dari berbagai isu yang berkembang di lingkungan sekitarnya. Hal ini dikarenakan sifat seni yang sering merefleksikan pengamatan dan pengalaman penciptanya dalam menanggapi realitas sehari-hari. Sebagai suatu bentuk seni, musik dapat menjadi sebuah medium yang sangat luwes untuk merangkai cerita, sekaligus menjadi ruang bagi seniman untuk menumpahkan keresahan mereka terhadap isu-isu tersebut.
Album Sarjana Muda karya Iwan Fals menjadi contoh yang kuat tentang bagaimana sebuah karya mampu memotret dinamika sosial. Dengan memadukan pengaruh irama country Amerika serta ketajaman lirisisme ala Bob Dylan, Iwan Fals berhasil meramu napas musik mancanegara dengan narasi lokal yang menyoroti semrawutnya isu lingkungan perkotaan di Indonesia.
Konteks dan Gambaran Umum Album
Sebelum menyelami narasi di tiap lagunya, penting untuk melihat posisi album ini dalam lini masa karier Iwan Fals. Dirilis pada 3 September 1981 di bawah naungan Musica Studios, Sarjana Muda sejatinya adalah langkah pertama bagi Iwan sebagai musisi profesional. Album ini lahir setelah ia melewati fase panjang melanglang buana sebagai pengamen di sudut-sudut Ibu Kota. Tidak hanya itu, dirinya sempat merilis album bersama band Amburadul, hingga menjajal musik humor yang sayangnya kurang laris di pasaran. Namun, dengan rilisnya Sarjana Muda, ia akhirnya berdiri kokoh atas namanya sendiri. Melalui 10 lagu dengan total durasi 44 menit di dalam album tersebut, Iwan Fals akhirnya dapat memperkenalkan jati diri dan visi bermusiknya di mata Indonesia.
Secara tematik, album ini berkutat pada isu-isu urban yang menyesakkan, mulai dari kesulitan mencari kerja hingga polusi yang mengepung kota. Dari sisi musik, Iwan membawa pengaruh country dan folk yang ceria asal Amerika ke dalamnya, lengkap dengan petikan banjo, harmonika, serta gesekan biola. Selain itu, ia juga menyisipkan irama soft-rock bertempo pelan untuk memberikan ruang bagi lagu-lagu yang lebih kontemplatif dan emosional.
Berikut ini adalah daftar lagu di dalam album.
1. Sarjana Muda
2. Guru Oemar Bakri
3. Bung Hatta
4. Doa Pengobral Dosa
5. Situa Sais Pedati
6. Ambulance Zig-Zag
7. 22 Januari
8. Puing
9. Yang Terlupakan
10. Bangunlah Putra-Putri Pertiwi
Dalam tiap-tiap lagu, pendengar diajak menyimak lirik-lirik Iwan Fals yang mengandung narasi yang sangat deskriptif. Ketajaman liriknya seringkali menyelipkan kritik. Ada yang disampaikan secara terang-terangan, ada pula yang diceritakan secara terselubung lewat candaan satir yang menggelitik. Sepanjang album, pendengar diajak menyelami berbagai emosi yang timbul, mulai dari tawa, empati yang mendalam, hingga miris dengan keadaan yang digambarkan. Pada intinya, Sarjana Muda adalah bukti kepiawaian Iwan dalam memadukan musik dan lirik menjadi sebuah paket lengkap yang menyampaikan kritik secara cerdik sekaligus menggelitik.
Dari Lagu ke Lagu, Dari Isu ke Isu
Album dibuka dengan sebuah balada menyedihkan yang bercerita tentang kesulitan seorang sarjana muda dalam mendapatkan pekerjaan. Sesuai dengan cerita yang terkandung, pembuka album tersebut diberi judul “Sarjana Muda”. Ini lagu pertama di dalam album, dan sejak lagu pertama, Iwan langsung menyorot isu yang menyangkut dunia pendidikan dan industri di Indonesia, yaitu sulitnya mencari pekerjaan. Di lagu ini, diceritakan bahwa yang mengalami kesulitan bukan lulusan SMP atau SMA, melainkan seorang sarjana. Dan sarjana, pada 1981, adalah gelar yang sangat prestisius, mengingat masih sedikitnya jumlah lulusan universitas pada tahun tersebut. Dengan lagu ini, Iwan seakan-akan menyindir tentang betapa rendahnya wujud pendidikan di mata negara pada waktu itu. Bahkan, seorang sarjana—sekali lagi, sarjana—sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
Menyambung tema pendidikan, album dilanjutkan dengan “Guru Oemar Bakri”, sebuah lagu dengan irama country dan karnaval yang medok, yang berbicara tentang pedihnya nasib guru di perkotaan. Di lagu ini, Iwan bertutur tentang pentingnya peran seorang guru dalam suatu negara; “Empat puluh tahun mengabdi”, mereka sungguh berjasa hingga “profesor, dokter, insinyur pun jadi”, bahkan “banyak ciptakan menteri”. Namun, Iwan menyayangi betapa nasib guru di Indonesia patut dikasihani. Ia mengungkapkannya lewat lirik “gaji seperti dikebiri” hingga ejekan “Bakri, Bakri, kasihan amat lo jadi orang.” Kedua lagu di awal album ini sangat menunjukkan mirisnya negara yang selalu mengesampingkan pendidikan. Jika lagu sebelumnya menceritakan sedihnya nasib penuntut ilmu, lagu ini seolah-olah menertawakan kepedihan nasib guru, sosok pemberi ilmu dalam dunia pendidikan.
Album dilanjutkan dengan dua lagu soft-rock bertempo pelan yang dipersembahkan sebagai doa, yaitu “Bung Hatta” dan “Doa Pengobral Dosa”. Sebagaimana judulnya, “Bung Hatta” bertutur tentang kenangan-kenangan atas jasa Mohammad Hatta untuk Indonesia. Lagu ini menggambarkan suasana duka yang menimpa Indonesia serta doa-doa yang diterbangkan rakyat pada masa kematian wakil presiden pertama Indonesia. Berbanding terbalik dengan lagu sebelumnya, lagu ini sungguh khidmat bagaikan lagu kebangsaan. Diiringi string section yang mengharukan, Iwan menyanyikan lirik-lirik penuh pujian. Barangkali ia begitu kagum pada Hatta. Barangkali lagu ini adalah sebuah ode.
Jika “Bung Hatta” didoakan oleh seluruh rakyat Indonesia sebab jasanya untuk negara, “Doa Pengobral Dosa” mengambil perspektif berbeda. Lagu ini menggambarkan doa yang diucapkan lewat mulut-mulut para pekerja seks komersial (PSK) sebab pelanggan yang tak kunjung datang. Tepat setelah lagu pahlawan, pendengar disajikan lagu tentang PSK. Kontras tematik yang terkandung dalam urutan lagu-lagu ini sungguh mengejutkan. Di lagu ini, Iwan berhasil membangun suasana dari sudut pandang PSK, menanamkan isu tambahan mengenai hak-hak PSK di dalam kepala pendengar. Membayangkan, malam-malam, mereka yang “berteman nyamuk nakal” dan sedang “menunggu tamunya datang” dengan pasrah bertanya “apakah esok hari anak-anakku dapat makan?”. Melalui lirik yang melankolis, pendengar dapat memahami dan berempati terhadap PSK dan, barangkali, diam-diam membisikkan doa juga untuk mereka.
Perjalanan mendengar album pun dilanjutkan dengan isu lingkungan yang sering mengemuka di perkotaan, yaitu polusi. Di lagu “Situa Sais Pedati”, Iwan Fals mengenang sekaligus mengingatkan kepada pendengar akan keadaan alam yang semestinya. Ia secara cerdik membandingkan langsung pedati lembu di pedesaan dan mobil di perkotaan sebagai sebuah kendaraan. Irama country yang cerah disertai biola dan banjo serta lenguhan lembu yang menyahut di sana-sini membuat lagu ini agak komikal, berlebihan, dan bagai ejekan untuk situasi kota. Liriknya juga patut disorot karena efek komedi yang ditimbulkannya, apalagi karena dinyanyikan oleh Iwan dengan nada candaan yang nyaris ketawa.
“Dia tak pernah memerlukan / Dia tak pernah membutuhkan / Solar dan ganti oli / Bensin dan ganti busi / Apalagi charge aki.”
Isu yang menyangkut perbandingan di kota juga ditunjukkan dalam lagu selanjutnya, yaitu “Ambulance Zig-Zag”. Lagu ini menyorot diskriminasi yang terjadi di rumah sakit, yaitu mengenai penanganan pasien kaya dan miskin. Lewat lirik yang cerdik, Iwan terlebih dahulu menceritakan kedatangan pasien kaya yang “gemuk” dan “bergelimang perhiasan”. Menangani pasien itu, “para medis berdatangan / kerja cepat / lalu langsung membawa korban menuju ruang periksa.” Sementara itu, ketika pasien miskin yang “berkain sarung” datang diantar “supir helicak”, pihak rumah sakit tidak menanganinya secara cepat, dan malah “menyarankan bayar ongkos pengobatan” terlebih dahulu.
Uniknya dalam lirik lagu ini, Iwan tidak secara eksplisit menyebutkan pasien kaya dan miskin, tetapi hanya menyebutkan ciri-ciri fisik dan penampilannya. Lewat lagu ini, Iwan seakan-akan menyindir pihak rumah sakit yang tidak melayani semua pasien secara adil, tetapi malah memberikan layanan sesuai dengan penampilan dan kekayaan pasien yang datang.
Sebagai hasil dari pemikiran penciptanya, selain berisi isu-isu sosial hasil amatan, album ini pun berisi narasi romansa penciptanya, mulai dari janji manis di lagu “22 Januari” hingga masa lalu penuh penyesalan di lagu “Yang Terlupakan”. Di dalam dua lagu ini, Iwan Fals akhirnya menggunakan “Aku” sebagai subjek, setelah di lagu-lagu sebelumnya ia hanya berperan sebagai seorang pengamat yang bercerita dengan subjek “Ia” atau “Kau”. Ini menunjukkan bahwa dua lagu ini memiliki nilai personal nan emosional baginya. Di dua lagu ini, Iwan pun bernyanyi dengan lebih lembut dan berperasaan; ia menunjukkan bahwa dirinya juga bisa menulis dan menyanyikan lagu cinta yang manis.
Setelah lagu cinta, album dilanjutkan dengan lagu bernada suram, yaitu “Puing”. Mengingatkan terhadap “Masters Of War” oleh Bob Dylan, lagu ini menggambarkan kekacauan pascaperang, di mana “mayat-mayat bergeletakan”, “banyak orang kelaparan”, dan “bayi bertanya bimbang”. Di akhirnya, lagu ini merenungkan ironisnya hubungan antara perkembangan ilmu pengetahuan dan hancurnya peradaban. Dengan irama soft-rock, lagu ini berhasil melukiskan suasana gelap nan murung tersebut ke dalam palet album. Liriknya begitu deskriptif hingga bisa dibayangkan adegan-adegannya di dalam kepala.
“Mayat-mayat bergeletakan / Tak terkubur dengan layak / Dan burung-burung bangkai menatap liar / Dan burung-burung bangkai berdansa senang.”
Album pun ditutup dengan nyanyian nasionalis penuh harapan untuk Indonesia, “Bangunlah Putra-Putri Pertiwi”. Di lagu ini, Iwan mengingatkan Indonesia tentang kekuatan bangsa yang sejati. Ia menggambarkan tiap-tiap simbol kebangsaan dan maknanya.
“Garuda bukan burung perkutut / Sang Saka bukan sandang pembalut / Dan coba kaudengarkan / Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut.”
Meski terdapat nada yang mengandung keraguan di awal lagu, nyanyian parau, iringan gitar akustik, dan harmonika yang penuh penghayatan terus bermain hingga akhir. Akhirnya, Iwan Fals menutup album dengan penuh harapan. Sebagaimana bangsa Indonesia yang seharusnya “Jangan ragu dan jangan malu / Tunjukkan pada dunia / Bahwa sebenarnya kita mampu.”
Debut dengan Pernyataan Musikal yang Utuh
Pada akhirnya, Sarjana Muda adalah sebuah pernyataan musikal yang sangat utuh. Melalui album ini, Iwan Fals berhasil membuktikan bahwa musik soft-rock, folk, hingga country-pop bisa menjadi wadah yang sangat bertenaga untuk melukiskan potret buram perkotaan tanpa kehilangan sisi estetikanya. Ia menunjukkan kebolehannya dalam meramu lirik-lirik deskriptif dengan pembawaan yang sederhana namun tegas. Kadang terdengar getir, tetapi sering kali terasa seperti ejekan satir yang tepat sasaran.
Sebagai sebuah debut, Sarjana Muda tidak hanya memperkenalkan nama Iwan Fals ke kancah musik nasional, tetapi juga menetapkan standar baru bagi musik protes di Indonesia. Album ini berdiri tegak sebagai karya yang kritis secara sosial dan lingkungan, sambil mempertahankan kredo musikalitas yang begitu kuat. Lewat Sarjana Muda, Iwan Fals tidak hanya bercerita tentang realitas yang ia lihat, tetapi juga mengajak pendengarnya untuk berani menatap wajah asli bangsanya sendiri: sebuah wajah yang penuh luka, tetapi selalu menyimpan nyali untuk bangkit kembali.
