Suarakan Isu Kemanusiaan dan Lingkungan, BEM Undip Gelar Nonton Bareng Dokumenter “Pesta Babi”

Suasana penayangan film “Pesta Babi” yang berlangsung di area Student Center Universitas Diponegoro (Sumber Foto: Media dan Informasi BEM Undip)

Kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi” sukses diselenggarakan pada Jumat (24/04) di Student Center Universitas Diponegoro. Agenda ini merupakan inisiasi dari Bidang Sosial dan Politik (Sospol) BEM Undip yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai urgensi isu kemanusiaan, perampasan lahan, serta krisis iklim yang terjadi di tanah Papua. 

“Pesta Babi” sendiri merupakan film dokumenter terbaru dari rumah produksi Watchdog yang memotret realitas konflik agraria dan dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap masyarakat adat. Kegiatan ini menjadi wadah untuk membuka ruang aspirasi bagi mahasiswa lintas fakultas serta Himpunan Mahasiswa Papua Semarang (Hipmapas) untuk merefleksikan kembali peran mahasiswa sebagai agen edukasi dalam mengawal isu-isu marginal yang sering luput dari perhatian publik terlebih ditingkat nasional. 

 

Urgensi Kesadaran Terhadap Isu Papua di Tengah Dinamika Demokrasi 

Inisiasi pemutaran film dokumenter “Pesta Babi” muncul sebagai respon mahasiswa terhadap dinamika politik dan agraria yang tengah bergulir di Indonesia. Kepala Divisi Media dan Propaganda (Medpro), Bidang Sospol BEM Undip sekaligus Ketua Pelaksana, Aulia Sukri menjelaskan bahwa pemilihan dokumenter karya Watchdog ini didasari oleh momentum isu yang relevan dengan kondisi demokrasi saat ini. 

“Latar belakang diadakannya adalah di mana sebenarnya kita melihat momentum di saat Watchdog merilis dokumentasi yang berjudul Pesta Babi. Akhirnya kita menginisiasi mengikuti juga dengan momentum iklim demokrasi yang sekarang ini juga sedang tidak stabil,” jelas Aulia saat diwawancarai pada Jumat (24/04). 

Selain sebagai sarana edukasi, acara ini bertujuan memetakan dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) yang masif terjadi di wilayah Timur, terutama terkait pengalihan lahan secara semena-mena. Aulia menekankan bahwa melalui kegiatan ini, BEM Undip ingin mengajak mahasiswa untuk melakukan refleksi mendalam dan membuka mata terhadap ketimpangan yang terjadi di Papua. 

“Harapan saya untuk para penonton agar bisa membuka mata, bahwa Indonesia itu tidak sebaik yang mereka kira terutama di daerah Timur sana,” tambahnya

 

Pemutaran “Pesta Babi” Jadi Ruang Belajar Isu Papua

Sejumlah mahasiswa tampak fokus menyaksikan penayangan film “Pesta Babi” (Sumber Foto: Media dan Informasi BEM Undip)

Kegiatan nonton bareng film “Pesta Babi” yang digelar pada Jumat, 24 April pukul 17.00 WIB di Student Center Universitas Diponegoro menjadi ruang pertemuan bagi mahasiswa lintas fakultas serta komunitas eksternal, seperti Himpunan Mahasiswa Papua (Hipmapas) Semarang. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan penonton dari lingkar Sospol BEM se-Undip, tetapi juga terbuka bagi publik yang tertarik pada isu yang diangkat.

Mayoritas peserta mengetahui informasi kegiatan melalui media sosial, khususnya Instagram Sospol BEM Undip. Ketertarikan terhadap isu yang diangkat menjadi alasan utama kehadiran mereka. Salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Michael, mengaku terdorong untuk memahami konflik Papua secara lebih mendalam. 

“Aku tertarik dengan konflik yang terjadi di Papua. Sebelum menghadiri acara ini, aku belum terlalu tahu tentang berapa lama durasi konfliknya, ternyata sudah lebih dari 30 tahun,” tuturnya.

Selain itu, pengalaman personal juga mempengaruhi cara peserta memaknai film. Seorang penonton lain menyinggung keterkaitan isu dalam film dengan kondisi di daerah asalnya.

“Kebetulan aku dari Kalimantan Tengah, jadi dari aku kecil memang sudah merasakan dampak dari adanya kolonialisme di era modern ini,” ujar mahasiswa FIB lainnya, Andrea.

Partisipasi mahasiswa dari berbagai latar belakang keilmuan juga terlihat dalam kegiatan ini. Tidak hanya berasal dari rumpun sosial-humaniora, mahasiswa dari bidang sains turut hadir untuk memperluas perspektif mereka. 

“Mahasiswa FSM biasanya terkenal fokus dengan ilmu yang saintis, sehingga dianggap kurang memahami isu seperti ini. Aku memancing diriku untuk ikut berpartisipasi, mengerti, dan belajar bersama teman-teman di sini,” ucap Hilman.

Selama pemutaran berlangsung, film tidak hanya dipahami sebagai narasi visual, tetapi juga sebagai refleksi kolektif yang memperlihatkan dampak konkrit dari kebijakan pembangunan. Penonton menangkap adanya kerugian berlapis yang dialami masyarakat adat, mulai dari kehilangan tanah hingga ancaman terhadap masa depan generasi mereka. 

Melalui berbagai narasi dan visual yang lugas, film mampu menjadi wadah refleksi kolektif bagi penonton. Isu-isu yang dibawakan, terutama mengenai dampak kebijakan pembangunan, kehilangan tempat tinggal, dan ancaman bagi generasi masa depan menjadi perhatian utama dalam diskusi.

“Masyarakat adat dirugikan, dari ekonomi, sosial, hingga masa depan anak- anak mereka, karena tanahnya sudah dirampas,” ungkap Michael.

 

Mengurai Isu Papua: Dari PSN hingga Ketimpangan Pembangunan

Salah satu penonton asal Papua memberikan tanggapan seusai penayangan film (Sumber Foto: Media dan Informasi BEM Undip)

Film “Pesta Babi” mengangkat berbagai persoalan yang terjadi di Papua, dengan fokus pada Proyek Strategis Nasional (PSN) dan dampaknya terhadap masyarakat adat. Ketua pelaksana kegiatan, Aulia Sukri, menyebut bahwa isu tersebut menjadi sorotan utama dalam film.

“Isu PSN itu yang menjadi terdepan, serta ada juga penggusuran lahan yang terjadi secara semena-mena,” jelasnya.

Lebih jauh, film ini memperlihatkan bagaimana pembangunan yang diklaim sebagai kemajuan justru menghadirkan konsekuensi serius bagi masyarakat lokal. Tidak hanya kehilangan ruang hidup, masyarakat adat juga dihadapkan pada ancaman terhadap keberlanjutan generasi mereka.

Penonton juga menyoroti bagaimana narasi tentang Papua seringkali tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. 

“Pemerintah mengambil peran besar dan membentuk pola pikir dan sudut pandang masyarakat di luar Papua. Selain itu, hukum adat masih hanya peraturan tertulis saja, belum ada implementasi,” jelas salah satu peserta, menyinggung adanya konstruksi informasi yang mempengaruhi persepsi publik.

Dari perspektif mahasiswa asal Papua, realitas dalam film bukan sekadar representasi, melainkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mahasiswa asal Biak, Alan Hobahorok, menegaskan bahwa kondisi di Papua masih jauh dari kata baik.

“Kondisi di Papua sedang tidak baik-baik saja, kita butuh banyak suara untuk menyuarakan ini,” tegasnya.

Alan juga menilai bahwa persoalan yang terjadi tidak dapat dipisahkan dari krisis yang lebih besar, seperti krisis iklim dan ketimpangan pembangunan. Masyarakat adat yang telah lama berperan menjaga keseimbangan alam, kini harus menghadapi kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya. 

“Ini bukan permasalahan masyarakat lokal saja, ini menyinggung krisis tentang iklim dan sebagainya,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, tuntutan terhadap pemerintah tidak hanya berhenti pada penghentian perampasan lahan, tetapi juga pada perubahan pendekatan pembangunan yang inklusif.

“Jangan terlalu banyak mengambil hak yang bukan miliknya, cobalah memberdayakan orang Papua itu sendiri,” tambah Alan.

Pemutaran “Pesta Babi” tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk mempertanyakan kembali narasi pembangunan yang selama ini diterima. Dari ruang menonton sederhana, isu Papua kembali diangkat ke permukaan, bukan sebagai wacana yang selesai dibicarakan, melainkan sebagai persoalan yang masih menuntut perhatian dan sikap.

 

 

Reporter: Musyaffa Afif, Dafan Mahendra

Penulis: Amadea Kalila, Tabita Octavia

Editor: Taufiqurrahman Alfarisi

Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *