
(Sumber foto : Nayla Fatihatun Nisa)
Pada tahun ajaran 2026, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip resmi memperluas jangkauan internasionalisasinya dengan membuka International Undergraduate Program (IUP) untuk Program Studi Hubungan Internasional. Langkah strategis ini diambil guna mendukung visi Undip sebagai World Class University dan memenuhi target Rencana Strategis (Renstra) universitas.
Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Rektor Universitas Diponegoro Nomor 4 Tahun 2020 Pasal 8 ayat (1) yang menyebutkan bahwa program sarjana kelas internasional diselenggarakan pada prodi reguler terakreditasi A. Meski demikian, pembukaan program ini juga memunculkan sejumlah perhatian di kalangan mahasiswa. Berkaca dari dinamika IUP pada prodi lain, berbagai persoalan seperti relevansi kurikulum, kepastian program exchange, hingga kesiapan tenaga pengajar masih menjadi sorotan.
Urgensi Pembukaan Program IUP pada Program Studi Hubungan Internasional

(Sumber foto : Instagram @fisipunfip.official)
Pembukaan program IUP baru pada Prodi Hubungan Internasional menjadi bagian dari upaya pengembangan program internasional di lingkungan universitas. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, S. Rouli Manalu atau yang kerap disapa Uli, menjelaskan bahwa seluruh target FISIP Undip berada di bawah payung Renstra Universitas, termasuk pembukaan program IUP. “Kaitannya dengan IUP itu adalah bagian dari Renstra Internasionalisasi,” ungkapnya saat diwawancarai oleh OPINI pada Selasa (07/04).
Selain itu, program IUP juga memiliki misi jangka panjang, yakni mempersiapkan Undip untuk menerima mahasiswa asing melalui berbagai program, baik yang dikelola mandiri maupun yang dijalankan bersama institusi dan kementerian lain. “Pada akhirnya nanti diharapkan program-program ini akan lebih establish yang akan memudahkan mahasiswa-mahasiswa asing untuk belajar di Undip. Bukan hanya short term tapi juga long term,” lanjut Uli.
Penilaian Mahasiswa IUP terhadap Fasilitas yang Disediakan Fakultas
Salah seorang mahasiswa IUP Administrasi Bisnis, Alysha Zahra Wicaksono atau yang kerap disapa Zahra, menilai fasilitas yang tersedia saat ini sudah cukup memadai. Hal itu terlihat dari penetapan ruang kelas di Gedung A serta peremajaan kursi dan meja yang kini lebih nyaman. “Sebelum ini di semester-semester awal pun kita kedapetan di ruangan yang nggak nentu, gitu,” ungkap Zahra saat diwawancarai oleh OPINI pada Jumat (13/03).
Selain fasilitas kelas, akses literatur yang disediakan Undip juga dinilai sudah cukup mendukung proses pembelajaran. Mahasiswa IUP Ilmu Pemerintahan, Ega Nandana Arif atau yang kerap dipanggil Ega, menyebut bahwa Undip menyediakan berbagai jurnal internasional seperti JSTOR dan Oxford yang dapat diakses melalui SSO (Single Sign On). “Akses untuk literatur itu sudah jauh lebih baik. Sebenarnya sudah jauh lebih cukup,” terangnya saat diwawancarai oleh OPINI pada Senin (16/03).
Kendala dan Kekhawatiran Mahasiswa dalam Keberjalanan Program IUP
Zahra mengungkapkan bahwa kendala yang paling terasa bagi mahasiswa IUP Administrasi Bisnis adalah ketidakjelasan waktu pelaksanaan program pertukaran pelajar (exchange). Informasi mengenai universitas mitra memang sudah tersedia, namun kapan tepatnya program tersebut harus dijalani belum ditetapkan. “Program exchange kita ini belum ada ketentuan yang pasti harus di semester berapa, padahal dari jurusan-jurusan lain itu udah ada yang menetapkan di semester berapa gitu,” ungkap Zahra.
Kendala lain yang disoroti adalah kurangnya sosialisasi pada awal pelaksanaan program IUP. Ega mengisahkan bahwa saat ia masuk pada 2022, tidak ada penjelasan lanjutan mengenai program IUP setelah rangkaian ospek, pendikar, dan PKKMB. “Saat itu tidak ada sosialisasi sama sekali soal ke mana arah program IUP ini, akan ditarget untuk apa, dan seperti apa targetnya, itu unclear,” ungkap Ega.
Tiadanya perbedaan antara program IUP dan program reguler juga turut menjadi perhatian. Ega menilai kurikulum IUP saat ini masih sama dengan program reguler, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai keunggulan utama program tersebut. “Ada peraturan rektor yang mengatakan bahwasannya kurikulum IUP sama reguler itu sama. Lantas apa yang menjadi target atau perbedaan IUP dengan reguler?” ucapnya.
Ega juga menekankan perlunya program pendamping selain student exchange agar mahasiswa IUP benar-benar siap bersaing di kancah internasional. “Masa IUP cuma kuliah-pulang dan tidak ada tambahan lain yang bisa mendongkrak mahasiswa-mahasiswa IUP ini untuk siap secara internasional. Tentunya selain student exchange ya, it’s different lah,” sebutnya.
Pandangan Mahasiswa IUP terhadap Pembukaan IUP Baru pada Prodi Hubungan Internasional
Dari sisi fasilitas, Ega mengakui kesiapan fakultas tidak diragukan lagi. “Pak Teguh (Dekan FISIP Undip) punya 1001 cara untuk bisa memberikan dan mem-provide fasilitas untuk mahasiswa-mahasiswa IUP,” terangnya. Namun ia menekankan bahwa aspek lain seperti dosen pengajar, kurikulum, dan program pendukung masih perlu diperhatikan. “Kalau masalah dosen pengajar, kemudian kurikulumnya, habis itu soal program-program pendukung lainnya yang harusnya relate untuk mahasiswa IUP, ini siap atau belum? Aku rasa belum,” tambah Ega.
Zahra pun memberikan tanggapan serupa mengenai pembukaan IUP Hubungan Internasional. Ia mempertanyakan nilai tambah yang akan ditawarkan, mengingat kelas reguler HI sudah menggunakan bahasa Inggris dan mengkaji isu-isu internasional.
“Jadi kalaupun emang mau ada (program) IUP-nya, aku belum bisa ngeliat perbedaannya aja, sih,” ungkapnya. Meski begitu, Zahra mengakui bahwa pengalaman prodi HI dalam mengkaji isu internasional berpotensi mendongkrak citra FISIP ke depannya. “Mungkin akan lebih bagus untuk image FISIP kedepannya. Cuma kita juga masih menerka-nerka apa yang akan ditawarkan oleh FISIP untuk IUP HI sendiri,” tegasnya.
Kekhawatiran dan Potensi Tantangan dari Penambahan Program IUP
Berdasarkan fasilitas yang ada, mahasiswa tidak terlalu mengkhawatirkan kapasitas kelas karena program IUP memiliki kuota penerimaan yang terbatas setiap tahun. Namun, potensi benturan jadwal penggunaan ruang tetap ada mengingat beberapa prodi IUP berbagi ruangan yang berdekatan. Zahra menilai sistem rolling yang berjalan selama ini sudah cukup tertib. “Sejauh ini nggak pernah bentrok atau gimana. Mungkin dampaknya lebih ke mahasiswa reguler kalau ada ketambahan HI,” lanjutnya.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Uli menegaskan bahwa penggunaan ruang kelas di luar gedung FISIP bukan suatu permasalahan. “Tidak ada yang mengatakan bahwa kelas FISIP itu hanya di FISIP saja. Semua mahasiswa Undip diberikan kelas dan difasilitasi di Undip,” ungkapnya. Uli juga menjelaskan bahwa ke depannya mekanisme resource sharing antara fakultas akan semakin dinormalisasi. “Kita bisa belajar di Fakultas Teknik, kita juga bisa belajar di Fakultas Hukum,” tambahnya.
Saran Mahasiswa untuk Pembukaan IUP Hubungan Internasional
Zahra menyarankan agar fakultas menetapkan perencanaan yang jelas bagi mahasiswa IUP HI sejak awal, mulai dari mekanisme exchange, skripsi, hingga magang. “Menetapkan dosen yang bertanggung jawab itu penting, biar ada gambaran yang tetap buat mereka ke depannya,” ungkapnya. Ia juga menekankan pentingnya penetapan dosen koordinator sebagai titik acuan bagi mahasiswa dalam mengakses informasi seputar IUP.
Lebih jauh, Zahra mendorong agar IUP HI memiliki dosen khusus yang berbeda dari program reguler, idealnya pengajar dari luar negeri. “Kalau di Administrasi Bisnis, dosen khusus IUP itu belum ada. Jadi mungkin kalau di Hubungan Internasional, bisa dibuat ada dosen yang emang khusus untuk IUP sendiri, misal dosen dari luar negeri yang mungkin bisa lebih menarik,” terang Zahra.
Proses Kesiapan Dosen Pengajar dan Sistem Akademik untuk Mendukung IUP Hubungan Internasional
Selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Uli menjelaskan bahwa kurikulum IUP tidak berbeda dari program reguler sesuai ketentuan universitas, dengan perbedaan hanya pada metode pembelajaran dan proses pengakuan Credit Transfer System (CTS). Kurikulum yang diterapkan juga sudah melalui benchmarking dengan institusi dalam dan luar negeri, serta mengacu pada textbook dan peneliti internasional. “Kurikulum itu sebenarnya sudah merupakan kurikulum yang melalui benchmark, baik itu dengan dalam maupun luar negeri. Sekarang kita tinggal mengeksekusinya dalam bentuk IUP,” tambahnya.
Mengenai dosen pengajar IUP, Uli menegaskan bahwa FISIP sudah memiliki cukup banyak pengajar berkualifikasi internasional, yakni dosen-dosen yang lulus dari perguruan tinggi luar negeri dan mampu mengajar dalam bahasa Inggris. Berdasarkan laman resmi FISIP Undip, terdapat lebih dari 20 dosen yang merupakan lulusan perguruan tinggi di luar negeri. “Pengajar internasional itu ada. Yang memiliki kualifikasi luar negeri dan kemampuan mengajar bahasa Inggris, kamu hitung sendiri dosenmu di sini,” pungkasnya.
Selain itu, Uli menjelaskan bahwa fakultas menyediakan pelatihan mengajar dalam bahasa Inggris bekerja sama dengan Indonesia Australia Language Foundation (IALF) Bali, lembaga bahasa yang selama ini mendampingi penerima Beasiswa AAS. “Mereka sudah sangat familiar dan sangat ahli dalam academic teaching, English for academic purpose,” lanjutnya. Sebelumnya, fakultas juga telah menghadirkan native speaker selama 10 hari untuk melengkapi metode pengajaran yang ada.
Merespons keluhan soal dosen yang kurang kompeten dalam bahasa Inggris, Uli menegaskan bahwa persoalan tersebut sudah ditangani. “Saya tahu ada keluhan sebelumnya bahwa ada beberapa dosen yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi mengajar IUP. Nah, itu sekarang sudah di-cut. Siapa yang mampu bahasa Inggris, itulah yang menjadi pengajar IUP,” tegasnya.
Penguatan aspek internasional dalam program IUP tidak hanya dicapai melalui kurikulum dan dosen pengajar, namun juga melalui beberapa program internasional yang diadakan oleh fakultas. Dikutip dari laman resmi FISIP Undip, salah satu program utama dari pelaksanaan IUP yakni international exposure. Dimana program ini merupakan salah satu program internasional yang wajib dilalui oleh mahasiswa IUP sebagai syarat kelulusan. Adapun komponen dari program tersebut yakni, student exchange, CTS program serta university partners and exchange opportunity.
Dalam mendukung keberhasilan international exposure, Undip telah menjalin kerja sama dengan beberapa universitas terbaik di dunia, diantaranya Universitas Tsinghua, Universitas Woosong, Universitas Istanbul Aydin, Universitas Myongji, National Central University, Gyeongsang National University, Universitas Youngsan, Universitas Dong-a, Asia University, University of Naples ‘L’ Orientale, The Hongkong Poly Technic University, dan lain-lain.
Sebagai tindak lanjut dari kemitraan internasional yang telah terjalin, Undip menyediakan International Office Programs. Program tersebut mencakup Visiting Lecture, Summer Course, Staff Exchange, International Outbound Mobility, International Cooperation, dan International Conference. Kehadiran program-program ini menjadi salah satu sarana bagi sivitas akademika guna terlibat langsung dalam kegiatan akademik internasional dan mempertajam eksposur global.
Evaluasi Program IUP Sebelumnya Guna Mendukung Persiapan Pengembangan IUP Hubungan Internasional
Uli menegaskan bahwa SOP yang diperlukan pada dasarnya sudah tersedia dan hanya perlu penyempurnaan. Pengalaman dari program-program sebelumnya menjadi modal untuk membangun mekanisme yang lebih baik. “Semua SOP sudah in place. Semuanya kan, belajar, trial and error. Makanya sekarang dengan adanya program-program ini, sudah ada beberapa mekanisme yang sudah tersusun dengan baik, tinggal diterapkan di IUP yang baru,” tuturnya.
Salah satu hal yang masih perlu dikembangkan, menurut Uli, adalah perluasan jaringan mitra kampus luar negeri. Membangun kemitraan bukanlah hal yang sederhana karena menuntut kesepahaman antara kedua institusi. “Yang harus kita kembangkan adalah menambah mitra. Supaya semakin banyak mahasiswa, semakin banyak juga universitas yang bisa kita akomodasi,” tambahnya.
Uli juga menyampaikan bahwa berbagai aspek dari pelaksanaan IUP sebelumnya, mulai dari pengajaran, student mobility, konversi pembelajaran, hingga pelulusan, akan diterapkan dan diperbaiki pada program IUP HI. “Apa yang sudah dikerjakan di IUP sebelumnya akan diterapkan dan bahkan diperbaiki, sampai mereka kita fasilitasi untuk bisa berkarya sebagai seorang profesional,” tegasnya.
Target Konkret yang Ingin Dicapai pada Tahun Pertama berjalannnya IUP Hubungan Internasional

(Sumber foto : Instagram @fisipundip.official)
Target awal yang ingin dicapai adalah memastikan program dapat terlaksana dan ada mahasiswa yang mendaftar. Hal tersebut tampak mulai terpenuhi dengan antusiasme pendaftar yang cukup tinggi. “Target pertamanya ada program yang berjalan dan ada mahasiswa. Sekarang kita sudah melihat pendaftarnya sudah ada 30-an orang,” pungkas Uli.
Ke depannya, fokus utama adalah memastikan program berjalan dengan baik dan mampu menarik mahasiswa yang memiliki motivasi tinggi. Uli juga menyampaikan bahwa pada tahun-tahun berikutnya, IUP HI ditargetkan untuk mendapatkan akreditasi internasional, yang baru bisa ditempuh setelah program berjalan setidaknya 1 hingga 3 tahun atau hingga menghasilkan lulusan.
Uli menegaskan bahwa manfaat IUP tidak hanya dirasakan oleh universitas, tetapi juga oleh mahasiswa lokal yang akan mendapatkan eksposur internasional tanpa harus pergi ke luar negeri. “Misi IUP adalah membawa mahasiswa internasional ke sini, sampai nanti pada akhirnya Undip ini jadi melting pot belajar. Itulah mimpi besar dari IUP,” tegasnya.
Dengan program IUP, mahasiswa lokal juga berpeluang membangun jaringan internasional tanpa harus meninggalkan kampus. “Kamu tidak harus pergi ke Rusia untuk punya teman Rusia. Dengan IUP, kamu bisa punya jaringan dan wawasan itu di sini. Mungkin butuh 3 sampai 5 tahun, tapi itu misi besar yang ingin kita bangun dalam hal internasionalisasi,” tutup Uli.
Penulis: Nayla Fatihatun
Editor: Kayla Fauziah
Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma
