
Peresmian ruang terbuka hijau Teras S4P4 oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) pada awal 2026 memunculkan perbedaan pandangan di lingkungan kampus. Di satu sisi, fakultas menghadirkan fasilitas ini sebagai ruang wellness bagi mahasiswa. Namun di sisi lain, sejumlah mahasiswa justru mempertanyakan urgensitas pembangunan taman tersebut di tengah keluhan minimnya ruang kelas yang memaksa mereka belajar di luar fakultas.
Perbedaan Makna Ruang Hijau bagi Mahasiswa dan Fakultas
Peresmian Teras S4P4 membawa suasana baru di lingkungan FISIP Undip. Fakultas memandang fasilitas tersebut sebagai bagian dari penataan ruang dan upaya menciptakan ruang wellness bagi mahasiswa. Namun, sejumlah mahasiswa justru memaknai fungsi utama taman tersebut secara berbeda. Alih-alih melihatnya sebagai ruang hijau yang berdampak pada lingkungan akademik, mahasiswa lebih merasakan manfaat praktis berupa akses jalan yang lebih cepat dan dekat menuju gedung perkuliahan.
Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FISIP Undip, Ika Riswanti Putranti, menjelaskan bahwa pembangunan Teras S4P4 merupakan bagian dari penataan ruang kampus yang telah direncanakan sejak lama. Menurutnya, keberadaan ruang terbuka tersebut tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga sebagai ruang yang mampu memberikan kenyamanan psikologis bagi mahasiswa di tengah aktivitas akademik.
“Kita juga harus berbicara wellness mengenai penataan ruang. Ruang yang nyaman memberikan wellness ke mahasiswa, mahasiswa juga nyaman, semua orang yang lewat di situ juga nyaman. Karena antara pembelajaran dengan ruangan yang nyaman itu penting,” ungkap Ika saat diwawancarai LPM OPINI pada Selasa (21/04).
Di sisi lain, mahasiswa justru lebih merasakan manfaat praktis dari keberadaan taman tersebut, terutama sebagai akses penghubung antar gedung yang mempermudah mobilitas di lingkungan kampus. Hal tersebut dirasakan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2025, Ahmad Zidan Zidna Fann yang biasa dikenal sebagai Zidan.
“Fasilitas ini memang benar bisa menyelesaikan masalah saya pribadi, yaitu saya sekarang bisa berjalan ke arah lift (dari Gedung A) dengan jarak yang lebih dekat dan cepat,” ujarnya ketika diwawancarai oleh LPM OPINI pada Jumat (10/04).
Selain itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2025, Muhammad Fauzul Syifaa atau yang kerap dipanggil Fauzul, mengatakan bahwa ia merasa jalan tersebut menjadi jalan pintas tanpa harus memutar.
“Cuman ya itu jalan di tengahnya itu, jadi bisa lewat situ kalau males muter,” ujarnya ketika diwawancarai oleh LPM OPINI pada Jumat (10/04).
Dianggap Sekadar Estetis, Mahasiswa Pertanyakan Prioritas Pembangunan Teras S4P4
Meskipun memberikan kemudahan akses bagi mahasiswa, keberadaan Teras S4P4 tetap memunculkan pertanyaan mengenai urgensitas pembangunannya di tengah fasilitas lain yang dinilai lebih mendesak. Sejumlah mahasiswa menilai bahwa FISIP sebenarnya telah memiliki cukup banyak ruang terbuka hijau sebelum pembangunan taman tersebut dilakukan.
“Menurut saya, ruang terbuka hijau di FISIP sudah sangat cukup sekali, seperti fasilitas kafe yang dekat kolam. Jadi menurut saya, Teras S4P4 ini tidak bisa disebut urgen, hanya mempercantik saja dan bisa dikatakan nice to have,” ujar Zidan.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa sebagian mahasiswa masih melihat pembangunan fasilitas kampus dari sisi kebutuhan akademik yang bersifat langsung, seperti ruang kelas dan sarana pembelajaran. Mahasiswa merasa ada hal lain yang seharusnya menjadi prioritas utama dekanat saat ini.
“I think masalah mendesak FISIP sekarang lebih ke bangun kelas lagi aja sih, enggak terlalu penting bikin taman,” tambah Fauzul.
Menanggapi keluhan mengenai prioritas fasilitas akademik, pihak fakultas menegaskan bahwa perbaikan ruang esensial yang menunjang perkuliahan, seperti laboratorium, sebenarnya telah lebih dahulu dilakukan.
“Karena anggaran kita terbatas dan anggaran kita kita gunakan untuk keperluan yang jauh lebih urgent. Misalnya laboratorium, itu kan sekarang dipindah ke sebelah sana dan jauh lebih nyaman dengan space yang lebih besar,” terang Ika.
Sementara itu, terkait keluhan mahasiswa mengenai adanya aset-aset fakultas yang terkesan memakan tempat dan belum ditata, fakultas menjelaskan bahwa proses penataan tersebut sangat terikat pada regulasi negara. Penghapusan barang milik negara memerlukan proses birokrasi dan penaksiran nilai yang panjang agar tidak menyalahi aturan.
“Penghapusan barang itu susah. Tidak asal. Kalau asal, nanti kalau memiliki negara kita kena pasal korupsi. Prosesnya juga panjang. Ada penilaian, ada taksir, dan sebagainya,” tambah Ika.
Taman Sebagai Ruang Wellness Mahasiswa dan Realita Dana CSR

Pembangunan Teras S4P4 sendiri dipastikan tidak mengganggu porsi anggaran untuk pembangunan ruang kelas maupun infrastruktur akademik lainnya. Hal ini dikarenakan proyek penghijauan tersebut direalisasikan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).
Berdasarkan pantauan lapangan, klaim mengenai sumber pendanaan eksternal ini terverifikasi secara fisik. Di tengah rimbunnya area taman, ditemukan sebuah plakat yang secara tegas memuat tulisan “CSR PT PUPUK KALIMANTAN TIMUR”. Keberadaan bukti fisik ini mempertegas batasan wewenang fakultas terhadap anggaran tersebut.
“Itu pertanggungjawabannya ke pemberi bantuan. Dan kita menerima bantuannya saja, Jadi itu tidak menggunakan ruang Rencana kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT). Not even a penny,” tegas Ika.
Bantuan CSR tersebut juga memiliki perjanjian yang mengikat secara spesifik untuk pengembangan ruang terbuka hijau berbasis konsep People, Planet, Profit (P3), sehingga dananya memang tidak bisa dialihkan untuk pembangunan fisik lain.
“Kalau kita gunakan untuk fasilitas yang lain, ya, nggak bisa. Kita sesuai dengan perjanjiannya dengan pemberi CSR. Pemberi CSR untuk P3, itu supaya memperluas ruang terbuka hijau terkait dengan green metric,” ungkapnya.
Pihak fakultas menilai keberadaan ruang terbuka hijau ini mampu mendukung kondisi psikologis mahasiswa agar lebih rileks dalam menjalani aktivitas akademik. Konsep ini terinspirasi dari pengalaman Ika yang melihat efektivitas giardino atau taman diskusi di berbagai kampus di Eropa.
“Jadi sebenarnya ini bukan hanya sekadar taman. Tapi itu juga satu ruang wellness untuk mahasiswa. Mahasiswa yang lewat selesai kelas, selesai pembelajaran kan juga butuh untuk relax, melepas penat,” ujar Ika.
Harapan Fakultas terhadap Kehadiran Teras S4P4

Selain menjadi fasilitas penunjang kenyamanan kampus, pihak fakultas juga berharap Teras S4P4 dapat membangun kesadaran mahasiswa untuk menjaga lingkungan bersama.
“Kalian juga harus menjaga. Jangan hanya fakultas. Termasuk mahasiswa perlu juga untuk menjaga. Contohnya jangan membuang sampah plastik di situ. Jadi urgensinya juga untuk edukasi supaya kalian ngerti cara memelihara lingkungan,” ujar Ika.
Nama S4P4 sendiri merupakan singkatan dari Submit 4 Publish 4 yang berkaitan dengan dorongan peningkatan produktivitas akademik di lingkungan kampus.
“Kemudian taman tersebut dinamai Teras S4P4 pas kebetulan di 2025 itu ada satu gerakan supaya kita meningkatkan produksi Scopus kita supaya bisa menapaki pemeringkatan kita di QS World University Rankings,” jelas Ika.
Perbedaan pandangan antara mahasiswa dan birokrasi menunjukkan bahwa makna pembangunan ruang hijau di lingkungan kampus belum sepenuhnya dipahami secara seragam. Di satu sisi, fakultas melihat Teras S4P4 sebagai bagian dari penataan ruang, peningkatan kualitas lingkungan, serta ruang wellness bagi mahasiswa.
Perbedaan cara pandang tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan fasilitas kampus tidak hanya berbicara mengenai estetika dan kenyamanan, tetapi juga tentang bagaimana fasilitas itu dipersepsikan dan dirasakan manfaatnya oleh mahasiswa sebagai pengguna utama.
Penulis: Zidane Ahmad
Editor: Kayla Fauziah
Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma
