Membedah Lagu Etalase dari Barasuara, Lagu yang Selalu Tahu Cara Menyindir Zaman

(Desain: Kenia Febrihanna)

Kita hidup di negeri yang belum sepenuhnya mendengar. Banyak sekali masyarakat yang sudah bersuara tetapi hasilnya nihil, tak digubris dan tak diperhatikan. Sebagai contoh, warga di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah mendatangi hotel tempat Menteri Kehutanan menginap untuk mengadukan asap pascakebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang telah terjadi selama tiga bulan. Namun, apa hasilnya? Sang menteri tak kunjung keluar untuk menemui masyarakat Palangka Raya. Aspirasi dari masyarakat tidak dianggap sebagai prioritas oleh mereka yang berkuasa, mengakibatkan munculnya berbagai macam aksi.

Tindakan “bersuara” tak melulu hanya seputar demonstrasi di depan pemimpin atau mengkritik secara frontal. Rakyat Indonesia juga “bersuara” melalui media musik. Di antaranya adalah band indie asal Jakarta, Barasuara, yang kian aktif berkarya sekaligus mengkritik. Barasuara dalam album ketiganya, Jalaran Sadrah, tepatnya di lagu track kedua berjudul “Etalase” menyajikan berbagai macam kritik sosial yang sangat luas dan mendalam. Bahkan, ada beberapa lirik lagu yang menurut saya itu timeless, yang konteksnya selalu mengikuti waktu.

 

Sekilas Profil dari “Etalase”

Para personil Barasuara. (dari kiri ke kanan) Asteriska, Iga Massardi, Gerald Situmorang, Puti Chitara, TJ Kusuma, Marco Steffiano (Sumber foto: Barasuara)

Barasuara menyajikan lagu “Etalase” ke dalam album ketiganya yang berjudul Jalaran Sadrah pada 21 Juni 2024 lalu. Lagu yang berdurasi 4 menit 20 detik itu memiliki genre alternative indie rock yang sangat asyik untuk didengar. Lagu ini ditulis langsung oleh vokalis sekaligus leader dari Barasuara, yaitu Iga Massardi, dan di-compose bersama sang bassist yaitu Gerald Situmorang.

Sebagai lagu kedua dalam Jalaran Sadrah, “Etalase” memiliki nyawa tersendiri dalam album tersebut. Perpaduan gitar yang tajam, ritme bass yang mengalir, serta permainan drum yang menggebu-gebu memberi lagu ini tensi tersendiri, sementara vokal Iga Massardi membawa lagu ke suasana yang intens dan reflektif. Secara keseluruhan, “Etalase” memperlihatkan bahwa Barasuara masih konsisten menghadirkan karya yang apik secara musikal sekaligus relevan secara sosial.

 

Dari Katak dalam Tempurung hingga Nepotisme: Perjalanan Kritik dari “Etalase”

Kita adalah pameran / Dari ribuan kegagalan / Etalase kepalsuan / Tanpa jiwa dan kebahagiaan

Lagu ini dibuka dengan pemaparan akan situasi yang cukup lumrah di sekitar kita. Situasi bahwa manusia adalah jiwa yang gagal, tetapi tetap “menjual” kepalsuan di dalam dirinya untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Di pembuka lagu ini, Barasuara menyajikan kritik terhadap orang-orang yang haus akan pujian dan tanggapan, sampai rela untuk membohongi orang lain, bahkan sampai membohongi dirinya sendiri.

Bagai katak dalam tempurung / Merasa besar padahal tanggung

Barasuara kemudian melanjutkannya dengan pre-chorus singkat yang menjelaskan realitas orang-orang seperti yang digambarkan di lirik tersebut. Mereka diibaratkan sebagai seekor katak yang berada di dalam tempurung. Ia merasa besar karena tertutup di dalam dunianya sendiri. Namun, realita pahitnya ia tertipu oleh keadaannya itu sendiri.

Serba-serbi kita semua / Semakin jarang untuk berkaca / Komparasi dan validasi / Menu pokok setiap hari / Mengakui hanya baiknya / Yang buruknya menguap entah kemana / Kita semua biasa saja / Namun sulit mengakuinya

Di chorus lagu ini, Barasuara mencoba mengkritik lebih dalam persoalan seputar orang yang munafik. Penggalan lirik “Mengakui hanya baiknya, yang buruknya menguap entah kemana” menggambarkan perilaku orang yang munafik, yakni kecenderungan untuk memamerkan kebaikannya di hadapan orang lain sembari menutupi keburukan dalam dirinya. Sungguh ironis dan kontradiktif.

Benar sedikit menjadi hakim / Mendadak jadi si paling alim / Punya wawasan gagah-gagahan / Tidak sepaham langsung dikafirkan / Lebih terkenal tak lebih baik / Sudah terbukti banyak yang munafik / Punya orang tua berkuasa / Merasa bebas menganiaya

Barasuara ketika sedang menggelar konser di Synchronize Fest 2026 pada Jumat (16/10) (Sumber foto: Davian Akbar)

Di outro lagu ini, Barasuara menutupnya dengan klimaks. Pada bait pertama ini, Barasuara menyindir mereka yang munafik, yakni orang-orang yang cenderung mengafirkan pemikiran yang tidak sejalan dengan cara pandang mereka sendiri.Sikap tersebut mencerminkan kecenderungan untuk menganggap pola piker sendiri sebagai satu-satunya kebenaran yang sah. Kemudian, Pada bait kedua sekaligus terakhir dalam outro ini, Barasuara menyinggung bahwa popularitas itu tak berbanding lurus dengan kualitas moral, toh tidak sedikit dari mereka yang terkenal justru menunjukkan kemunafikan.. 

Barasuara menutup lagu ini dengan kritik singkat, “Punya orang tua berkuasa, merasa bebas menganiaya”. Di sini Barasuara menyenggol nepotisme di antara kita semua, budaya yang sudah mengakar di Indonesia.

 

“Etalase”, Lagu yang Selalu Punya Cara untuk Tetap Relevan

Menurut saya, lagu ini timeless karena berbagai alasan. Alasan yang pertama adalah kritik di dalam lagu ini sangat menggambarkan berbagai kebiasaan buruk orang Indonesia, mulai dari haus validasi hingga menormalisasikan nepotisme. Alasan yang kedua adalah tindakan dari Barasuara sendiri yang terkadang secara sengaja mengganti lirik dalam lagu ini sesuai dengan konteks sosial yang sedang terjadi.

Sebagai contoh, saat terjadi kericuhan di dalam negeri pada Agustus 2025, muncul tagar #1312 (yang memiliki konteks all cops are b*stard) di berbagai tempat dan media. Munculnya gerakan ini didorong adanya adanya perlakuan diskriminatif dari beberapa oknum polisi terhadap warga sipil. Barasuara ikut andil dalam mengkritik oknum-oknum tersebut dengan mengganti lirik terakhir lagu “Etalase” pada pergelaran konsernya pada rentang waktu tersebut (rentang masa kericuhan) dengan “Punya orang tua berkuasa, satu tiga satu dua”.

Selain itu, baru-baru ini ketika terjadi Karhutla di berbagai penjuru Indonesia, Barasuara kembali andil dalam melontarkan kritik. Saat mengisi panggung Synchronize Fest 2026 (16/10), Barasuara mengganti lirik outro lagu “Etalase” dengan kritik sekaligus tamparan tajam terhadap pelaku Karhutla. Barasuara menggantinya dengan “Punya hutan rimba belantara, dibakar bebas yang berkuasa”.

Barasuara menampilkan kritik terhadap pelaku karhutla di Synchronize Fest 2026 (Sumber foto: Threads @pandamlaks)

Lagu “Etalase” dari Barasuara tetap relevan sepanjang masa karena liriknya menyuarakan kritik terhadap habits masyarakat Indonesia. Melalui liriknya, Barasuara menyampaikan kritik berupa tamparan terhadap orang yang senantiasa memamerkan kepalsuan di dalam dirinya, kritik terhadap pribadi yang memiliki mental seperti “katak dalam tempurung”, sampai pada puncaknya, Barasuara mengecam perilaku yang sudah sangat mengakar dalam budaya kita, yaitu nepotisme.

Barasuara juga tidak tone deaf dalam menyikapi isu-isu terkini. Mereka membuktikannya dengan tetap bersuara di atas panggung, bahkan terkadang mereka mengganti beberapa potongan lirik lagunya untuk menyesuaikan konteks atas situasi yang terjadi baru-baru ini. Kesimpulannya, lagu “Etalase” dari Barasuara ini bukan sekadar kritik sosial yang dibatasi oleh waktu dan saat-saat tertentu saja, melainkan kritik sosial yang sangat luas makna dan tak lekang oleh waktu.

 

 

Penulis: Aqna Almaqrizi

Editor: Davino Krisna

Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *