Menjadi puncak dari peringatan September Hitam Universitas Diponegoro (Undip), Memoar Festival 2025 telah dilaksanakan di area Student Center Undip pada Jumat (26/09). Festival yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip Bidang Sosial Politik (Sospol) ini terdiri atas diskusi terbuka terkait September Hitam dengan beberapa tokoh kunci, penampilan-penampilan, serta momentum refleksi bersama seluruh peserta acara.
Upaya Perlawanan atas Luka dan Keadilan
Memoar Festival bukanlah acara baru, melainkan rangkaian acara tahunan yang diadakan di Undip. Bukan tanpa alasan, acara ini hadir sebagai bentuk perlawanan atas luka yang terjadi di bulan September dan upaya untuk menuntut keadilan.
Pada tahun ini Memoar Festival mengusung tema “Hak yang dirampas, Ingatan yang membalas”. Menurut Project Officer Memoar Festival 2025, Riffat Zhafif Ardhana, tema tersebut diusung sebagai simbol kekuatan ingatan dalam membangkitkan semangat keadilan yang dapat mendorong penuntasan akan kasus pelanggaran HAM.
“Memoar hadir dengan tagline ‘Hak yang dirampas, Ingatan yang membalas’ sebagai simbol bahwa dengan ingatan aja itu bisa se-powerful itu loh, untuk membangkitkan kembali semangat keadilan, untuk menuntaskan pelanggaran-pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah,” jelas Riffat saat diwawancarai LPM OPINI pada Jumat (26/09).
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang hanya diadakan di satu tempat, Memoar Festival kali diadakan di seluruh fakultas yang ada di Undip secara bergantian. Dengan melibatkan seluruh fakultas, besar harapan acara itu dapat menjangkau mahasiswa secara lebih menyeluruh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Karena kita juga (hadir) untuk menjangkau teman-teman mahasiswa kita yang sepertinya belum cukup aware dengan pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi,” tutur Riffat.
Tekankan Pentingnya Merawat Ingatan
Bertajuk “Mengulas September Hitam”, diskusi yang dibawakan dalam Memoar Festival tahun ini berhasil menghadirkan tiga tokoh kunci sekaligus. Tiga tokoh ini ialah istri Munir yakni Suciwati, reporter Tempo yakni Jamal, dan anggota Lembaga Badan Hukum (LBH) Semarang yakni Tuti Wijaya atau yang akrab dipanggil Tuti.
Diskusi dibuka dengan pertanyaan pemantik dari moderator yang menanyakan tanggapan setiap pembicara terkait situasi negara Indonesia saat ini yang dinilai acuh tak acuh terhadap berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi akhir-akhir ini. Reporter Tempo, Jamal memilih untuk menjawab pertanyaan ini dengan menceritakan pengalamannya sendiri ketika mengalami kekerasan pada saat liputan.
“Ada dalam satu hari, (saya) mengalami dua kali kekerasan. Kemarin itu saya dikeroyok polisi pada saat meliput, tepatnya pada saat meliput demo buruh. Sore sempet ditangkap, tapi kemudian dibebaskan karena diselamatkan teman jurnalis yang ada di lokasi. Malemnya kembali mengalami kekerasan, dikeroyok ketika mencoba mendokumentasikan polisi yang mencoba menangkap aksi massa. Saya tidak tahu kenapa tidak mau divideokan, kalau mereka merasa benar, tentunya tidak masalah, kan?” kisah Jamal.
Menimpali kejadian yang menimpa Jamal, Tuti memperkenalkan konsep shrinking civic space atau penyempitan ruang-ruang sipil sebagai penjelasan dari fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini.
“Paska Covid, kita menyadari bahwa shrinking civic space ini ada waktunya, yakni (terjadi) semakin cepat. Kalau kita ambil tiga tahun ke belakang, pembatasan ini terlihat semakin nyata. Jadi bukan hanya pembatasan terhadap pers saja, tapi juga pembatasan terhadap masyarakat. Bagaimana kita berkumpul dan beraliansi,” jelas Tuti.
Sebagai pasangan dari salah satu korban tragedi September Hitam, Suciwati pula menceritakan bagaimana rasa takut memang telah ditanamkan oleh pemerintah kepada masyarakat sejak dulu. Menurutnya, upaya untuk terus merawat ingatan tentang September Hitam adalah cara untuk sembuh dari trauma dan usaha untuk tetap setia melawan pembatasan dari yang berada di atas.
“Ini sebenarnya usaha healing juga dari trauma yang diberikan oleh parcok (partai coklat) yang secara sistematis memang memberikan kita ruang-ruang ketakutan, ruang pembungkaman agar kalian diam. Itu sudah dari dulu. Bayangkan, Marsinah itu dibunuh tahun ‘93, apakah berubah cara menangani kasus-kasus yang serupa sekarang? Masih sama. Melalui kekerasan, pembungkaman, kemudian ancaman, pemenjaraan dan masih banyak lagi yang akan dilakukan oleh mereka,” sebut Suciwati.
Tak hanya itu saja, diskusi pula membahas tentang bekal yang diperlukan mahasiswa dalam memperjuangkan keadilan, batasan netral sebagai pers, serta cara agar menghindari terulangnya sejarah yang kelam. Sebagai pengakhir dari diskusi tersebut, para pembicara juga berpesan bahwa di segala tekanan dan ketidakpastian seperti saat ini kita harus tetap merawat ingatan dan melawan karena diam adalah sebuah penghianatan.
Mahasiswa sebagai Harapan
Memoar Festival adalah bentuk penghidupan atas perlawanan yang dialami para korban pelanggaran HAM yang ada di Indonesia. Banyaknya mahasiswa yang hadir serta antusiasme peserta disepanjang acara menjadi bukti bahwa para korban memiliki harapan untuk mendapatkan hak mereka.
Salah satu peserta Memoar Festival 2025 dari Program Studi Biologi, Fani Fajriyah menyampaikan motivasinya mengikuti acara ini disebabkan oleh pembicara-pembicara yang kredibel.
“Aku sendiri memang tertarik sama sejarah ya, nah (acara) ini itu menurut aku menarik banget, (dengan) mendatangkan Bu Suciwati (istri Munir) langsung, ibaratnya dari sumber pertamanya langsung, kan, jadi aku bakal dapet insight langsung gitu dari sumber yang emang terpercaya,” ucap Fani saat diwawancarai LPM OPINI pada Jumat (26/09).
Sebagai mahasiswa, kita sudah sepatutnya membantu memperjuangkan hak para korban, salah satunya dengan merawat ingatan itu sendiri. menegaskan bahwa mahasiswa sudah seharusnya mengingat sejarah guna mencegah keberulangannya di masa mendatang.
“Siapa yang tidak baca dari sejarah maka akan dikutuk untuk mengulanginya. Maka harus dari upaya ini, upaya mengingat sejarah ini, kita bisa belajar dari sejarah dan tentunya mencegah keberulangan (sejarah terulang kembali), kayak tadi Bu Suciwati bilang.” tutup Fani.
Reporter: Kayla Fauziah, Musyaffa Afif
Penulis: Musyaffa Afif
Editor: Kayla Fauziah
