Peran pustakawan yang dulunya dipandang sebagai sosok penjaga buku di rak, sekarang sudah berubah drastis pada era digital. Pustakawan saat ini bukan hanya sekadar penjaga koleksi fisik, tetapi juga sebagai pemberi pengetahuan yang lebih akurat, membuat perpustakaan lebih relevan dan berdampak pada masyarakat modern, terutama semenjak adanya internet, Artificial Intelligence (AI), dan database online.
Salah satu aspek utama dari perubahan ini adalah peralihan buku fisik ke informasi digital. Saat ini, pustakawan tidak hanya dituntut untuk bisa menyusun katalog fisik saja, tetapi juga mampu untuk mengelola data dari berbagai sumber seperti artikel, e-book, serta podcast. Selain itu, pustakawan juga harus bisa mengelompokkan sistem sekaligus melestarikan dokumen digital agar tidak hilang, rusak, dan dapat digunakan di masa depan.
Pustakawan sekarang memiliki peran penting sebagai pendidik literasi informasi. Seperti yang kita ketahui, misinformasi menyebar semakin cepat melalui media sosial. Di sinilah peran pustakawan sebagai pendidik literasi informasi semakin diperlukan untuk mengajarkan keterampilan verifikasi sumber, etika digital, dan pemikiran kritis. Pada masa lalu, terbatasnya informasi menjadi sebuah tantangan besar bagi pustakawan. Sekarang, tantangan tersebut berbalik menjadi ledakan informasi yang mengharuskan pustakawan untuk lihai dalam menyaring informasi.
Kini, koleksi pengetahuan yang beragam menjadi fokus pustakawan. Hal ini mencakup konten dalam bahasa minoritas atau akses untuk penyandang disabilitas yang menggunakan teknologi seperti text to speech. Dengan kata lain, adanya perubahan ini membuat pustakawan harus memahami seluk-beluk kebutuhan berbagai pengguna, menjadikan mereka agen sosial yang mempromosikan kesetaraan, bukan hanya penyimpan artefak semata.
Peran pustakawan sebagai penjaga etika semakin krusial pula dalam konteks dunia digital, terutama dalam aspek pengelolaan dan perlindungan sumber daya masyarakat. Pustakawan harus ikut serta dalam mengadvokasi privasi data dan hak cipta di era big data untuk mencegah adanya eksploitasi oleh korporasi.

Perubahan ini juga melibatkan kolaborasi dengan teknologi canggih seperti AI dan Virtual Reality (VR) untuk menciptakan pengalaman belajar yang imersif. Melalui analisis data AI, pustakawan dapat dengan mudah menganalisis kebutuhan pemustaka. VR di sisi lain dapat digunakan perpustakaan untuk tur sejarah virtual atau bedah anatomi digital. Ini menunjukkan bahwa peran pustakawan telah berkembang menjadi inovator yang membantu perpustakaan tetap kompetitif di era di mana platform seperti Google dan Amazon mendominasi akses pengetahuan.
Salah satu manfaat dari perkembangan teknologi ini yakni peningkatan aksesibilitas perpustakaan, terlihat seperti eksistensi perpustakaan digital yang memungkinkan orang dari daerah manapun untuk mengakses sumber daya tanpa batasan fisik, sehingga hal ini membuat pustakawan turut berperan dalam mengurangi kesenjangan sosial. Pustakawan menjembatani antara teknologi dan manusia, memastikan bahwa pengetahuan tidak eksklusif bagi yang mampu saja, melainkan menyeluruh ke setiap lapisan masyarakat.
Bukan hanya manfaat, tantangan baru bagi pustakawan juga muncul. Misalnya saja masih banyak pustakawan yang masih terjebak dalam pola pikir lama sehingga kurang terampil dalam teknologi digital yang memerlukan pelatihan-pelatihan intensif. Perlu adanya usaha yang matang dari institusi pendidikan untuk mempersiapkan generasi pustakawan yang baru lewat kurikulum yang mencakup keterampilan seperti data analitik dan manajemen konten digital.
Anggaran juga sering menjadi hambatan dalam perubahan ini. Perpustakaan perlu investasi dalam infrastruktur digital, seperti server cloud dan perangkat lunak agar pustakawan bisa berperan maksimal. Tanpa dukungan ini, transformasi hanya akan menjadi slogan kosong, dan peran mereka tetap tidak berkembang.
Contoh sukses dari penerapan perpustakaan digital datang dari negara tetangga Singapura yang pustakawannya telah menjadi koordinator edukasi daring yang sudah mencapai jutaan pengguna, mengubah perpustakaan yang sebelumnya hanyalah ruang arsip yang bersifat pasif, menjadi sebuah pusat komunitas digital yang dinamis. Hal ini membuktikan bahwa dengan adaptasi yang lebih besar, pustakawan bisa berfungsi lebih dari sekadar arsiparis. Indonesia khususnya, memiliki banyak daerah-daerah terpencil yang sulit mendapatkan akses pengetahuan yang setara. Dengan adanya perpustakaan digital, hal ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat kita.
Pada akhirnya, perubahan yang cepat sekarang ini menuntut kita untuk cepat juga dalam mengubah mindset. Pustakawan era sekarang harus melihat diri mereka sebagai sosok profesional multidimensi. Pelatihan dan dukungan dari instansi serta masyarakat sangat dibutuhkan untuk mendorong langkah pustakawan menjadi ujung tombak inovasi di era digital. Mari kita rayakan perubahan dengan memberikan lebih banyak dorongan positif sehingga banyak inovasi dan ide-ide kreatif yang dapat menjadikan pustakawan bukan lagi penjaga buku semata, melainkan perancang masa depan pengetahuan.
Referensi
Jamridafrizal, (2025). Profesionalisme Kepustakawanan Dan Informasi Profesional Di Era Digital. Serang Banten:Yayasan Laksita Indonesia
Kurnia, N., & Astuti, SI (2017). Masyarakat Digital Indonesia: Besarnya Potensi, Rendahnya Literasi. Jurnal Komunikasi.
Penulis: Muhammad Farhan Afif .K
Editor: Kayla Fauziah
Pemimpin Redaksi: Kayla Fauziah
