22/10/2021

Nestapa Petani Daerah: Harga Pangan Fluktuatif, Pupuk Langka, Tenaga Kerja Minim

Ilustrasi harga pasar pangan. (Rumi Aulia/LPM OPINI).

LPM OPINI – Dalam Konferensi Pers Kinerja Perdagangan Agustus 2021 pada Jumat (17/9) melalui kanal Youtube Kementerian Perdagangan, Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi, mengatakan bahwa harga komoditas secara general cenderung stabil. Sementara komoditas lain berupa beras, gula pasir, daging sapi, telur ayam ras, bawang merah, kedelai, dan bawang putih mengalami penurunan harga.

Nurhakim, salah seorang petani asal Kabupaten Tegal, membenarkan pernyataan Mendag bahwa harga beras di pasaran sudah turun ke harga wajar dibanding ketika isu impor beras mencuat saat panen raya beberapa bulan lalu. Menurutnya, hasil panen yang bagus dan stok yang memadai menjadi alasan kembalinya harga beras ke angka yang terbilang normal. Untuk saat ini, harga gabah basah berkisar Rp4.600,00/kg.

“(Harga) jagung sekarang sedang tinggi. Kalau harga gabah, harga padi wajar,” tutur Nurhakim ketika dihubungi LPM OPINI, Jumat (17/9).

Keluhan yang dialami petani di daerah Tegal, menurut Nurhakim, yakni kelangkaan pupuk untuk tanaman padi. Kelangkaan tersebut mengakibatkan hasil panen kurang bagus karena tidak ada pupuk pada masa pemupukan. Terlebih, pemerintah juga mengurangi jumlah pupuk bersubsidi yang diterima petani.

“Misalkan 1 hektare mendapatkan 3 kuintal pupuk, sekarang menjadi 1,5 kuintal. Jumlah tersebut jauh dari hasil yang maksimal,” jelas Nurhakim.

Selain itu, dampak dari kurangnya tenaga kerja yang membantu mengolah lahan di persawahan, turut dirasakan oleh Nurhakim. Menurutnya, kekurangan tenaga kerja disebabkan oleh sektor pertanian yang kurang menguntungkan secara ekonomis, khususnya bagi generasi muda yang kemudian lebih memilih bekerja di kota.

Nurhakim berharap pemerintah dapat melakukan standardisasi dan distribusi pupuk dengan lebih cepat. Sebab ketika masa pemupukan berlangsung, distribusi pupuk padi sering kali mengalami keterlambatan di agen-agen penyedia pupuk, yang menyebabkan padi kian mengalami keterlambatan dalam fase pemupukan. Selain itu, ia pun mengharapkan akan adanya penurunan harga untuk pupuk nonsubsidi.

“Kalau pemupukan telat, hasil panennya kurang maksimal. Itu yang sering dikeluhkan oleh petani,” tegas Nurhakim.

Di lain sisi, viral seorang peternak ayam yang membentangkan poster ke Presiden Jokowi ketika sedang mengunjungi Blitar beberapa waktu lalu. Poster berbunyi, “Pak Jokowi, Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar” sontak membuat sadar kondisi peternak ayam yang dihadapkan pada situasi pahit mahalnya pakan berupa jagung serta anjloknya harga telur. 

Penulis: Wahyu Hidayat

Editor: Annisa Qonita

Redaktur Pelaksana: Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi: Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *