08/08/2022

Sustainable Living, Gaya Hidup Ramah Lingkungan yang Dapat Dimulai Selama Masa Pandemi

sustainable living

Ilustrasi Sustainable Living (freepink.com)

UN Environment Programme memaparkan dalam lamannya bahwa populasi manusia di dunia akan mencapai 10 miliar pada 2050 yang akan menyebabkan tingginya permintaan akan kebutuhan hidup. Namun, kenyataan pahitnya pasokan pangan dan ketersediaan lahan terus berkurang. Sementara itu, kerusakan lingkungan yang terus terjadi dan menyebabkan krisis iklim membuat bumi dan isinya berada pada risiko yang besar di masa depan.

Dikutip dari situs web cnnindonesia.com, sampah anorganik yang sebelumnya 40 persen meningkat menjadi 43 persen dari keseluruhan sampah di Indonesia pada tahun 2017. Kondisi ini dapat menunjukkan gaya hidup masyarakat yang mengabaikan dampak jangka panjang dari penumpukan sampah pada keberlanjutan kehidupan bumi ke depannya.

Terdapat alternatif gaya hidup ramah lingkungan yang dapat dipilih dan dilakukan, salah satunya sustainable living. Sustainable living adalah gaya hidup berkelanjutan dan ramah lingkungan yang bertujuan meminimalisir kerusakan lingkungan yang disebabkan manusia dalam setiap aspek kesehariannya.

Contohnya seperti mengurangi penggunaan plastik, menggunakan transportasi umum dalam melakukan perjalanan, menggunakan benda berbahan organik, dsb.

Namun, pada saat pandemi, beberapa kegiatan kita juga semakin terbatas yang membuat masyarakat semakin menyukai hal praktis tanpa memperhatikan nilai di dalamnya. Pemikiran tersebut dapat dicegah dengan tetap menjaga konsistensi dan kesadaran kita akan pentingnya menjaga lingkungan. Berikut ini kegiatan sustainable living yang dapat mulai dilakukan selama masa pandemi.

  1. Mengonsumsi makanan yang sehat dan organik

Makanan sehat dan organik, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, kacang, makanan laut, memiliki jejak karbon yang lebih sedikit daripada makanan siap saji. Hal ini disebabkan proses yang lebih panjang untuk menyiapkan makanan siap saji daripada makanan organik. Dengan demikian, kita dapat menjaga pola makan dan kesehatan di masa pandemi sembari menjaga lingkungan.

  1. Menghemat penggunaan energi listrik dan air

Kita selalu diimbau untuk mematikan lampu pada siang hari atau saat tidak digunakan. Hal tersebut bukan karena hal sepele melainkan, energi listrik secara konvensional saat ini masih berasal dari pembakaran bahan fosil pada pembangkit listrik. Oleh karena itu, kita diharapkan dapat menghemat energi listrik untuk mengurangi polusi yang dihasilkan dari proses tersebut.

Sementara itu, penggunaan air juga perlu dikelola dengan baik karena proses mendapatkan air bersih membutuhkan banyak energi yang berpotensi menghasilkan polusi pada lingkungan.

  1. Mengurangi penggunaan benda sekali pakai

Penggunaan barang sekali pakai dapat menghasilkan sampah lebih cepat dan lebih banyak. Sementara itu, kebanyakan benda sekali pakai berbahan plastik yang hanya dapat terurai dalam kurun waktu 500-1.000 tahun. Oleh karena itu, kita dapat menggunakan benda yang dapat dipakai lagi dan tahan lama, seperti tas belanja, tempat makan, botol minum, dsb. Benda yang kita pakai dan bawa tentunya dapat lebih terjamin kebersihannya daripada benda sekali pakai di luar sana.

  1. Memilah sampah yang dihasilkan

Kegiatan memilah sampah dapat membantu kita dalam merefleksikan dan mengelola sampah yang dihasilkan dalam kurun waktu tertentu. Sampah dipisahkan menjadi sampah organik dan sampah anorganik. Sampah anorganik yang terkumpul dapat dipilah lagi menjadi yang

dapat didaur ulang dan tidak. Sampah organik dapat dijadikan pupuk kompos yang berguna menambah unsur hara pada tanah menjadi lebih subur.

  1. Menanam tumbuhan di sekitar rumah

Tumbuhan melakukan proses fotosintesis yang menghasilkan O2 pada siang hari dan menyaring polutan di udara. Dengan menanam tumbuhan di sekitar rumah, udara menjadi lebih segar dan bersih sehingga mengurangi terjadinya polusi udara yang dapat menyebabkan krisis iklim.

Kegiatan-kegiatan tersebut sangat mudah untuk dilakukan selama masa pandemi yang memaksa kita untuk tetap berkegiatan di rumah. Konsep pelaksanaannya sangat sederhana, yaitu kegiatan-kegiatan tersebut adalah kewajiban yang perlu dibayar atas jejak karbon yang telah kita hasilkan di lingkungan. Dengan perubahan kecil ke arah yang lebih baik tentunya, akan berdampak besar pada kelestarian bumi di masa depan nantinya.

 

Penulis : Febronia Jessica Inez Indriani

Editor: Langgeng Irma Salugiasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *