05/08/2021

Amblasan Tanah, Banjir Rob, dan Nasib Semarang

Wajah Kota Semarang. Semarang jadi salah satu kota yang alami land subsidence dan kerap diterjang banjir rob. (Foto : Dita Suci / LPM OPINI)

LPM OPINI – Genangan akibat banjir rob menjadi salah satu permasalahan lingkungan yang dihadapi oleh daerah yang terletak di wilayah pesisir seperti Kota Semarang. Kampung nelayan Tambak Lorok di bagian utara Semarang menjadi daerah yang langganan terkena banjir rob setiap tahunnya. Yang terbaru, banjir rob menggenangi jalur Pantura Semarang-Demak setinggi 20 cm pada Sabtu (24/4).

Menurut Marfai (2004), rob merupakan banjir yang melanda wilayah dengan elevasi rendah di wilayah pesisir, termasuk estuari dan delta, yang tergenang oleh air payau atau air laut. Genangan rob di Kota Semarang menjadi semakin meluas dengan adanya fenomena amblesan tanah (land subsidence).

Amblesan tanah merupakan fenomena alami karena adanya konsolidasi tanah akibat pematangan lapisan tanah yang masih muda di Semarang. Holtz (1981) menjelaskan penyebab amblesan tanah diduga akibat pemadatan endapan aluvial secara alami, pembebanan bangunan, pengurugan tanah dan ekstraksi air tanah melebihi kemampuannya.

Nelwan, pakar hidrologi Undip, dalam wawancara dengan Asumsi menjelaskan perkembangan perdagangan dan ekonomi di daerah pantai yang lebih ramai dibandingkan daerah hulu atau perbukitan menyebabkan perkembangan dan penggunaan wilayah pantai lebih pesat. Proses tersebut mengakibatkan tanah menjadi ambles.

“Semarang pada tahun ’60-an tidak mengenal adanya tanah ambles. Tapi, belakangan, sejak tahun ’80-an, kota Semarang ini amblesnya bukan main,” ujarnya.

Menurut Slamet, Ketua RW 15 Tambak Lorok, dalam wawancara yang sama menyebut fenomena tanah ambles membuat renovasi bangunan sudah menjadi tradisi warga Tambak Lorok. Bila ingin membangun rumah di Tambak Lorok, bangunan ditinggikan setinggi-tingginya. Pondasi rumah bisa setinggi 1,5 meter dan atap dinaikkan menjadi 4,5 meter. Hal tersebut dilakukan karena tiap tahunnya permukaan air mengalami kenaikkan.

“Pemikirannya, 5 tahun harus menguruk lagi. Setiap 5 tahun naik. Rumah saya ini, saya naikkan sampai 3 kali,” terang Slamet.

Menurut Nelwan, bila ingin mengembangkan wilayah pesisir Semarang, maka diperlukan pondasi yang disebut Caisson. Caisson adalah struktur penahan kedap air yang biasanya digunakan untuk pondasi dermaga jembatan, untuk pembangunan bendungan beton, atau untuk perbaikan kapal. Namun, biaya untuk pemasangan pondasi tersebut sangat mahal.

Selama ini upaya yang dilakukan warga Tambak Lorok untuk mengatasi banjir rob adalah dengan membeton titik-titik yang rawan dimasuki air laut. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan rumah susun (rusun) bagi warga Tambak Lorok yang ingin pindah dari daerah rawan tersebut. 

Sumber:

Holtz, Konvacs. 1981. An Introduction to Geotechnical Engineeering. Prentice Hall New Jersay.

Marfai, MA. 2004. Tidal Flood Hazards Assessment: Modelling in Raster GIS, Case in Western Part of Semarang Coastal Area. Indonesian Journal of Geography Vol. 36 (1):25-28.

Penulis: Wahyu Hidayat

Editor : Fani Adhiti

Redaktur Pelaksana : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *