06/12/2021

Jojo Rabbit: Film Satir Peperangan Melalui Perspektif Anak Kecil

for this article

Sumber gambar: stulovesfilm.com

“Film yang berkisah mengenai era Perang Dunia II di Jerman, memang kerap terdengar mencekam. Akan tetapi, Taika Waititi berhasil mengemas film semacam itu melalui komedi satir jeniusnya tanpa menghilangkan esensi cerita yang sesungguhnya.”

 

Sutradara: Taika Waititi

Produser: Carthew Neal, Taika Waititi, dan Chelsea Winstanley

Skenario: Taika Waititi

Berdasarkan: Caging Skies by Christine Leunens

Pemeran: Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Taika Waititi, Rebel Wilson, Stephen Merchant, Alfie Allen, Sam Rockwell, dan Scarlett Johansson

Tanggal Rilis: September 8, 2019 (TIFF), October 18, 2019 (United States)

 

Sejak Adolf Hitler dipilih menjadi Kanselir Jerman, dengan cepat dirinya membangun rezim totalitarian di Jerman yang dikenal dengan sebutan Reich ketiga. Keberhasilan rezim dalam memulihkan perekonomian Jerman pasca Perang Dunia Pertama, seiring dengan meningkatnya kepopuleran Hitler. Apa yang dialami oleh Jerman di Perang Dunia Kedua, seringkali hanya membuat kita terfokus kepada pertanyaan seputar satu-satunya führer Jerman, yaitu Adolf Hitler. Namun, pernahkah terbesit oleh Anda untuk melihat peristiwa tersebut melalui sudut pandang seorang anak Jerman yang fanatik Nazi? Film Jojo Rabbit (2019) ada untuk membantu kita mewujudkan imajinasi tersebut.

Johannes Betzler adalah bocah berumur sepuluh tahun yang juga merupakan penggemar fanatik Adolf Hitler, bahkan sampai dirinya memiliki imaginary friend bernama Adolf Hitler yang diperankan oleh sang sutradara sendiri, Taika Waititi. Pada suatu hari Jojo yang sangat antusias mengikuti perkemahan pelatihan Nazi, mendapati dirinya diejek oleh para senior dan teman-teman karena dirinya tidak tega ketika diperintahkan untuk membunuh seekor kelinci. Dari peristiwa tersebut muncullah sebutan “Jojo Rabbit” karena Jojo dianggap anak penakut layaknya kelinci tadi. 

Konflik kesetian dalam diri Jojo kepada the führer diawali dengan pertemuannya dengan Elsa, seorang gadis Yahudi yang disembunyikan ibunya Jojo di balik dinding lantai atas rumahnya. Melalui pertemuan tersebut, cara pandang Jojo perlahan berubah seiring dengan semakin eratnya hubungan dia dengan Elsa, bahwa ternyata Yahudi sama seperti manusia lainnya, berlawanan dengan doktrin yang diterima Jojo selama ini.

Ideologi Buta

“You’re growing up too fast. A ten years old shouldn’t be celebrating war or talking politics. You should be having fun, climbing trees and then falling out of those trees.” Kata Ibunya Jojo kepada Jojo. Penggalan dialog tersebut bermakna mendalam bagi yang mendengarnya. Jojo hanyalah seorang anak kecil, tetapi apa yang diungkapkannya sehari-hari banyak berisi seputar politik dan tentu kekagumannya kepada the führer. Elsa yang mulai mengenal Jojo juga menolak bahwa Jojo merupakan seorang Nazi seperti apa yang diyakini Jojo. Bagi Elsa, Jojo hanyalah anak kecil penggemar fanatik lambang Swastika yang tidak memahami betul akan Nazi yang sesungguhnya. 

Anak Kecil Juga Merupakan Korban Peperangan

Jojo terlihat sangat ketakutan ketika peperangan benar-benar terjadi di depan matanya, dia melihat bangunan-bangunan yang hancur, orang-orang berlarian menyelamatkan diri, dan para korban yang berjatuhan. Usai Jerman kalah perang, Jojo menyadari bahwa sekarang hanya tinggal dirinya dan Elsa. Ibunya dieksekusi mati di tengah kota menjadikan Jojo yatim-piatu dan Jojo berharap bahwa Elsa tidak turut meninggalkan dirinya. 

“Jojo Rabbit” juga menyindir bentuk eksploitasi anak demi kepentingan politik. Jojo dan teman-temannya mengikuti perkemahan untuk dilatih menjadi tentara maupun dididik sebagai alat propaganda. Karena Jojo terluka saat pelatihan, menjadikan dirinya ditugaskan membantu menyebarluaskan poster propaganda. Kemudian, pada saat peperangan pecah, Yorki sahabat baik Jojo tidak sengaja menembakan missile yang dibawanya akibat kelengahan dirinya yang menyapa Jojo. Hal tersebut menjadi indikasi bahwa mereka masih anak-anak yang fisik dan mental pada seusianya, tidak seharusnya dipersiapkan untuk sebuah peperangan.

Kerentanan Anak-Anak

“Jojo Rabbit” menyadarkan pembaca akan kerentanan anak-anak yang terlibat konflik perang. Anak-anak ini tumbuh dengan melihat berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di sekitarnya, tidak sedikit dari mereka juga kehilangan anggota keluarganya. Seperti makna perkataan ibu Jojo, bahwa anak kecil tidak seharusnya memikirkan politik maupun peperangan, melainkan mereka seharusnya memiliki kebebasan bermain dan menikmati masa kecilnya.

Kerentanan pemikiran anak-anak yang masih polos dinodai oleh berbagai macam propaganda kepentingan politik. Jojo yang merupakan self-proclaimed Nazi dan penggemar berat Hitler, sama sekali tidak menunjukan perilaku kebanyakan Nazi. Seperti makna perkataan Elsa kepada Jojo yang menolak bahwa Jojo adalah seorang Nazi, bahwa anak kecil adalah makhluk polos yang belum paham betul mengenai apa yang diyakini atau dibelanya.

Satire Jenius

Keseluruhan film ini merupakan satir terhadap Nazi itu sendiri yang banyak diperankan layaknya mad man; orang yang kehilangan rasionalitasnya karena dibutakan oleh ideologi bahwa kaumnya merupakan kaum paling kuat dan beradab sehingga merasa berhak merendahkan Yahudi. Berbagai ciri Yahudi yang disebutkan Nazi di sepanjang film juga sangatlah tidak masuk akal untuk orang dewasa, tapi ironinya memungkinkan bagi anak kecil untuk mempercayainya. Bahkan Jojo sendiri percaya bahwa Yahudi memiliki tanduk dan mampu membaca pikiran. Semua lelucon yang terdapat dalam film dapat diterima dan sangat menghibur, tanpa menghilangkan esensi awal film. Walaupun film Jojo Rabbit terkesan full of comedy, tetapi film ini sebenarnya wujud sindiran nyata yang mampu mengenai perasaan dan pemikiran penontonnya. Tentunya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kemampuan akting para aktor dan aktrisnya yang sangat mumpuni dalam membawakan makna pesan film.

 

Penulis: Rumi Aulia Rahmanisa

Editor: Langgeng Irma

Pemimpin Redaksi: Langgeng Irma

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *