31/07/2021

Dunia di Mana Aku Hidup Sendiri

Ilustrasi : Alvina Amallia / LPM OPINI

Nih, Aku punya cerita. Sekadar cerita khayalan saja.

Suatu hari, ketika kamu bangun tidur di indekos, lampu di kamarmu tidak bisa hidup. Berharap mendapat informasi di internet, kamu meraih ponselmu dan mengetikkan kata kunci. Namun, hanya tulisan “tidak ada sambungan internet” yang terpampang di layar ponselmu. Mungkin ada kabel yang putus, pikirmu.

Lapar, kamu memutuskan untuk beli makanan. Ketika kamu berada di gerbang indekos, kamu mulai sadar bahwa keadaan indekos sepi sunyi. Keadaan kacau yang biasa disebabkan oleh tetangga indekosmu kini tidak lagi terdengar. Merasa beruntung karena akhirnya sunyi, kamu bersenandung sambil berjalan ke tempat makan.

Di sepanjang perjalanan ke tempat makan, berbagai misteri mulai menghinggapi dirimu. Pertama, tidak ada kendaraan yang lewat. Jalan raya yang ramai setiap hari kini kosong dan terasa luas. Orang-orang yang setiap hari lalu lalang di pinggir jalan pun tidak bisa kamu temui. Sesampainya di tempat makan, rasa gelisahmu mulai bertambah. Tempat yang ramai dan selalu penuh dengan berbagai sautan dan obrolan pelanggan kini tidak dapat terdengar lagi.

Dalam keadaan cemas, kamu berlari ke indekosmu, mengeluarkan sepeda motormu dan mengendarainya menuju tempat yang menurutmu ramai dan selalu ada orang. Seperti yang sudah kamu duga, tidak ada kendaraan di jalan raya dan kamu tidak menemui satu orang pun. Bahkan setelah mencapai tempat yang kamu tuju, kamu tidak menemui siapa pun di sana. 

Kecemasanmu mulai berganti menjadi rasa tidak sabar. Kamu memacu sepeda motormu dari kota ke kota lain, dengan tujuan mencari jejak hidup manusia. Pada akhirnya, rasa tidak sabar itu berganti menjadi rasa pasrah. Karena, meskipun pemandangan di sekitar berubah, tidak ada tanda-tanda dari manusia. Dan sebelum kamu sadar, kamu telah menginjakkan kaki di ibu kota provinsi. Dan, tetap saja tidak ada manusia di sana.

Setelah seharian mencari, kamu mulai sadar akan rasa hausmu. Perutmu juga mengeluarkan bunyi. Kamu menuju ke toko swalayan terdekat dan mengambil beberapa makanan. Meskipun merasa bersalah karena mengambil tanpa izin, kamu tidak lupa meninggalkan uang di meja kasir. Setelah menghabiskan sarapanmu yang telat, kamu mendapatkan kembali rasa tenang.

Kamu memutuskan untuk kembali ke kotamu, kota asalmu. Keluarga yang kamu tinggalkan di rumah membuat kamu cemas. Kamu menyalakan sepeda motormu menuju rumahmu. Butuh waktu lama untuk kembali ke rumahmu, tetapi akhirnya kamu sampai di rumahmu.

Pemandangan yang familiar memasuki pikiranmu ketika kamu masuk ke rumahmu. Kamu mulai mencari keluargamu di setiap sudut rumah, tetapi, seperti yang diduga, keluargamu tidak ada di rumah. Rasa lelah menyerang fisik dan mentalmu, kamu memutuskan untuk beristirahat. Ketika melihat kasur di kamarmu, kamu menjatuhkan diri dengan pasrah. Otakmu mulai memikirkan berbagai hal yang terjadi hari ini, dan matamu mulai menutup dengan perlahan.

Ketika kamu terbangun, pagi sudah menyambutmu dengan sinar matahari yang sama seperti kemarin. Sedikit berharap, kamu mulai mencari kembali keluargamu, tetapi tidak ada seorang pun di rumah. Kamu menyantap apa pun yang ada di lemari kulkas yang tidak berfungsi. Setelah merasa kenyang, rasa optimismu kembali datang.

Kamu keluar rumah dan mulai menyelidiki lingkungan di sekitar rumahmu. Kamu menyusuri lingkungan dengan memikirkan apakah ada manusia lain selain dirimu yang masih tersisa. Namun, usahamu berakhir sia-sia. Yang kamu temukan adalah semua toko tutup, dan tidak ada seorang pun yang bisa ditemukan.

Kamu berbaring di tengah jalan dan mulai berpikir. Kenapa semua orang menghilang? Ke mana mereka? Kenapa hanya aku yang tersisa? Kamu memikirkan semua itu dan mencapai satu ide. Meskipun hal tersebut salah, kamu memutuskan untuk menyelinap ke rumah tetanggamu.

Kamu berjalan ke depan rumah tetangga yang selalu baik padamu sejak kamu kecil. Pintu depan terkunci, jadi kamu masuk melalui jendela yang terbuka. Sesudah memasuki rumah, kamu mulai mencari penghuni rumah, dan hasilnya nihil. Namun, kamu menyadari sesuatu, bahwa terdapat makanan lengkap dengan peralatan makan terletak di atas meja makan. Beberapa waktu telah berlalu sejak makanan itu dimasak, jadi makanan itu sudah dingin dan kering. Mungkin sudah dua atau tiga hari berlalu.

Hati mulai mengkerut, rasa cemas mulai mengalir deras, dan kamu berlari keluar dari rumah tersebut. Kamu melanjutkan tindakanmu masuk tanpa izin ke setiap rumah di lingkungan sekitar hingga kamu mencapai satu kesimpulan. Entah apakah dengan kemauan sendiri atau tidak, suatu hari, oleh suatu pengaruh, semua orang tiba-tiba menghilang.

Hari demi hari berlalu. Kini menjadi satu minggu. Selama tujuh hari, kamu mencari di setiap sudut lingkungan untuk mencari informasi. Demi bertahan hidup, kamu makan dari makanan yang kamu curi di toko swalayan. Untuk menghidupi kebutuhanmu, kamu juga menyelinap ke tempat yang memiliki sumber listrik mandiri sehingga kamu bisa memakai barang-barang elektrik.

Hidupmu kini nomaden, yakni berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang bisa memiliki aliran listrik. Bukannya kamu tidak merasa bersalah, tetapi semua tindakan tersebut dilakukan dengan harapan kamu tertangkap basah oleh seseorang atas kejahatanmu. Namun, harapan tersebut menghianatimu. 

 

Kamu mengumpulkan makanan yang mudah busuk ke dalam kulkas dengan cepat. Kamu tidak hanya melakukannya di satu rumah, juga menyebar ke seluruh rumah yang memiliki aliran listrik. Setelah dua minggu, aroma busuk mulai tercium. Bukan dari makanan yang kamu kumpulkan, tetapi bau dari seluruh kota. Bau tersebut berasal dari sampah yang berserakan, bahan-bahan makanan di setiap rumah, dan lemari pendingin yang tidak berfungsi.

Kemampuan manusia dalam beradaptasi sungguh mengerikan. Di tengah-tengah krisis seperti ini, kamu dapat beradaptasi dan terbiasa dengan keadaan tersebut.

Tiga minggu berlalu, dan ketika sudah satu bulan, kamu mulai menyadari sesuatu. Tidak hanya manusia yang menghilang, tetapi hewan juga menghilang. Di sekitar makanan busuk, kamu tidak melihat ada lalat yang mengitari di atasnya. Ketika kamu ke toko swalayan, tidak ada kecoak yang berseliweran. Di langit tidak ada burung yang terbang, dan juga tidak ada nyamuk yang menggigitmu.

Kamu bersyukur karena makanan yang kamu simpan masih aman dan bisa dimakan. Kamu merasa ini aneh, tapi tanaman masih bisa hidup. Sampai akhirnya, kamu sudah bisa beradaptasi dengan keadaan ini dan memutuskan untuk bertindak. Yakni mencari kehidupan lain selain dirimu.

Langkah pertama yakni dengan belajar mengendarai dan membiasakan diri dengan berbagai kendaraan yang ada. Setelah beberapa hari latihan dan kamu yakin dengan kemampuanmu, kamu mulai perjalananmu menggunakan mobil. Awalnya, kamu merasa cemas, tetapi perlahan-lahan rasa cemas memudar. Hal itu disebabkan karena tidak ada kendaraan yang berlawanan arah, juga tidak ada manusia yang lalu lalang. Lampu lalu lintas juga mati. Ketika kehabisan bahan bakar, kamu hanya tinggal masuk ke rumah terdekat dan mengganti dengan kendaraan lain.

Perjalananmu berlanjut.
Berlanjut hingga menemukan kehidupan lain selain dirimu.

 

Perjalananmu berlanjut.
Tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.

 

Perjalananmu berlanjut
Satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, satu dekade.

 

Sampai menemukan kehidupan…
Sampai hidupmu mulai berkurang…
Seterusnya, selamanya…

 

Namun, semua itu hanya cerita saja, cerita khayalan dari pemikiran liarku.
Tetapi…

 

Bagaimana jika seseorang itu menemukan kehidupan lain… bagaimana jika mereka bertemu satu sama lain, ekspresi apa yang akan mereka tampilkan?

 

***

 

Berlindung dari teriknya sinar matahari, aku mulai menghabiskan makan siangku di bawah atap suatu toko. Di sepanjang mata memandang, yang terlihat oleh mata hanya ladang luas yang terlantar. Ladang tersebut mungkin dulunya ditanami tanaman padi, terlihat dari butir-butir beras yang terdapat di sepanjang jalan.

‘Aku rindu rasa dari nasi hangat.’

Sesudah menyelesaikan makan siangku, aku mulai mengecek berbagai perlengkapan dan barang-barang di tas yang ku taruh di kursi penumpang sepeda motor. Sepeda motor ini adalah sepeda motor model bebek yang menemaniku jauh lebih lama dibanding kendaraan lain sebelumnya. Entah karena apa, aku memutuskan untuk tetap memakai sepeda motor ini meski aku tahu mesinnya sudah bukan untuk perjalanan jauh. Toh, nyatanya dia bisa menemaniku sampai sini.

Ketika melihat sebuah buku kecil berwarna coklat di sudut lipatan tas, rasa nostalgia mulai memasuki pikiranku. Ketika aku baru memulai perjalanan ini, aku memutuskan untuk menuliskan berbagai pemikiranku di buku kecil itu sebagai pengusir rasa bosan. Kuambil buku tersebut dan kulihat kertas di dalamnya mulai menguning karena dimakan oleh waktu. Kuputuskan untuk menyimpannya di saku baju agar jika rasa bosan datang, aku bisa kembali menulis dan menghabiskan waktu.

Setelah siap untuk berangkat, aku menaiki motorku dan kunyalakan mesinnya. Meski suara dari mesin dan knalpotku tidak mengenakkan, aku sudah terbiasa dengannya dan mulai mengarahkan stang motorku ke arah tujuan selanjutnya. Dari dulu, setiap naik kendaraan, aku selalu menyanyikan lagu favoritku dengan riang gembira. Sekarang pun, aku masih menyanyikannya. Meskipun kini tidak ada yang mendengarkan atau bernyanyi bersamaku.

 

Ditemani suara mesin motor dan nyanyianku, aku kembali menyusuri dunia ini.

 

Penulis: Wahyu Hidayat

Editor: Fani Adhiti / Annisa Qonita

Redaktur Pelaksana: Luthfi Maulana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *