22/10/2021

Menjadi Jurnalis Perempuan, Benarkah Budaya Seksis dan Patriarki Jadi Tantangan?

Diskusi publik dan peluncuran riset oleh Remotivi, "Mengapa Ada Banyak Mahasiswi Jurnalistik tetapi Hanya Sedikit Jurnalis Perempuan?", Sabtu (7/10). (Foto : Dita Suci / LPM OPINI).

LPM OPINI – Proporsi antara  jumlah mahasiswi jurnalistik yang berbanding terbalik dengan jumlah perempuan yang memilih jurnalis sebagai profesinya kerap memunculkan tanda tanya, hal ini kemudian berbuah penelitian yang diprakarsai Remotivi bersama peneliti dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Gadjah Mada (UGM), serta Universitas Diponegoro (Undip). 

Diskusi dan peluncuran hasil riset yang bertajuk “Mengapa Ada Banyak Mahasiswi Jurnalistik Tetapi Hanya Sedikit Jurnalis Perempuan?” oleh Remotivi yang dimoderatori oleh Lintang Ratri sukses diselenggarakan melalui platform Zoom pada Sabtu (10/6) lalu, mengundang tiga pembicara selaku peneliti dari masing-masing universitas, yakni M. Heychael, Nurul Hasfi, dan Eriyanto. Bergabung pula Evi Mariani dan Irwa R. Zarkasi selaku penanggap diskusi.

Heychael selaku peneliti dari Remotivi mengungkapkan hasil penelitian yang menunjukkan persentase perempuan sebagai jurnalis terbilang cukup rendah, yaitu hanya sebesar 10% dari total jurnalis di Indonesia. 

Lebih lanjut lagi, Nurul Hasfi selaku dosen dan peneliti dari Ilmu Komunikasi Undip menyatakan dari hasil penelitiannya, efikasi diri dan ekspektasi menjadi faktor utama mengapa mahasiswi jurnalistik memutuskan tidak memilih profesi jurnalis sebagai karier mereka.

“Pada faktor efikasi diri, mahasiswi percaya dapat menjadi jurnalis, tetapi tidak percaya diri bahwa mereka dapat menduduki puncak karier karena adanya stereotip serta budaya patriarki,” ungkap Nurul.

Tak hanya itu, adanya pandangan negatif berupa jenjang karier yang tak pasti serta jumlah gaji yang tidak besar kerap mendukung rendahnya minat mahasiswi jurnalistik dalam memilih profesi jurnalis.

Selaras dengan apa yang diungkapkan Nurul, Eriyanto selaku dosen dan peneliti dari Ilmu Komunikasi UI menyampaikan dari hasil penelitiannya bahwa perempuan sering kali diperlakukan berbeda dengan laki-laki ketika hendak ditugaskan untuk meliput.

“Perempuan sering kali mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan laki-laki selama penugasan peliputan. Perempuan cenderung ditugaskan meliput berita yang soft, seperti hiburan. Para mahasiswi magang pun kerap mengalami pelecehan seksual ketika meliput isu politik,” jelas Eriyanto.

Hal ini ditanggapi oleh Evi Mariani selaku pemimpin redaksi Project Multatuli sekaligus anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) bidang gender, anak, dan kelompok marjinal. Ia mengungkapkan bahwa profesi jurnalis sering kali dipandang sebagai profesi yang maskulin. Dalam artian, profesi ini dianggap lebih cocok untuk laki-laki sehingga perempuan menjadi kurang percaya diri untuk terjun ke dalamnya. Selanjutnya, Evi berharap bahwa pimpinan perusahaan media dapat menerapkan affirmation action dalam perusahaan.

Affirmation action adalah memilih jurnalis yang hendak dipromosikan berdasarkan kemauan dan kemampuan tanpa melihat gender. Sayangnya, budaya seksis masih terjadi karena adanya peran ganda perempuan sebagai istri dan ibu. Makanya, mereka dianggap tidak mampu,” jelas Evi.

Evi menekankan pentingnya support system dari pihak perempuan agar jurnalis perempuan dapat bertahan di dunia media.  Hal tersebut memunculkan adanya pertimbangan dalam kurikulum pendidikan yang diusulkan oleh Irwa R. Zarkasi selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Al-Azhar Indonesia. Menurut Irwa, jurnalistik gender perlu ditambahkan ke dalam kurikulum agar mahasiswa dapat memiliki perspektif yang lebih luas dalam hal jurnalistik gender.

“Baik dari pihak lembaga jurnalistik, asosiasi, perguruan tinggi, dan industri dapat bekerja sama dalam memperbaiki wawasan perkembangan jurnalistik agar bisa diajarkan di dalam kurikulum perkuliahan,” jelasnya.

Secara keseluruhan, hasil riset membawa pada kesimpulan dimana jurnalis perempuan memiliki berbagai tantangan gender dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Dengan demikian, pihak industri media diharapkan dapat menciptakan lingkungan kerja yang sensitif gender dan ramah  perempuan ke depannya.

 

Penulis: Almira Khairunnisa

Redaktur Pelaksana & Editor : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *