09/03/2021

Dunia Dilanda Pandemi, Sentimen Terhadap Etnis Tionghoa Kian Kentara

Ilustrasi Toleransi Etnis Tionghoa. (Dita Suci/LPM OPINI)

Sudah lebih dari dua dekade sejak peristiwa Kerusuhan 1998 terjadi, tetapi diskriminasi dan kebencian terhadap masyarakat etnis Tionghoa masih ada hingga sekarang. Pandemi COVID-19, yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, menambah rasa kebencian baru untuk menyerang kembali etnis Tionghoa di Indonesia.

Seperti yang dialami Yolanda Audrey mahasiswa Ilmu Komunikasi 2019 ketika pandemi COVID-19 mulai menyerang Indonesia. Ia sering mendapat pandangan negatif ketika berada di ruang publik karena memiliki wajah yang chinese dan dijauhi karena dianggap membawa virus COVID-19. 

“Waktu awal COVID-19 kan semua orang pada tahu COVID-19 itu dari Wuhan, banyak orang yang langsung nge-judge aku kalau aku lagi jalan, mereka ngatain kaya gak usah dekat-dekat sama orang Chinese karena bawa wabah, terus ya sering dikatain aja, sih, kayak sipit, pelit, dan stereotip lainnya ke orang Chinese pada umumnya,” ungkapnya.

Sebaliknya, Yolanda tidak menerima diskriminasi ketika berada di kampus FISIP UNDIP. Ia mengaku banyak teman-temannya yang menghargai dan memberi ucapan selamat ketika hari raya Imlek serta meniadakan kegiatan di hari tersebut.

“Selama kuliah tidak ada yang mendiskriminasi secara langsung. Walaupun ada paling cuma bercanda. No hard feelings,” ungkapnya ketika di wawancara LPM OPINI Kamis (11/2).

Ketika beradaptasi pada awal masuk kuliah, Yolanda mengaku cukup sulit beradaptasi karena takut dirundung atau tidak diterima di lingkungan. Hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk terbuka dan berbaur dengan mahasiswa lain. Menurutnya, kunci untuk dapat berbaur yakni sebagai minoritas harus menghargai budaya lain, nantinya mayoritas akan mengerti dan menghargai kembali.

“Harapanku kedepannya orang-orang terbuka satu sama lain. Walaupun etnis Tionghoa bisa dihitung dengan jari, kebudayaan mereka harus tetap dihargai. Dan dalam urusan segala hal tidak perlu membawa etnis, seperti pemilihan pemimpin atau organisasi, karena semua orang memiliki kesempatan yang sama,” pungkasnya.

Diskriminasi di ruang publik juga dialami oleh Tjen, Jocelyn Ivana mahasiswa Ilmu Komunikasi 2019. Ia hampir setiap hari mendapat tatapan dan omongan dari masyarakat serta  menerima teriakan rasis dari pengendara motor ketika berjalan sendirian. Jocelyn juga pernah menerima diskriminasi di lingkungan sekitar kampus.

“Pernah mengalami diskriminasi di lingkungan kampus. Waktu itu ada orang tidak dikenal yang tanya-tanya seputar etnis Tionghoa. Kira-kira percakapannya begini, ‘Hai, kamu Cina ya? Kok kamu di sini, sih? enggak mau balik aja ke Cina?,’ menurutku itu kurang sopan untuk ukuran orang baru pertama kali kenal dan bahas etnis,” jelas Jocelyn kepada LPM OPINI Kamis (11/2).

Jocelyn mengaku toleransi di kampus sudah baik. Ia sempat takut karena baru pertama kali masuk sekolah negeri dan double minoritas, yakni Kristen dan Tionghoa. Namun ketakutan itu sirna karena ia mendapat sambutan hangat dan ramah. Toleransi yang paling ia rasakan adalah ketika ada rapat organisasi di hari Minggu, teman-temannya mengizinkannya untuk tidak mengikuti rapat karena harus beribadah. 

“Jujur sempat takut karena dari kecil sampai SMA aku sekolah di mana teman-temanku beretnis Tionghoa. Jadi ketika ditempatkan di lingkungan majemuk, aku agak kesulitan untuk beradaptasi karena aku tidak bisa membawa kebiasaan budayaku ke lingkungan baru. Tapi itu tidak berlangsung lama karena aku orang yang cukup gampang berbaur,” ungkapnya.

Selama duduk di bangku perkuliahan, Jocelyn mengaku masih bisa melakukan aktivitas dengan nyaman tanpa takut didiskriminasi. Ia juga mendapat pengakuan di beberapa bidang, meski dirinya seorang minoritas. Jocelyn berharap toleransi di lingkungan kampus dapat tetap terjaga.

“Sebenarnya sejauh ini toleransi di kampus sudah sangat baik. Saya bisa melakukan aktivitas dengan nyaman tanpa takut didiskrimasi, saya bisa bergabung dengan berbagai organisasi tanpa harus takut bahwa saya seorang minoritas. Teman teman saya juga tidak ragu untuk mengakui kemampuan saya dalam beberapa bidang, meskipun saya seorang minoritas. Harapan saya, kedepannya toleransi di lingkungan kampus tetap dijaga dengan baik,” pungkasnya.

 

Penulis/Reporter : Wahyu Hidayat/Luthfi Maulana

Editor : Halima Iradati

Redaktur Pelaksana : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *