Kampanye Lisan Pemira FISIP Undip 2025: Penjaringan Konstituen dan Penggalangan Potensi Suara Mahasiswa

0
Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FISIP 2026 nomor urut 1 sedang melakukan kampanye lisan. (Sumber: Ridzqie Abdillah)

Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM FISIP 2026 nomor urut 1 sedang melakukan kampanye lisan. (Sumber: Ridzqie Abdillah)

Pemilihan Raya (Pemira) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) telah mencapai tahap kampanye lisan. Setelah pemberkasan tiap peserta telah diverifikasi, calon senator juga Calon Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP Undip melaksanakan kampanye melalui dua tahapan, kampanye tertulis yang berjalan dari Sabtu (22/11) hingga Rabu (26/11) serta kampanye lisan yang berlangsung pada Selasa (25/11). Dalam kampanye lisan yang diselenggarakan di Panggung Belakang Gedung B FISIP Undip, tiap calon dapat memaparkan visi dan misi maupun aspirasi serta keresahan mereka guna menggalang potensi suara pada hari pemilihan nanti. Selain itu, audiens diberikan kesempatan untuk melemparkan pertanyaan terhadap tiap calon selepas pemaparan isi kampanye.

 

Sebagai Wadah Aspirasi, baik Bagi Calon maupun Konstituen

Kampanye lisan merupakan unsur integral dalam keberjalanan Pemira. Hal ini dikarenakan tiap calon yang terlibat dapat menjalin komunikasi dengan konstituen yang direpresentasikan tiap calon. Tidak hanya itu, masing-masing calon dapat meningkatkan potensi suara dengan panggung yang telah diberikan untuk menyuarakan visi-misi mereka. Ketua Komisi Penyelenggara Pemilihan Raya (KPPR) FISIP 2025, Faisal Irsyad juga menegaskan tujuan dari kampanye lisan sebagai wadah untuk menyuarakan aspirasi tiap calon.

“(Kami) memberikan wadah untuk calon peserta, (untuk) mereka menunjukkan potensi mereka dan juga keinginan mereka atau keresahan mereka yang ingin mereka bawa nanti ke organisasi, yaitu Senat (Mahasiswa) dan BEM itu, apa yang mau dibawa gitu. Dan juga dibuka juga peluang untuk masyarakat FISIP tadi bertanya-tanya, memberikan keresahannya,” tekan Faisal ketika diwawancarai pihak LPM OPINI pada Selasa (25/11).

Selepas kampanye lisan, rangkaian acara Pemira berlanjut kepada uji publik khusus untuk paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM FISIP 2026. Rangkaian yang seharusnya menjadi ajang debat bagi berbagai paslon, berakhir menjadi uji publik karena hanya terdapat calon tunggal. 

“Kalau dari (rangkaian kampanye) BEM itu punya tiga rangkaian, yaitu orasi, debat, dan juga uji publik, tetapi karena hanya ada satu paslon, mereka hanya orasi dan uji publik nanti pada Rabu (26/11),” tambah Faisal.

 

Mendengar Visi-Misi Tiap Calon Senator FISIP 

Dalam rangkaian kampanye lisan, terdapat pembagian segmen yang dimulai dari Calon Senator Unit Pelaksana Kegiatan (UPK). Kemudian, dilanjut dengan Calon Senator Program Studi (Prodi) sebelum diakhiri dengan kampanye dari Pasangan Calon (Paslon) BEM FISIP Undip. Melalui wadah yang telah diberikan, tiap calon dapat menyampaikan keresahan maupun aspirasi yang ingin dibawakan nanti apabila memperoleh jabatan. Beberapa poin kampanye merupakan akumulasi dari fenomena yang ditemukan dan menjadi perhatian mahasiswa FISIP. Salah satunya adalah keresahan mengenai implementasi sepihak kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di lingkungan FISIP yang disuarakan oleh Calon Senator UPK Pelayanan Rohani Mahasiswa Kristen (PRMK), Rafaelino Galih. 

“Karena banyak mahasiswa yang menyampaikan aspirasinya terkait dengan KTR ini sendiri. karena dirasa bahwa kebijakan terkait dengan pengadaan KTR ini sendiri kan kebijakan yang diberikan secara satu pihak oleh birokrat,” papar Galih ketika diwawancarai pihak LPM OPINI pada Selasa (25/11).

Selain isu yang berada dalam lingkungan kampus, beberapa calon senator membawakan aspirasi terkait internal Senat Mahasiswa (SM) FISIP Undip. Salah satu Calon Senator Prodi Ilmu Komunikasi, Conny Gracia membawakan janji optimalisasi penyusunan regulasi dan kebijakan yang inklusif terhadap mahasiswa.

“Mengoptimalkan penyusunan regulasi dan kebijakan dari Senat Mahasiswa (FISIP) itu. Yang akan nanti direncanakan, dirancangkan di tahun-tahun selanjutnya, terutama di parlemen tahun ke depan. Agar setiap perumusannya itu memang berasal dari aspirasi yang diadvokasikan,” jawab Conny.

Aspirasi-aspirasi dalam kampanye lisan diharapkan dapat disalurkan kepada birokrat melalui berbagai instrumen yang dimiliki beberapa organisasi mahasiswa (Ormawa) dengan SM FISIP menjadi mediator antara kedua pihak. Akan tetapi, partisipasi mahasiswa dalam mengawal sebuah isu perlu menjadi perhatian.

“Terkait dengan aspirasi, bagaimana cara kita menampung aspirasi itu (nanti), dari himpunan (prodi), dari BEM sendiri, dari senat sendiri, mereka sudah mempunyai badan atau divisi khusus untuk membahas tentang advokasi ini. Untuk menampung advokasi dan bahkan membawakan advokasi itu di senat ke parlemen tahun ini dibagi menjadi dua, yang menampung dan memberikan ke pihak birokrat. Nah, tapi kembali lagi di sini, partisipasi dari mahasiswa FISIP ini kurang,” terang Galih.

 

Mengupas Paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM dalam Kampanye Lisan

Selepas pemaparan kampanye calon senator, rangkaian acara berlanjut pada kampanye Paslon Ketua dan Wakil Ketua BEM FISIP Periode 2026. Dalam waktu yang diberikan, Paslon Rijaldi Rauf-Muhammad Haikal membawakan pentingnya peran advokasi dan partisipasi mahasiswa, lembaga fakultas, dan universitas guna membentuk meaningful participation bagi BEM nantinya. Tidak hanya itu, keduanya menjamin sistem kelembagaan BEM yang terdokumentasi, terukur, dan terciptanya iklim berkelanjutan dalam tata kelolanya. Hal lain yang juga menjadi perhatian bagi paslon adalah perlu adanya sinergitas antara mahasiswa dengan BEM dalam pengawalan isu. Salah satu poin tersebut ditekankan kembali oleh Calon Wakil Ketua BEM (Cawakabem) FISIP, Muhammad Haikal.

“Yang jadi permasalahan utama di sini, adalah anak-anak di FISIP, teman-teman semuanya, itu kayak untuk bisa gerak bareng-bareng, untuk bisa lebih aware terhadap sesuatu, (karena saat ini) sedikit minim gitu, minatnya akan aware terhadap sesuatu,” jelas Haikal.

Upaya akan pengawalan isu tersebut salah satunya akan dilakukan melalui lingkar supporter tiap prodi yang diharapkan dapat lebih menjangkau akar rumput tiap konstituen. Selain itu, budaya dari lingkar supporter dapat teraktualisasi dalam penyampaian aspirasi mahasiswa. 

“Tadi sudah saya jelaskan pada saat kampanye tadi, kita mencoba lihat ada sisi supporter yang bisa kita pantik untuk bisa ikut serta mendorong teman-teman yang ada di kalangan grassroots untuk bisa bergerak gitu. Karena aku bergerak di bidang olahraga kemarin, aku melihat teman-teman supporter ini banyak yang berada di area grassroots gitu. Nah ini yang coba kita pantik, kita arahkan agar iklim supporter ini bukan hanya teriak-teriak di ranah sporty saja, tapi bisa teriak-teriak di ranah iklim akademik, iklim terkait isu yang ada di kampus, dan ataupun isu-isu yang ada di diri mereka masing-masing,” tambah Haikal.

Selain menyampaikan visi-misi melalui kampanye lisan, keduanya juga menggunakan media sosial sebagai alat kampanye. Alasan penggunaan media sosial sebagai alat kampanye dikarenakan masifnya penjaringan dan mudahnya saluran penyebaran.

“Tentu kita mengoptimalkan media sosial, karena sudah tentu teman-teman semuanya aktif dan sering menggunakan sosial media, entah itu dari Instagram dan semacamnya. Di situ kita bangun feed-feed, kita bangun semenarik mungkin lah, dalam feed itu kita (juga) bawakan video kita, sehingga teman-teman bisa membaca apa yang kita bawakan ketika sudah terpantik di situ,” ucap Haikal.

 

Animo yang Minim Akibat Berbagai Faktor

Kampanye lisan yang diharapkan dapat mengumpulkan berbagai elemen mahasiswa, berakhir dengan animo yang fluktuatif dari permulaan hingga akhir acara. Hal ini dapat dikarenakan berbagai faktor, baik karena kurangnya minat mahasiswa, urgensi menghadiri kelas, maupun tendensi mahasiswa menghadiri hanya ketika kampanye BEM itu sendiri. Perasaan ini diutarakan Rafaelino Galih selepas menyelesaikan kampanyenya.

“Terkait dengan antusiasme mahasiswa sendiri, kenapa hal ini bisa terjadi? Mungkin itu karena prinsip mereka sendiri. Mungkin memang dari mereka sedang kelas pas sesi ini gitu. Atau mungkin mereka ada acara lain gitu,” tegas Galih.

Asumsi ini juga dirasakan salah satu audiens dalam kampanye lisan, Augie Rahadian yang menyebut kemungkinan kurangnya partisipasi dikarenakan beberapa mahasiswa yang perlu menghadiri kelas.

“Untuk para audiens dan juga para teman-teman FISIP hari ini yang menonton itu cukup sedikit. Karena mungkin ya tadi sempat disinggung juga sama Mas Firos (Daffa Alfirrosy) selaku Kabem juga. Bahwasanya mungkin teman-teman masuk FISIP hari ini itu, banyak yang ada kelas, ada kelas juga yang di luar FISIP,” tambah Augie ketika diwawancarai pihak LPM OPINI pada Selasa (25/11).

Sementara itu, tendensi untuk mendengarkan kampanye hanya pada bagian paslon BEM juga menjadi alasan akan kurangnya partisipasi mahasiswa dalam kampanye lisan. Pendapat tersebut dijelaskan kembali oleh Ketua KPPR FISIP, Faisal Irsyad akibat pandangan mahasiswa bahwa pemilihan BEM lebih menonjol dibandingkan pemilihan senator.

“Memang tidak dipungkiri ya secara nama Badan Eksekutif Mahasiswa bisa dibilang lebih prestise dari dulu ya dalam pikiran masyarakat (mahasiswa). Banyak orang-orang merasa (BEM) ini adalah sebuah hal yang seksi sekali untuk dibicarakan dan juga dipertanyakan,” ujar Faisal.

Meskipun animo yang fluktuatif, kampanye lisan diharapkan dapat menjadi salah satu bentuk demokrasi dalam Pemira FISIP. 

“Harapanku ketika proses ini berlangsung, dari sesi kampanye, sampai di ujung kita dinyatakan menang atau kalah, di situ bisa berjalan dengan baik. Sehingga, marwah FISIP, (bahwa) demokrasi harus sehat, harus dewasa. Semoga berjalan lancar dari awal titik kita kampanye sampai di ending ketika nanti kita ditentukan menang atau kalah,” tutup Haikal.

 

Reporter: Dafan Mahendra, Najwa Rahma, Natasha Selviana, Ridzqie Abdillah, Shafa Sylvia, Zidan Ahmad

Penulis: Taufiqurrahman Alfarisi

Editor: Davino Hernawan

Pemimpin Redaksi: Kayla Fauziah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *