06/12/2021

KKN Tematik Percepatan Vaksinasi 2021: Untuk Semua Fakultas?

Ilustrasi Program Percepatan Vaksinasi (dok. OPINI/Kevin)

Morpin, Liputan Khusus – Pengabdian kepada masyarakat merupakan salah satu syarat bagi mahasiswa dalam menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Pada umumnya, pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dijadikan ajang bagi para mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat gotong royong, untuk mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah mereka pelajari selama berada di bangku kuliah.

Kesehatan masyarakat menjadi urgensi utama di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia hampir dua tahun belakangan. Isu yang sangat fundamental ini terus ditingkatkan kualitasnya melalui berbagai upaya. KKN Tematik ‘Program Percepatan Vaksinasi Rutin dan Pencegahan Covid-19 di Jawa Tengah’, dihadirkan sebagai salah satu upaya untuk membantu masyarakat dan pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, apakah program yang dibuka bagi mahasiswa dari setiap fakultas di Universitas Diponegoro ini akan dapat menjadi wadah pengimplementasian ilmu-ilmu mahasiswa ke dalam praktik nyata di tengah masyarakat? Mengingat tidak semua jurusan relevan dengan tema pengabdian ini. Mari simak laporannya berikut ini.

Mahasiswa Luar Jateng Tidak Boleh Mengikuti Program Ini?

Sebanyak delapan belas kabupaten dan kota di Jawa Tengah ditetapkan sebagai lokasi KKN Tematik ‘Program Percepatan Vaksinasi Rutin dan Pencegahan Covid-19 di Jawa Tengah’ yang digagas oleh Universitas Diponegoro bersama dengan Unicef. Kurniawan Teguh Martono, ST., MT., selaku Dosen Pembimbing dalam program KKN tematik ini menuturkan bahwa pemilihan lokasi pengabdian didasarkan atas data kesehatan yang diperoleh dari Unicef.

“Delapan belas Kabupaten dan Kota ini, data vaksinasinya belum maksimal, kita ingin memaksimalkannya,” ungkapnya ketika dihubungi Tim OPINI via telepon WhatsApp pada Kamis (28/10).

Kurniawan menambahkan bahwa vaksinasi yang ada dalam program ini tidak hanya vaksinasi Covid-19 saja, melainkan juga termasuk vaksinasi rutin, seperti vaksinasi untuk balita, yang selama pandemi ini proses pelaksanaan vaksinasinya tidak bisa maksimal. Program KKN Tematik ini dikhususkan untuk mahasiswa yang berdomisili di salah satu dari delapan belas lokasi penerjunan. Bukan diskriminasi terhadap mahasiswa yang berdomisili di luar delapan belas lokasi tersebut, melainkan karena universitas menilai bahwa baik proses kegiatan KKN maupun output yang nantinya dihasilkan, akan dapat terlaksana dengan maksimal apabila mahasiswa mengetahui dengan baik kondisi di wilayah penerjunan.

“KKN ini dilaksanakan di kampung halaman masing-masing, jadi kami mengambil benar-benar mahasiswa yang berdomisili di delapan belas kabupaten dan kota tadi, sehingga dengan mengambil lokasi di kampung halaman masing-masing, mahasiswa itu paham kondisi arus pandemi yang ada di wilayahnya,” terang Kurniawan.

Mengapa Dibuka untuk Semua Fakultas?

KKN Tematik “Program Percepatan Vaksinasi Rutin dan Pencegahan Covid-19 di Jawa Tengah” ini dibuka untuk semua fakultas yang ada di Undip tanpa terkecuali. Menurut penuturan dosen Fakultas Teknik Universitas Diponegoro ini, dengan dibukanya program KKN bertemakan “Kesehatan untuk Semua Fakultas”, diharapkan mahasiswa dari semua fakultas dapat berkontribusi dan dengan kontribusinya tersebut dapat memiliki kepedulian tentang vaksinasi serta bisa menjadi agen perubahan.

Kurniawan mengklaim bahwa mahasiswa nantinya tentu bisa mengimplementasikan ilmu-ilmu perkuliahannya dalam pengabdian KKN Tematik ini, mengingat kembali bahwa kesehatan merupakan aspek yang fundamental dalam kehidupan manusia. “Seperti di Teknik Komputer itu dalam kesehatan apa ya kira-kira, misalkan saya bangunkan sistem informasinya yang nanti saya serahkan ke Puskesmas, jadi Puskesmas bisa melihat data balita secara online, real time,” jelasnya.

KKN Reguler atau Tematik, Mana yang Lebih Disarankan?

Universitas Diponegoro memiliki dua jenis program KKN, yaitu KKN reguler dan KKN tematik yang dapat dipilih oleh mahasiswa sebagai sarana pengabdian. Kedua jenis KKN tersebut memiliki perbedaan yang mendasar dalam proses pelaksanaannya. “KKN tematik ini adalah kebebasan bagi mahasiswa untuk memilihnya atau tidak karena nanti pada saatnya akan ada seleksi,“ ungkap Kurniawan.

Lebih lanjut, dosen Departemen Teknik Komputer Universitas Diponegoro ini menyarankan mahasiswa untuk memilih program KKN yang menurut mereka adalah yang terbaik untuk mereka sendiri, entah itu reguler ataupun tematik. “Ketika sudah mengambil yang terbaik, harapannya nanti bisa lulus tepat waktu,” tutupnya.

Implementasi Ilmu Perkuliahan yang Kurang Maksimal dalam Pengabdian

Bera Miranta, mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro, melaksanakan kegiatan KKN tematik di Desa Saradan, Kabupaten Sragen. Menurutnya kesempatan untuk dapat melaksanakan KKN di daerah asal merupakan keuntungan mengikuti KKN tematik ini, meskipun di sisi lain mahasiswa harus menyiapkan dan melaksanakan program kerjanya secara mandiri.

“Aku tertarik (mengikuti KKN tematik ‘Program Percepatan Vaksinasi Rutin dan Pencegahan Covid-19 di Jawa Tengah’) karena mengira kalau kegiatannya tidak jauh-jauh dari membantu proses vaksinasi. Aku membayangkan pelaksanaan KKN tematik ini ya nantinya membantu pihak dari Dinas Kesehatan ataupun petugas-petugas kesehatan agar masyarakat bisa segera mendapatkan vaksinasi Covid-19. Ternyata kegiatannya berbeda dari ekspektasiku,” terang Bera ketika dihubungi Tim OPINI pada Jumat (22/10).

Mahasiswa D4 Rekayasa Perancangan Mekanik angkatan 2019 tersebut menjelaskan bahwa program-program yang dapat dilaksanakan dalam KKN tematik ini tidak mengharuskan mahasiswa berasal dari program studi yang berhubungan dengan kesehatan, sehingga mahasiswa dari setiap jurusan dapat ikut berkontribusi. Meskipun latar belakang perkuliahannya tidak relevan dengan tema KKN, mahasiswa tetap bisa melaksanakan program seperti edukasi mengenai 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak), pemantauan pembelajaran tatap muka di sekolah, dan lain sebagainya.

Lantas apa yang membedakan KKN tematik ini dengan KKN reguler atau KKN tematik lainnya? Bera mengungkapkan, mahasiswa mendapatkan tugas utama untuk mengeksekusi 2 program kerja dan juga program tambahan. Program kerja pertama harus difokuskan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19, sementara program kedua mengarah pada pemberdayaan masyarakat mengenai program percepatan vaksinasi. Dalam tugas tambahannya, mahasiswa diminta untuk mendata imunisasi apa saja yang telah diterima oleh baduta (anak usia di bawah dua tahun) di lokasi penerjunan.

Mengingat KKN tematik ini merupakan program kolaborasi antara Unicef dengan Universitas Diponegoro, setiap harinya mahasiswa juga diharuskan melakukan pemantauan penerapan protokol kesehatan di 2 sekolah dan 1 tempat umum. Melalui program-program tersebut, memang akan sangat sulit bagi peserta KKN tematik (dari jurusan yang tidak berkaitan dengan tema KKN) untuk dapat mengimplementasikan ilmu-ilmu perkuliahan mereka dalam pengabdian ini.

“Di sini aku tidak memandang dari mana jurusanku atau kuliahku tentang apa. Yang terpenting menurutku keinginan dan juga niat dari mahasiswa untuk berkontribusi pada program percepatan vaksinasi Covid-19, karena (program ini) memang sangat urgent,” tutup Bera.

Antusiasme Mahasiswa terhadap Program Ini

Cukup berbeda dari Bera, dengan ilmu pengetahuan kelautan yang dimiliki, Petrik Siano Okta Prima Lesmana mengaku bahwa dirinya kurang berminat untuk mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat ini. Mahasiswa Oseanografi angkatan 2019 ini lebih tertarik untuk mengikuti KKN tematik dengan tema yang memberi kesempatan untuk dapat mengaplikasikan ilmunya.

“Setahu saya program KKN tematik yang dijalankan (oleh mahasiswa Oseanografi) berupa program ke masyarakat serta program ke lingkungan. Program ke masyarakat berupa sosialisasi mengenai pelestarian laut dan pesisir sedangkan program ke lingkungan berupa coastal clean up dan aksi relawan lainnya,” tuturnya kepada Tim OPINI ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp (23/10).

Menurut Petrik, minimnya sosialisasi di tingkat departemen juga menjadi salah satu penyebab kurangnya informasi mengenai KKN dengan tema vaksinasi ini. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa sulitnya mengatur waktu antara perkuliahan dan kegiatan KKN juga akan menjadi

permasalahan baginya jika memutuskan untuk berpartisipasi dalam KKN tematik ‘Program Percepatan Vaksinasi Rutin dan Pencegahan Covid-19 di Jawa Tengah’.

“Menurut saya waktu yang ideal untuk melaksanakan KKN adalah semester 6 mengingat praktikum yang banyak di semester 5. Terdapat mata kuliah penting pada semester ini sehingga sangat berisiko apabila membagi waktu perkuliahan dengan KKN. Semester 6 memiliki beban praktikum yang lebih sedikit,” tutupnya.

Karena pentingnya program vaksinasi dalam penanganan pandemi Covid-19, wajar apabila Universitas Diponegoro kemudian menerjunkan mahasiswanya agar turut berkontribusi. Meskipun demikian, apakah tepat jika program pengabdian ini diperuntukkan bagi mahasiswa dari semua fakultas? Berdasarkan fakta di lapangan, hal ini akan menjadi tantangan yang sulit bagi mahasiswa (terutama dari jurusan yang kurang berhubungan dengan tema KKN) untuk dapat mengaplikasikan ilmu perkuliahannya pada KKN tematik ini.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka akan muncul pertanyaan, manakah yang lebih penting bagi mahasiswa? Turut berkontribusi dalam menyukseskan program vaksinasi Covid-19 yang bersifat urgent, atau memaksimalkan pengaplikasian ilmunya melalui pengabdian terhadap masyarakat dalam kesempatan lain? Tentu setiap mahasiswa akan memiliki jawabannya masing-masing.

 

*Liputan ini merupakan bagian dari Buletin Morpin Edisi Spesial Jurmud 2021

Penulis: Muhammad Kevin S. L dan Atika Utami

Editor: Fani Adhiti

Redaktur Pelaksana: Berliana Syafa Kirana

Pemimpin Redaksi: Langgeng Irma Salugiasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *