06/12/2021

Makan Bersama

Ilustrasi: Alvina Amallia (LPM OPINI)

Nih, pesananmu.”

Oohh. Aku nggak tau kalau tumis buncis wortel ada dagingnya.”

“Itu buat kamu. Kamu langganan di sini sudah lama, sekali-kali nggak apa-apa traktir pelanggan,” kata pemilik tersenyum ceria sambil mengeluarkan jari jempolnya.

Benar, seharusnya begitu. Seingatku, pertama kali aku memakan masakan di warung makan ini adalah ketika aku baru masuk kuliah di kota ini. Atau bukan. Yang pasti, sudah sejak lama aku makan siang di warung ini dan menjadi pelanggan tetap. Kalau tidak memberi bonus pada pelanggan tetap nomor satu ini, rasanya kebangetan.

Alasan utama aku memilih tempat ini sebagai langganan untuk makan siang, tak lain dan tak bukan adalah harganya. Untuk ukuran kantong mahasiswa, makanan di sini cukup murah dan memiliki banyak pilihan menu. Walaupun menunya bisa dibilang sederhana, hal itu tidak berguna di hadapan mahasiswa dompet tipis. Tak heran tempat ini selalu ramai oleh mahasiswa kelaparan pada siang hari. 

Yang aku ingin tanyakan pada pemiliknya dari warung makan ini hanya satu, ‘apa warungnya ada yang ‘bantu’ jualan?’, karena makanan di sini sangat enak. Serius, nggak boong. Tapi sayangnya, aku tidak pernah punya kesempatan untuk membuktikannya karena selalu sibuk dengan kegiatan kuliah. Mungkin bila ingin berprasangka baik, juru masaknya itu pensiunan juru masak restoran terkenal.

Makasih, Bu. Makanan di sini selalu enak!” balasku dengan menyodorkan jari jempol dengan semangat.

“Oh iya, kalian berdua selalu pesan makanan yang sama, ‘kan? Kenapa nggak ajak makan bareng saja?”

Mendengarnya, aku mengikuti arah pandangan si pemilik warung yang tertuju pada satu wanita yang duduk di pojokan. 

Dari yang kuperhatikan, wanita itu memiliki mata yang memancarkan semangat dan bibir yang selalu tersenyum. Dia juga selalu mengenakan pakaian rapi dan elegan, cocok dengan tubuh rampingnya. Menurutku, jarang ada wanita secantik ini yang pesan makanan dan menjadi langganan di warung makan “pinggiran”. Namun, selalu menyenangkan bila mata bisa memandang sesuatu yang indah di tempat seperti ini. 

“Err….”

“Hari ini dia pesan makanan yang sama. Aku juga ngasih tambahan daging di pesanannya. Kamu kenal dia, nggak?”

“Enggak. Mungkin dia dari fakultas lain, soalnya aku nggak pernah lihat dia di fakultasku.”

“Kukira kamu kenal dengannya. Dia selalu memesan makanan dari kiri ke kanan sesuai dengan menu, sama denganmu. Mungkin sudah satu bulan dia melakukannya.”

Ngomong-ngomong, aku baru sadar bahwa wanita ini selalu memesan makanan yang sama dengan diriku dalam satu minggu ini. Dia juga selalu datang di waktu yang sama dan duduk di tempat yang sama. Aku baru menyadarinya karena jarang sekali menemukan ‘mutiara’ di tempat seperti ini. Mungkin dia juga merasa menemukan hidden gem, sama sepertiku, makanya dia selalu makan siang di sini. 

“Kalian ini lagi ikutan lomba, atau gimana?”

“Pemenangnya yang nggak melewatkan memesan makanan di menu satu hari pun. Mungkin….”

“Kamu nggak ajak ngobrol dia?”

“Dia bukan sepantaranku. Aku ini pemain cadangan yang lagi cedera.”

“Oh, benar juga, kelihatan dari tampangmu.”

“Hhgg….”

Seakan menemukan bahasan bagus, pemilik warung mencondongkan badannya ke arahku dengan tangan kanannya menutupi senyum di bibirnya.

“Tapi, dia cantik, ‘kan?”

“Ada pertimbangan lain selain wajah, lho.”

“Menurutku, kalau dilihat-lihat kamu masih punya kesempatan, lho.”

“Di lain hari, aku pernah lihat dia boncengan sama cowok lain. Kelihatannya mesra banget.”

“Tuh, ‘kan. Matamu saja nggak bisa nggak melihatnya, ‘kan?”

Aku tidak bisa membalasnya. Pandai kali Ibu satu ini kalau soal gosip-menggosip.

Aku pun melanjutkan makanku sambil sesekali menatap ke arah wanita itu. Aku berusaha untuk tidak kelihatan mencurigakan karena tidak lucu bila dia memergokiku sedang mencuri-curi pandang dirinya yang sedang makan.

Setelah beberapa saat bergantian antara mengunyah makanan dan menavigasi bola mata, kulihat wanita itu merapikan riasan wajahnya. Aku pun berpura-pura tidak sadar akan dirinya ketika dia melewati tempat dudukku untuk membayar makanannya. 

Setelah memperhatikannya selama beberapa hari, aku sadar akan sesuatu tentang wanita itu. Dia selalu datang ke tempat ini dengan senyum bahagia di wajahnya seakan-akan dirinya sudah lama menantikannya. Dia juga selalu menyantap makanan yang disajikan dengan lahapnya. Namun, di sisi lain, ketika sudah menghabiskan makanannya, dirinya seperti menjadi orang yang berbeda. Mungkin saja sebelumnya dia sangat lapar dan menantikan makan siangnya, dan setelah selesai, dia kembali dihadapkan pada sibuknya kegiatan yang akan dilakukannya.

Aku tidak ingin mempercayainya, tapi, mungkin, mungkin saja bukan itu alasan senyum itu terpampang di wajahnya ketika datang ke warung ini. Hanya datang di hari kerja, selalu tiba setelah jarum panjang menunjukkan dua belas lewat lima belas, di ruangan yang sama, kita menyantap makanan yang sama. Hanya karena itu saja, memikirkan ada ikatan yang terjalin di antara kita berdua, sungguh bodoh.

 

***

 

“Bu, aku pesan satu nasi kari, dong!”

“Oke, sebentar.”

Ketika sedang menunggu pesanan datang, aku mendengar suara yang tak asing. Suara itu saling menyahut satu sama lain dengan suara berat yang belum pernah kudengar. Tak sadar, aku langsung memalingkan wajahku ke arah pintu warung dan kulihat wanita itu datang bersama satu teman laki-lakinya. Laki-laki itu adalah orang yang kulihat di lain hari bersama wanita itu.

Mereka duduk di tempat yang selalu diduduki oleh wanita itu.

“Mau pesan apa mas dan mbak?” tanya salah satu pelayan.

“Ehh… kalo aku pesan salad. Kalo kamu?”

“Aku pesan nasi rendang saja.”

Eh, apa ini? Bukankah hari ini harusnya nasi kari? Kamu ‘kan yang pertama kali memulainya? Kok bisa menyerah begitu saja? Jadi, begitu ya. Wanita bisa mengubah pikirannya dengan gampang….

Jadi … aku menang, ‘kan? Tapi, kok sendok ini nggak mau gerak? Sensasi apa ini? Keadaanku saat ini seperti aku memenangkan pertarungan tapi kalah dalam peperangan! Tidak bisa dipercaya. Juga, kenapa kamu menyantap makananmu dengan anggun seperti itu? Ke mana perginya selera makanmu yang kemarin-kemarin itu?

Dia sudah seperti orang yang berbeda. Seperti, aku baru bertemu dengan orang baru.

Sejujurnya, aku di sini yang bodoh. Ucapan pemilik kemarin memberiku sedikit harapan. Aku sangat senang. Jika saja, jika saja … aku yang di sana. Mungkin dia tak perlu menahan diri seperti itu. Aku akan dengan bebas membiarkan dia melakukan apa yang dia mau.

Ughh … kenapa aku jadi begini? Kenapa aku menjadi sensitif seperti ini? Ini bukan seperti memilikinya, ‘kan? Aku bahkan tidak tahu namanya! Aku seperti bukan diriku lagi.

Aku tak sanggup melihat dirinya seperti itu. Namun, aku juga tak bisa menyantap makanan di hadapanku. Mataku terus tertuju pada senyum kecut dan tawanya yang tertahan.

Oh … Mungkin ini yang namanya rasa kasihan? Di mana orang tidak bisa mendapatkan apa yang dia mau, sedangkan diriku bisa mendapatkannya? Betul juga. Aku kasihan padanya karena harus menahan diri dan berperilaku yang seperti bukan dirinya itu. Aku paham akan perasaannya, karena aku juga sering dihadapkan pada situasi itu.

Sialan. Kenapa rasa kari ini tidak enak? “Pembantunya” lagi libur atau bagaimana? Kalau seperti ini, mungkin aku harus mencari tempat makan baru. Hanya saja, aku tidak tahu tempat makan yang seperti ini lagi. Sangat jarang ada warung makan “pinggiran” yang memiliki rasa bintang lima dan harga kaki lima ini. 

Ketika kulihat ke arah mereka lagi, mereka sedang bersiap-siap untuk membayar dan pulang. Cepat kali mereka ini. Hei, kamu bahkan belum menghabiskan salad-mu! Biasanya kamu akan menghabiskan apa pun yang ada di hadapanmu. Apa laki-laki itu merasa tempat seperti ini kurang cocok untuk makan bersama pasangan? Mungkin saja laki-laki itu ingin pergi ke tempat lain yang lebih ke “atas” daripada di “pinggiran” seperti ini? Seharusnya kamu menolak!

“Ini kembaliannya. Makasih banyak!”

“Oke, sama-sama.”

Kamu mau pergi ke mana? Habiskan dulu makananmu itu. Tidak baik menyisakannya. Kamu seperti menjadi orang yang tidak kukenal. Apa karena laki-laki itu kamu berubah? Sayang sekali. Kukira kamu memiliki harga diri yang tinggi. Apakah aku salah selama ini menilaimu? Atau kamu yang dari awal seperti itu?

Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu.

“Permisi. Hari ini pemilik warung ini lagi berbagi nasi kari gratis. Kalau kamu bersedia mau mencobanya, nggak?”

Aku menahan mereka ketika mereka hendak pergi ke tempat parkir. Kulihat muka si laki-laki kebingungan dan si wanita hanya terdiam menatapku. Aku hanya diam menatapnya, menunggu jawaban darinya.

“Apa kamu kenal dia?”

“Uh, maaf ya, ternyata aku ada urusan sama dia. Bisa nggak kita perginya lain kali saja?”

Kata wanita itu sambil menarik lenganku kembali ke dalam warung.

 

***

 

“Kayaknya “pembantunya” sudah datang.”

“Hah?”

“Enggak.”

“Kulihat kamu menghabiskannya. Kayaknya tadi mukamu kelihatan habis makan makanan basi.”

“Ya….”

Kupalingkan wajahku ke arah lain. Kulihat di ujung mataku, dirinya sedang kesusahan akan sesuatu.

“Seharusnya, cowok itu selesai kuliahnya jam setengah dua. Tapi katanya dia ingin makan siang denganku mumpung kelasnya lagi kosong.”

“Di depannya, sikapku berbeda dengan diriku yang biasanya. Aku mengubah sikapku sesuai dengan keinginannya. Kelihatan menyedihkan, ‘kan?”

“Aku tidak bisa makan makanan yang kusuka di depannya. Aku juga merasa hampa berhubungan dengannya.”

“Ya….”

Aku menggaruk kepala belakangku. Sejujurnya, aku tak tahu mau menjawab apa. 

“Maksudku … aku merasa senang makan siang bersamamu!”

Aku mengerutkan alis.

“Eh, ya jangan berputar-putar, gitu!”

“Aku baru mau bilang!”

“Maaf kalian berdua. Kayaknya kalian ada kelas ‘kan di jam ini?”

Sialan.

Kita berdua dengan cepat bersiap-siap dan berpamitan pada si pemilik yang sedari tadi menutupi mulutnya dan berusaha tidak tertawa sambil melihat ke arah kami berdua.

Penulis: Wahyu Hidayat

Editor: Annisa Qonita & Fani Adhiti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *