19/09/2021

Menanti “Serba-Serbi Hybrid”, Gairah Baru Usai Pandemi

Ilustrasi Virtual Meeting di Smartphone (LPM OPINI/Journation 3.0)

I. Pendahuluan

Sudah lebih dari satu tahun pandemi ini mengurung manusia, apabila kita tilik secara historis mengenai konsekuensi yang harus kita hadapi pasca pandemi rasanya seperti mengalami “de javu” dalam arti sebenarnya. Bagaimana tidak, mengingat dampak psikologis maupun sosial yang masih melekat akibat flu spanyol yang sering disebut sebagai pandemi terburuk pada abad ke-20. Julukan tersebut tak terlalu berlebihan mengingat angka kematian yang terjadi karena pandemi tersebut dengan menewaskan kurang lebih 20-100 juta penduduk. Wabah lainnya yang “pernah” kita lewati dan tak kalah buruknya adalah tewasnya 1/3 populasi manusia akibat wabah pes yang terjadi di benua Eropa pada abad ke-14 dan juga penyakit cacar yang terjadi sepanjang abad 20 yang akhirnya membunuh 300-540 juta penduduk bumi. Kini kita dihadapkan dengan problema yang sama dengan munculnya pendemi Coronavirus Disease-19. Kini muncul pertanyaan “Bagaimana kehidupan akan berubah setelah pandemi?”

Tentu tidak ada yang tahu bagaimana kehidupan akan bergulir setelah pandemi ini usai, dan juga tidak ada yang tahu apakah pandemi ini nantinya akan mengubah peradaban kita sebagai manusia. Seorang filsuf asal Prancis pada abad ke-20 Albert Camus dalam bukunya berpendapat bahwa wabah dapat menjadi momentum manusia untuk memasuki sebuah ruang kosong bernama absurditas, di mana ketidakjelasan masa depan merupakan hakikat hidup manusia.1 Pandemi ini membuat kita berada di tingkat absurditas yang sesungguhnya atas konsekuensi apa yang kita hadapi kedepannya. Namun yang jauh lebih penting dari hal tersebut adalah bagaimana kita merespon konsekunsi tersebut. Menjadi penting dikarenakan dampak pandemi yang telah menyoroti berbagai disfungsi mulai politik, ekonomi, sosial serta berbagai sektor lain yang ada.

Dalam perjalanan atas absurditas yang nanti akan terjadi sebagai konsekuensi post-pandemi, namun yang perlu kita pahami adalah absurditas tidak selalu bernilai negatif. Di tengah ketidaksiapan kita menghadapi pandemi justru muncul berbagai inovasi salah satu yang cukup menarik perhatian adalah konsep sistem hybrid. Sistem yang kini sedang naik daun karena berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam usaha mencegah penyebaran pandemi COVID-19 ini nampaknya mulai merambah ke berbagai sektor mulai dari pendidikan, usaha, media, bahkan gaya hidup. Lantas sampai di mana serba-serbi hybrid ini setidaknya dapat menjadi gairah baru manusia dalam memenuhi kebutuhan dan hasrat yang dimilikinya seusai pandemi ini surut?

II. Pembahasan

Jan Nenderven Pieterse dalam jurnalnya yang berjudul “Globalization goes in circles: Hybridities East-West”. Ia mengatakan bahwa hibridisasi adalah ‘benturan peradaban’ di mana dalam hal ini merupakan salah satu dari tiga besar pendekatan untuk menciptakan sebuah budaya baru. Salah satunya gagasannya bahwa nantinya budaya global adalah menjadi standar baru yang seragam, kemudian gagasan bahwa hibridisasi adalah membenturkan ‘dua peradaban’ dan hibridisasi adalah bentuk adanya globalisasi atau gagasan bahwa globalisasi menghasilkan kombinasi baru dan campuran (hibridisasi). Pandangan hibridisasi menyatakan bahwa pengalaman budaya masa lalu dan sekarang belum pernah bergerak ke arah sinkronisasi budaya.2 Konsep hybrid sendiri tak bisa dipisahkan dengan proses penyatuannya (hibridisasi). Tak bisa dipungkiri juga bahwa hibridisasi budaya tidak akan terjadi dengan sendirinya, dengan kata lain perlunya impuls atau dorongan bagi suatu negara untuk akhirnya memulai proses hibridisasi budaya.

Setidaknya kini hampir semua sektor telah meggunakan konsep hybrid di tengah pandemi karena adanya dorongan melalui pesatnya pertumbuhan teknologi yang menjadi faktor utama hibridisasi. Faktor pendorong tersebut nampaknya amat relevan dengan kondisi yang terjadi di masyarakat dunia tetapi khususnya Indonesia, mengingat Indonesia sendiri merupakan salah satu negara Asia Tenggara dengan pertumbuhan platform digital terbesar. Hal ini dikarenakan oleh munculnya berbagai start-up company dari dalam negeri yang bergerak di ekonomi digital. Bahkan laporan e-Conomy SEA mengungkap bahwa ekonomi digital di Indonesia secara keseluruhan diperkirakan akan mencapai Rp624,2 triliun pada 2020. Adanya kenaikan angka konsemen layanan digital di Asia Tenggara dengan lebih dari sepertiganya mulai menggunakan layanan online karena COVID-19. Di Indonesia sendiri terjadi kenaikan pengguna layanan online baru akibat pandemi di angka 37. Dengan meningkatnya pengguna dari daerah non-metro di angka 56 persen. Di sisi lain penggunaan digital rata-rata per hari selama pandemi pun meningkat dari 3,6 jam menjadi 4,7 jam selama PSBB. Pertambahan pengguna layanan online tersebut tak lepas dari berbagai sektor yang menerapkan metode hybrid mulai dari sektor pendidikan dan produktif (pekerjaan), komunikasi dan lain sebagainya. Beberapa sektor yang menggunakan hybrid sebagai pattern baru dalam menjalankan kegiatannya:

  •  Hybrid Working di sektor produktif
    Riset menunjukkan bahwa bekerja secara hybrid selama era new normal, tercatat koresponden yang bersedia untuk bekerja remote dalam beberapa waktu untuk sepanjang kariernya sekitar 98 persen. Dari 98 persen tersebut, 32 persen koresponden yang suka bekerja di rumah karena fleksibel. Ada 26 persen yang suka bekerja di mana saja dengan internet dan laptop. Sekitar 21 persen, merasa senang karena hemat energi dan tidak perlu berpergian. Kissflow, salah satu penyedia layanan kerja digital dengan kantor di AS dan India telah memperkenalkan model kerja hybrid yang disebut REMOTE+. Model kerja tersebut memberikan tiga minggu untuk bekerja dari mana saja dan satu minggu kerja berbasis kantor. Tak hanya itu, perusahaan pun menanggung biaya akomodasi untuk minggu kantor, dan memberi kesempatan karyawan untuk bekerja di rumah dengan sisa waktunya. Hybrid Working dianggap ideal karena dapat menggabungkan adanya struktur dan keramahan, serta kemandirian dan fleksibilitas dalam bekerja
  • Blanded Learning di sektor pendidikan
    Beralih ke sektor pendidikan, di mana dalam pelaksanaan pembelajaran online setelah adanya pandemi terdapat tiga macam model pembelajaran mulai dari online dengan tatap muka (blanded learning), online tanpa tatap muka dan offline. Universitas Bandar Lampung melakukan penelitian mengenai kepuasan preferensi dari ketiga metode pembelajaran tersebut. Dari penelitian itu 69% mahasiswa memilih kuliah online daripada offline. Kemudian berdasarkan angka kepuasan, 382 dari 561 atau sekitar 68% mahasiswa merasa puas terhadap pembelajaran online tatap muka (blanded learning) yang selama ini mereka ikuti. Setelah mengetahui pendapat mahasiswa mengenai metode pembelajaran ini membuka peluang akan adanya inovasi terhadap metode pembelajaran yang akan dilaksanakan kedepannya. Flexi learning adalah salah satu metode pembelajaran hybrid yang ditawarkan Universitas Bandar Lampung dan perguruan tinggi lainnya kepada mahasiswa di era new normal dan kedepannya.
  • Virtual Meeting di sektor komunikasi
    Munculnya berbagai platform seperti Zoom dan Google Meet akhirnya mendorong gaya komunikasi kita yang kini mungkin telah banyak beralih menggunakan metode virtual tatap muka dibandingkan tanpa adanya tatap muka. Beberapa orang merasa tidak bisa memilih antara metode mana yang lebih baik namun kebanyakan daripada mereka percaya bahwa komunikasi virtual akan menjadi bagian permanen dari kehidupan kita. Argumen tersebut nampaknya berdasar mengingat beralihnya sektor produktif (pekerjaan) ke arah hybrid yang secara tidak langsung juga menyeret preferensi masyarakat ke arah “hybrid”, mengingat salah satu interaksi terbesar bagi seorang individu yaitu dengan pelanggan, rekan kerja, atau pemangku kepentingan. Komunikasi dengan hybrid memberi kemudahan dan fleksibilitas namun tanpa mengurangi esensi komunikasi yang sebenarnya.
  • Modular House di sektor hunian
    Kedepannya lonjakan kebutuhan upaya cepat tanggap terkait tempat penanganan yang praktis, portable, prefabrikasi, dan /atau mudah diadaptasikan. Fasilitas yang dibuat pun khusus untuk konstruksi modular dan penggunaan terpadu sesuai dengan kondisi ruang yang lebih tinggi, fleksibel, dan dapat disesuaikan. Adanya lonjakan tersebut tak lepas dari beberapa keuntungan yang sangat menarik di masa depan. Fabrikasi dan perakitan komponen bangunan di luar lokasi pembangunan, misalnya di gudang, menjadi alternatif yang lebih sehat untuk konstruksi tradisional. Ini juga bisa menjadi cara yang lebih cepat untuk membangun dan memberikan fasilitas dengan cepat untuk mengatasi krisis tentang penyediaan stok perumahan. Sistem bangunan modular juga dapat mengurangi risiko pengembangan untuk pengembangan multiguna dan multifase.
  • Live Streaming Event di sektor hiburan
    Hiburan adalah salah satu sektor yang paling merasakan imbas pandemi setelah kesehatan. Sempat mati surinya dunia hiburan akibat pandemi akhirnya memaksa seluruh palaku dan penikmat dunia hiburan untuk bangkit dan kembali menjalankan kegiatannya dengan protokol kesehatan dan metode hybrid. Pemilihan metode hybrid sendiri dilatarbelakangi dengan semangat bersama untuk kembali menggerakan dunia hiburan salah satunya dalam industri event, daripada harus berdiam diri saja. Dengan memilih metode hybrid, penyelenggara juga akhirnya belajar untuk memanfaatkan teknologi untuk menyiarkan event-event yang digelar secara offline untuk nantinya disiarkan secara online. Keuntungan metode hybrid yang cukup ringkas dan tidak mengeluarkan cost yang besar membuat acara yang dihelat secara hibrida (hybrid) masih akan menjadi tren bagi masyarakat seusai pandemi rampung.

Beberapa sektor di atas menunjukkan bagaimana sekiranya metode hibrid akan menjadi sebuah ekosistem baru seusai pandemi, mengingat kehadirannya di tengah pandemi ini menjadi ketergantungan baru bagi masyarakat. Metode hybrid ini ibarat oase bagi manusia ditengah gurun yang terik akan panasnya matahari, memberikan gairah baru dalam menjalani kehidupan seusai pandemi. Maka tak aneh apabila kedepannya muncul serba-serbi hybrid baru yang meramaikan kehidupan manusia bahkan setelah pandemi COVID-19 ini usai. Serba-serbi tersebut nantinya akan mewarnai hari mulai dari terbangun di atas kasur yang terbuat dari pegas dan busa di pagi hari hingga menutup hari dengan makan dipinggir jalan dan membayarnya menggunakan uang elektronik. Peradaban baru telah menunggu manusia, dan hibridiasi adalah salah satu loncatan yang membawa kita menuju peradaban baru di mana teknologi menjadi pemberi jawaban atas kebutuhan manusia.

 

III. Kesimpulan
Pada akhirnya pandemi ini tidak hanya memberikan pemahaman nyata atas pernyataan Albert Camus bahwa absurditas tidak selalu berarti negatif. Tak berlebihan nampaknya apabila mengatakan bahwa absurditas yang diberikan oleh pandemi kali ini justru merupakan akselerator akan kemajuan bagi kehidupan manusia. Dengan munculnya hibridisasi sebagai jalan tengah di mana sifatnya menggabungkan cara hidup konvensional dan modern (dengan digitalisasi) nantinya akan memberikan kemudahan bagi setiap manusia untuk menjalani kehidupan setelah pandemi terutama di masa transisi menuju kemajuan industri dan teknologi. Selain itu rasanya tak mungkin mudah melepaskan platform digital, mengingat selama ini ketergantungan manusia dalam memenuhi segala kebutuhannya. Sehingga bukan sesuatu yang aneh apabila kedepannya kita ditawarkan berbagai berbagai serba-serbi hybrid dalam berbagai sektor dan lini kehidupan manusia. Serba-serbi hybrid ini yang nantinya akan menjadi “new normal” bagi manusia dalam menjalankan aktivitas dan memenuhi kebutuhannya. Dengan hibridisasi manusia dapat tetap mempertahankan budaya lamanya, namun juga bergerak menuju budaya baru yang nantinya mungkin akan menimbulkan culture shock apabila tidak adanya hibridisasi yang menjadi jembatan peradaban budaya.

IV. Saran
Dalam mengembangkan metode hybrid di berbagai sektor sebagai usaha menghadapi kehidupan baru seusai pandemi, terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan diantaranya;

  • Memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwasanya hibridisasi adalah pola yang mesti diterapkan dalam kegiatan berbagai sektor mengingat stagnansi yang dialami oleh negara akibat pandemi.
  • Menciptakan pola hibridisasi yang baik agar tidak menghilangkan esensi dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh sektor yang menerapkannya.
  • Mendorong pertumbuhan teknologi dalam negeri terutama di sektor produktif agar nantinya kita tidak hanya menjadi penikmat industri teknologi namun juga perintis.
  • Memberikan koridor dan regulasi te bagi hibridisasi agar tidak menggerus jati diri bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka
Camus, Albert. 1985. Sampar (terjemahan Nh. Dini). Jakarta: Yayasan Penerbit Obor
Finn, Paterson, 2020. Redesigning Mixed-Use Environments for a Post-Pandemic World. https://www.gensler.com/blog/redesigning-mixed-use-environments-for-a-post-pandemic-world (diakses pada 04 Juni 2021. Pukul 23.27)
Pieterse, Jan Nenderven, 2006. Globalization goes in circles: Hybridities East-West. Münster: LIT Verlag, 2006.
Ro, Christine, 2020. Why the future of work might be ‘hybrid’. https://www.bbc.com/worklife/article/20200824-why-the-future-of-work-might-be-hybrid (diakses pada 02 Juni 2021. Pukul 13.55)
Redaputri, Prastyo, Barusman, 2021. Analisis Kepuasan Mahasiswa dalam Pelaksanaan Pembelajaran Online di Era Pandemi Covid-19 { HYPERLINK https://journal.unilak.ac.id/index.php/lectura/article/view/5463/2657}. (diakses pada 03 Juni 2021. Pukul 14.33)

 

Ditulis oleh:

Samuel Bintang Robby H

Juara Harapan 3 Lomba Essai Journation 3.0 LPM OPINI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *