01/08/2021

Refleksi Hari Hutan Sedunia : Deforestasi hingga Bencana Awal Tahun

Hutan di Gunung Api Purba Ngelanggeran. (Foto : Dita Suci/LPM OPINI)

LPM Opini – Hutan disebut sebagai paru-paru dunia karena hutan produktif menghasilkan oksigen bagi kelangsungan hidup manusia. Dilansir dari merdeka.com, hutan menutupi hampir ⅓ daratan di bumi ini dan menyediakan berbagai infrastruktur organik. Hal ini membuktikan betapa pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup manusia. 

Namun demikian, yang terjadi justru hutan semakin mengalami kemerosotan. Kemerosotan ini ditandai dengan banyaknya kasus krisis hutan seperti kebakaran hutan, deforestasi, dan lain-lain. 

Menghadapi Awal Tahun dengan Banjir di Kalimantan Selatan

Banjir yang terjadi pada awal tahun di Kalimantan Selatan ini banyak dibicarakan oleh khalayak karena adanya simpang siur tentang penyebab terjadinya. 

Dilansir dari Forest Watch Indonesia (FWI), para aktivis menyoroti banjir disebabkan oleh berkurangnya hutan di Kalimantan Selatan. Sementara itu, Menteri Lingkungan dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, mengklaim bahwa banjir terjadi karena curah hujan yang tinggi.

FWI mengidentifikasi curah hujan di Indonesia atas klaim dari Menteri LHK sebelumnya. Hasil identifikasi ini menunjukkan bahwa peningkatan curah hujan pada musim penghujan pun masih pada angka yang stabil, sehingga mengaitkan bencana banjir di Kalimantan Selatan dengan curah hujan merupakan hal yang tidak relevan. 

Kasus banjir di Kalimantan Selatan ini disebabkan oleh kurangnya tutupan hutan di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito dan Maluka. Hal tersebut dikarenakan deforestasi secara terus menerus mengakibatkan perubahan iklim. 

Dilansir dari tempo.co, DAS Barito yang awalnya seluas 6,2 juta hektar, pada tahun 2019 tutupan hutannya hanya tinggal 3,5 juta hektar. Sedang DAS Maluka, dari total awal 88 ribu hektar sekarang hanya tinggal 854 hektar.

Menurut Juru Kampanye Hutan Greenpeace, Arie Rompas, dalam diskusi daring yang dikutip dari tempo.co, deforestasi merupakan kontribusi nyata dari banjir di Kalimantan Selatan.

“Fakta di Kalimantan menunjukkan deforestasi dan penggunaan tata guna lahan berkontribusi nyata terhadap terjadinya banjir di Kalimantan Selatan,” kata Arie.

Deforestasi di Indonesia

Merujuk pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 70 Tahun 2017, deforestasi didefinisikan sebagai  perubahan secara permanen dari areal berhutan menjadi tidak berhutan. Kementerian LHK menyebutkan bahwa deforestasi di Indonesia menurun sekitar 75% dari tahun sebelumnya. Indonesia berhasil menurunkan angka deforestasi sebesar 115.459 hektar dibanding tahun sebelumnya sebesar 462.460 hektar. 

Mengutip dari mongabay.co.id, Belinda A. Margono, Direktur Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan (PSDH) Ditjen Planologi dan Tata Lingkungan Kementerian LHK mengatakan, deforestasi ini merupakan angka penurunan terendah selama ini.

“Banyak yang skeptis mengatakan deforestasi Indonesia turun karena hutan sudah habis. Siapa bilang? Hutan alam masih 94 juta hektar. Itu lebih dari 50% luas Indonesia. Jadi tidak benar kalau hutan sudah habis. Tidak betul,” katanya. 

Aktivis lingkungan Greenpeace Indonesia skeptis tentang pengendalian kebakaran hutan yang dianggap pemerintah sebagai faktor utama turunnya deforestasi. Mereka mengklaim bahwa laju deforestasi kemungkinan besar turun pada tahun 2020 dikarenakan lambatnya laju aktivitas ekonomi selama pandemi serta cuaca basah yang tidak biasa. 

“Untuk mengklaim bahwa pengendalian kebakaran hutan, reformasi agraria dan penegakan hukum di sektor kehutanan adalah kontributor utama, saya kira masih terlalu dini,” kata Direktur Greenpeace Indonesia,  Leonardo Simanjuntak kepada Reuters, dikutip dari VOA.

Dari kompleksitas permasalahan tersebut, sudah segianya kita sebagai makhluk bumi untuk terus menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia dan menentang segala bentuk pengrusakan dengan alasan apapun. Selamat Hari Hutan Sedunia!.

Penulis : Sekar Ajeng 

Editor : Fani Adhiti

Redaktur Pelaksana  : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Referensi :

  1. https://fwi.or.id/banjir-wajah-awal-tahun-2021/
  2. https://www.mongabay.co.id/2021/03/07/angka-deforestasi-indonesia-turun/
  3. https://fwi.or.id/menelisik-angka-deforestasi-pemerintah/
  4. https://nasional.tempo.co/read/1427948/greenpeace-penggundulan-hutan-jadi-akar-masalah-banjir-kalsel/full&view=ok
  5. https://www.voaindonesia.com/a/klhk-klaim-angka-deforestasi-ri-turun-75-pada-2020-/5801221.html#:~:text=Kementerian%20Lingkungan%20Hidup%20dan%20Kehutanan,hingga%2075%20persen%20pada%202020.&text=Mereka%20mengatakan%20laju%20deforestasi%20kemungkinan,cuaca%20basah%20yang%20tidak%20biasa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *