01/08/2021

Tantangan Target Vaksinasi yang Ambisius di Indonesia

Webinar KSIxChange#32: Tantangan dan Realitas Kebijakan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia. (Foto : Asumsi/YouTube)

LPM OPINI – Perencanaan vaksinasi di Indonesia dipahami sebagai puncak dari rangkaian penanganan pandemi Covid-19. Pemerintah menargetkan 181.554.465 penduduk yang berusia di atas 18 tahun dapat selesai divaksin secara bertahap sebelum akhir tahun 2021. Merujuk pada target yang ditetapkan, timbul kekhawatiran mengenai titik temu dari rencana penanggulangan tantangan terhadap realitas di lapangan terkait kebijakan vaksinasi ini. 

Khawatir akan vaksinasi di Indonesia dan pengaruhnya bagi kebijakan, Knowledge Sector Initiative (KSI), yang merupakan kemitraan Indonesia dan Australia, menyelenggarakan webinar berjudul KSIxChange#32: Tantangan dan Realitas Kebijakan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Acara ini diselenggarakan pada Selasa (23/3/2021) pukul 09.30 – 11.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.

Rekaman Webinar yang diselenggarakan bertaraf internasional ini bisa ditonton melalui kanal Youtube Asumsi. Selain itu, pihak penyelenggara menyediakan juru bahasa isyarat bagi penyandang tunarungu dan interpreter untuk bahasa Inggris.

Menurut moderator Tri Muhartini, tujuan acara ini digelar yakni sebagai upaya mendukung pemerintah Indonesia dalam merespons pembangunan pasca-Covid-19. Webinar yang menggunakan format tanya-jawab ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu dr. Dyan Sawitri (Sub Koordinator Imunisasi Dasar Kementerian Kesehatan), Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S. (Wakil Kepala LBM Eijkman Bidang Riset Fundamental), dan Dr Mahesh Prakash (Group Leader, Data61, CSIRO Australia).

Dyan Sawitri menjelaskan bahwa salah satu tantangan vaksinasi Covid-19 di Indonesia adalah laju distribusi dalam penyaluran vaksin yang rendah dikarenakan jumlah pasokan vaksin yang terbatas. Vaksin yang tersedia sampai saat ini hanya sekitar 30% dari jumlah target yang ditetapkan. Diharapkan pasokan vaksin akan bertambah dan lancar setelah semester pertama, yakni sekitar bulan Juni.

“Target vaksinasi yang besar diperlukan untuk menciptakan kekebalan kelompok atau herd immunity, yaitu 70% dari jumlah populasi suatu negara sesuai rekomendasi WHO dan Komite Penasihat Ahli Imunisasi Nasional. Selain itu, vaksinasi akan disalurkan secara bertahap, yakni tahap pertama pada tenaga medis dan tahap kedua pada pelayanan publik dan lansia,” jelasnya.

Selanjutnya, Mahesh Prakash membicarakan tentang model skenario yang ada di Indonesia dan Australia untuk meningkatkan kesehatan di ranah publik.

“Terdapat kesamaan dan perbedaan yang ada di Indonesia dan Australia seperti usia muda populasi, kepadatan penduduk, dan penggunaan transportasi umum sehingga perlu dipertimbangkan agar kebijakan yang diambil bisa maksimal,” terang Mahesh.

Herawati Sudoyo menginformasikan bahwa tahap pengembangan vaksin Merah-Putih sudah sampai tahap praklinik dan sudah diuji coba pada hewan sebelum diberikan pada Bio Farma untuk uji klinik tahap satu, dua, dan tiga. Vaksin Merah-Putih adalah sekelompok kandidat vaksin yang dikembangkan oleh konsorsium riset di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN).

“Selain itu, untuk merespons mutasi yang terjadi pada virus, maka dikembangkan sebuah ‘bank’ yang menyimpan data virus C-19 terbaru dari seluruh dunia. Indonesia sudah mengirimkan 795 sequence atau informasi genetik virus. Peneliti dunia juga sedang meneliti bagaimana mutasi virus akan mempengaruhi efikasi dari vaksin,” tambah Herawati.

Sebagai penutup, Prof. Herawati mengharapkan masyarakat untuk mendukung kebijakan vaksinasi agar target pemerintah dapat tercapai.

“Apapun target dari kementerian kesehatan untuk total populasi tadi, akan sesuai dengan waktu yang direncanakan, kita sendiri harus mendukung yang menjadi kebijakan vaksinasi ini. Apalagi tujuan kita sebenarnya melindungi orang yang tidak divaksinasi,” tutupnya.

 

Penulis : Wahyu Hidayat

Editor : Fani Adhiti/Annisa Qonita

Redaktur Pelaksana : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *