Roadshow Kampanye MaHal Singgah di FISIP: Merangkum dan Memetakan Permasalahan dari Kampus Oranye

0
Paslon Ketua dan Wakil BEM Undip No. Urut 1 Maajid-Halim (Kanan) bersama dengan Calon MWA No. Urut 1, Rafi Radhiyya Zhafran (Kiri) sebelum pemaparan (Sumber foto: Taufiqurrahman Alfarisi)

Paslon Ketua dan Wakil BEM Undip No. Urut 1 Maajid-Halim (Kanan) bersama dengan Calon MWA No. Urut 1, Rafi Radhiyya Zhafran (Kiri) sebelum pemaparan (Sumber foto: Taufiqurrahman Alfarisi)

Pemilihan Raya (Pemira) Universitas Diponegoro (Undip) berjalan beriringan dengan berbagai Pemira yang berlangsung pada tiap fakultas. Layaknya Pemira pada tiap fakultas, Pemira Undip membawakan berbagai rangkaian acara yang perlu dilewati setiap calon, salah satunya adalah kampanye. Melalui rangkaian tersebut, tiap calon dapat menyampaikan aspirasi dan menjaring keresahan baik secara lisan maupun tertulis. Salah satu bentuk dari kampanye secara lisan adalah melakukan roadshow melewati berbagai fakultas di Undip. 

Upaya tersebut salah satunya dilakukan oleh Pasangan Calon (Paslon) Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip Nur Maajid Taufiqurrahman-Rifqy Halim Arkaan bersama dengan Calon Majelis Wali Amanat (MWA) Nomor Urut 1, Rafi Radhiyya Zhafran. Roadshow yang telah dilaksanakan sejak Selasa (25/11) ini, singgah ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik pada Jumat (28/11). Melalui wadah tersebut, Calon Ketua dan Wakil Ketua BEM (Cakabem dan Cawakabem) bersama dengan calon anggota MWA dapat menyuarakan aspirasi mereka beserta menekankan prioritas yang ingin dibawakan pada tiap fakultas. Tidak hanya itu, mahasiswa dapat memberikan tanggapan, keprihatinan, maupun kritik agar ditampung oleh setiap calon.

 

Permasalahan Lingkup Kampus yang Diperhatikan

Roadshow tiap fakultas berupaya untuk memberikan wadah bagi paslon dan calon MWA untuk berdiskusi terkait hal-hal yang menjadi perhatian bersama mahasiswa. Dalam konteks mahasiswa FISIP sendiri, terdapat beberapa hal yang menjadi keprihatinan mereka dalam tahap universitas yang dilontarkan kepada masing-masing calon. Salah satu yang menjadi perhatian bagi mahasiswa FISIP adalah terkait Olimdipo yang penuh dengan dinamika, terutama terkait suporter yang berpartisipasi. Hal ini memantik perbincangan akan ditiadakannya Olimdipo untuk ke depannya. Meskipun begitu, Paslon Maajid-Halim tetap mengupayakan agar tetap dapat menyelenggarakan Olimdipo, tetapi dengan fokus penjaringan dan pembinaan atlet. Hal ini ditekankan oleh Maajid dalam pemaparan yang diberikan pada rangkaian roadshow

Sebenernya di timeline, di tahun depan, dari pihak rektorat (Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni) itu sendiri, Olimdipo kemungkinan akan ditiadakan, pun (jika) diadakan, akan tidak membawakan supporter. Saya (sendiri) juga supporter di FIB (Fakultas Ilmu Budaya), tapi saya rasa tidak perlu (adanya supporter), kalau nanti seperti apa arah geraknya (Olimdipo), fokusnya adalah penjaringan dan pembinaan atlet,” jelas Maajid.

Selain terkait Olimdipo, terdapat usulan untuk pembentukan sebuah bidang baru yang berfokus pada isu keperempuanan di lingkungan kampus yang disebut Bidang Pemberdayaan Perempuan (PP). Salah satu keprihatinan yang akan dibawakan bidang tersebut adalah permasalahan kekerasan seksual (KS) pada kehidupan kampus.

“Terkait PP ini (dalam konteks KS, kami) akan mengawal korban KS, karena dalam ranah penanganan (sebelumnya) kita tidak berhak memberikan sanksi, kita (hanya) berhak merekomendasikan sanksi. Ini jadi problem karena tidak mencapai jalan keluar. Yang (ingin) kami perjuangan adalah memberikan wadah alternatif bagi korban,” papar Maajid.

 

Keperluan FISIP yang Perlu Disuarakan ke Undip

Arkaan Halim (kanan) melakukan pemaparan dan kampanye yang dibawakan (Sumber foto: Taufiqurrahman Alfarisi)
Arkaan Halim (kanan) melakukan pemaparan dan kampanye yang dibawakan (Sumber foto: Taufiqurrahman Alfarisi)

Selain mengangkat isu kampus Undip, beberapa peserta mengajukan pertanyaan terkait FISIP serta bagaimana para Paslon dan calon MWA mencoba mengadvokasikan permasalahan tersebut ke ranah rektorat. Berdasarkan pemaparan yang telah diberikan, mereka menganalisis terdapat tiga permasalahan kunci di FISIP, yaitu kurangnya optimalisasi Program Studi di Luar Kampus (PSDKU) Program Studi Administrasi Publik Rembang, program International Undergraduate Program yang tidak memiliki pembeda dibanding kelas reguler, dan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) yang belum disesuaikan dengan ketersediaan kawasan terbatas merokok. Dalam ketiga isu utama tersebut, salah satu yang ingin menjadi prioritas pengawalan adalah terkait program IUP. Cakabem 2026, Nur Maajid Taufiqurrahman menyebut perlu adanya optimalisasi berbagai aspek dalam program IUP.

“Karena biasanya dari IUP ini masih belum standar internasional, ini yang coba pengen kami dorong untuk di tahun depan, untuk fakultas-fakultas yang punya (program) IUP, kita coba standarisasikan baik dari segi pengajarannya, dari segi sarana dan prasananya, pun juga dari segi experience-nya,” tekan Maajid ketika diwawancarai pihak LPM OPINI pada Jumat (28/11).

Tidak hanya terkait IUP, forum juga mengangkat iklim prestatif di FISIP yang belum mampu teraktualisasikan secara maksimal, meskipun memiliki potensi yang cukup tinggi. Meskipun tidak ditemukan solusi secara konkret, terdapat kesadaran atas perlunya mengurangi tendensi pihak rektorat untuk lebih mengunggulkan beberapa fakultas dibanding fakultas lain secara dukungan maupun dana.

“Iklim prestatif masalahnya pendanaan. Hanya ngasih dana ke tim riset yang udah ada jejak prestatif. Di beberapa fakultas, banyak prestasi yang (sudah) tinggi. Undip sendiri yang dilombakan lebih (banyak) dekat sama (prodi) saintek. Yang jadi persoalan adalah sifat (pendanaan) reimburse dan harus menang,” tegas Maajid.

Permasalahan di FISIP yang juga banyak ditemukan pada fakultas lain adalah kualitas tenaga pengajar yang masih perlu dilakukan advokasi dan evaluasi bersama.

“Karena kita kurang juga terkait dengan tenaga pengajar, alhasil kualitas pengajarannya inilah yang menjadi absen di sini,” tambahnya.

 

Sedikit Animo juga Keterlambatan Waktu Hadir

Meskipun bertujuan untuk menggalang aspirasi dari massa, rangkaian roadshow di FISIP memperoleh sedikit animo yang hadir. Hal ini dapat dilandasi berbagai faktor, baik Pemira yang lebih tenang maupun ketidakhadirannya calon lain yang mengakibatkan sedikitnya mahasiswa yang hadir.

“Satu mungkin Pemira tahun ini… nggak terlalu gimana-gimana. Terus kedua mungkin karena hanya satu calon, kan di tahun kemarin roadshow di(atur) KPPR (Komisi Penyelenggara Pemilihan Raya), ya. Akhirnya dua paslon (yang mengikuti roadshow),” duga Maajid.

Selain animo, keterlambatan mulai kegiatan yang baru dapat dimulai pada pukul sekitar 11:00 WIB juga menjadi sorotan. Akan tetapi, berdasarkan informasi yang beredar, kampanye seharusnya dapat dilaksanakan pada pukul 09:00 WIB. Hal ini merupakan akibat dari sedikitnya animo yang belum berkumpul, terutama dari kalangan organisasi mahasiswa (Ormawa) FISIP.

“Kami paslon dan temen-temen MWA itu udah ada (siap) (pukul) 08:55 (WIB), kami kebetulan karena narahubungnya adalah Kasenat (Ketua Senat FISIP), akhirnya kami chat Kasenat, karena belum ada konfirmasi dari Kasenat. Jadi pada pukul jam 10 something, barulah diriku di-chat sama Daffa Alfirossy (Ketua BEM FISIP), akhirnya aku bilang ini masih belum (dapat) konfirmasi, akhirnya disuruh langsung aja (ke FISIP) gitu. Kalau sebenarnya bisa mulai dari jam 9, bisa. Cuma kan tadi konstituennya nggak ada, terutamanya dari temen-temen Ormawa,” sebutnya.

Meskipun terdapat permasalahan secara teknis juga animo yang kurang mencapai jumlah secara maksimal. Roadshow ini diharapkan dapat menjadi bagian integral Pemira yang mendukung proses pemungutan dan perhitungan suara nantinya.

“Entah apapun, siapapun nantinya kepilih. Semoga teman-teman semua tetap bisa mengawal BEM.” pungkas Maajid.

 

 

Reporter: Musyaffa Afif, Taufiqurrahman Alfarisi

Penulis: Taufiqurrahman Alfarisi

Editor: Kayla Fauziah

Pimpinan Redaksi: Kayla Fauziah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *