
Bidang Sosial dan Politik (Sospol) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) kembali menggelar kegiatan berjudul “September Hitam” di area belakang gedung B pada Rabu (16/09). Acara yang berlangsung pada sore hari ini diselenggarakan dengan harapan agar mahasiswa FISIP dapat mengingat tragedi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) serta ketidakadilan masa lalu yang terjadi pada bulan September di Indonesia. Dihadiri oleh puluhan mahasiswa yang jumlahnya melampaui target kehadiran panitia, acara ini memadukan pemutaran dan bedah film kemanusiaan era Orde Baru dan Reformasi 1998 karya Kronik Media, sesi diskusi politik, hingga pertunjukan panggung bebas gigs.
Ragam Agenda “September Hitam”: Dari Bedah Film hingga Panggung Gigs

Rangkaian kegiatan “September Hitam” dimulai pada jam 16.50 WIB di area belakang Gedung B FISIP UNDIP. Agenda ini menghadirkan berbagai sesi, dari pemutaran dan bedah film karya Kronik Media mengenai isu kemanusiaan serta politik era Orde Baru dan Reformasi 1998, resensi film, diskusi politik atau kajian strategis, aksi simbolik, hingga pertunjukan panggung bebas gigs.
Ketua Pelaksana September Hitam, Muhammad Daffa Al Ghifari, menjelaskan bahwa persiapan acara ini telah direncanakan sejak sebelum masa liburan kuliah. Tahapan persiapan ini meliputi penentuan tema, penyusunan konsep dan susunan acara, hingga pencarian pendanaan melalui sponsor. Dalam wawancaranya bersama LPM OPINI, Daffa menjelaskan bahwa panitia sempat menghadapi kendala teknis terkait pengurusan proposal peminjaman. Adapun dukungan dari pihak fakultas diberikan dalam bentuk peminjaman peralatan seperti pengeras suara (speaker) dan mikrofon.
“Mungkin dari pihak fakultas kita minjem barang-barang sih, ada kayak speaker, atau mic, gitu-gitu aja sih paling,” jelas Daffa dalam wawancaranya bersama LPM OPINI.
Dalam wawancaranya, Daffa menjelaskan bahwa target kehadiran peserta awalnya diperkirakan sebanyak 30 orang, namun antusiasme partisipan yang datang di lokasi ternyata melampaui perkiraan.
“Alhamdulillah udah mencapai target, karena kita juga sebenernya berharap rame, dan juga kita taruh batas wajarnya aja, kita taruh di 30. Tapi yang datang lebih, ya Alhamdulillah,” ujar Daffa.
Melalui penyelenggaraan “September Hitam”, Daffa berharap generasi muda saat ini tetap merawat ingatan terhadap berbagai peristiwa ketidakadilan di masa lalu agar tidak pernah dilupakan, sekaligus menjadi dorongan untuk terus menyuarakan keadilan. “Pengennya sih teman-teman yang datang lebih bisa mengingat lagi kejadian-kejadian yang telah lalu, yang dulu-dulu tentang ketidakadilan di bangsa ini. Kita bisa mengingat itu semua, bisa kita jadi pelajaran lah buat bangsa ini ke depannya lagi,” ujar Daffa.
Harapan tersebut turut tercermin dari rangkaian kegiatan yang tidak hanya menghadirkan diskusi. Teater Dipo, Panggung Bebas, aksi simbolik, serta penampilan Sakutala, Wadah Musik Sastra (WMS), dan Teorema menjadi bagian dari ruang ekspresi yang melengkapi pembahasan mengenai isu kemanusiaan. Kehadiran berbagai bentuk kegiatan tersebut membuat pesan yang dibawa dalam “September Hitam” tidak hanya disampaikan melalui diskusi, tetapi juga melalui seni dan ruang ekspresi.
Menilik Kembali September dan Ingatan atas Pelanggaran HAM

Salah satu rangkaian yang menjadi ruang refleksi dalam kegiatan September Hitam adalah penayangan sekaligus bedah film pendek “Syukur” dari Kronik Media. Film tersebut menjadi pemantik diskusi mengenai persoalan pelanggaran HAM dan perebutan kekuasaan yang direpresentasikan melalui cerita di dalamnya.
Dalam bedah film, “Syukur” dibaca sebagai gambaran bahwa persoalan pemberantasan kasus pelanggaran HAM di Indonesia masih menjadi hal yang perlu diperhatikan. Film juga merepresentasikan relasi kekuasaan melalui gambaran pihak-pihak dalam pemerintahan yang saling berhadapan demi mempertahankan kekuasaan.
Pembahasan tersebut kemudian ditanggapi oleh audiens. Salah satu peserta, Rifat, mengaitkan film dengan persoalan konflik agraria serta tragedi pemerkosaan yang terjadi pada rentang tahun 1995 hingga 1998. Ia memandang film tersebut dari perspektif berbagai kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia.
Sementara itu, mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2024, Rafi, memaknai film tersebut sebagai metafora mengenai praktik perebutan kekuasaan dalam politik.
“(Film ini) sebagai metafora bahwa di dunia politik banyak bunuh-membunuh untuk mempertahankan kekuasaan,” ujar Rafi.
Bagi mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2025, Vincent, yang hadir sebagai peserta diskusi, keterlibatannya dalam September Hitam juga menjadi bagian dari upaya memahami isu kemanusiaan melalui perspektif keilmuan yang ia pelajari.
“Karena aku menilai bahwa nilai kemanusiaan sangat dijunjung pada bulan September ini dan mungkin karena aku sebagai mahasiswa Fakultas Sosial dan Politik juga, jadi aku ini harus cukup aware lah pada isu-isu politik dan terutama kemanusiaan pada event-event seperti ini,” tutur Vincent ketika diwawancarai LPM OPINI.
Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan melalui diskusi dan kajian terhadap persoalan sosial-politik.
“Aku menganggap event seperti ini sebagai wadah untuk aku mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah aku pelajari,” ujar Vincent.
Dari Ingatan Menjadi Suara untuk Keadilan

Vincent menilai September Hitam dapat menjadi ruang untuk merepresentasikan keresahan mahasiswa terhadap persoalan kemanusiaan dan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia. Ia berharap kegiatan serupa ke depan dapat semakin merefleksikan kehidupan mahasiswa.
“Pesannya mungkin bisa lebih sangat merefleksikan apa yang terjadi pada kehidupan mahasiswa juga. Terus buat kesannya ini sangat-sangat bagus sebenarnya, udah bagus banget buat merepresentasikan apa yang telah kita gaung-gaungkan pada pemerintah, apa yang telah tergores dalam sejarah,” ujar Vincent.
Daffa pun menekankan pentingnya menjaga ingatan generasi sekarang terhadap peristiwa yang telah terjadi. Baginya, mengingat masa lalu merupakan bagian dari upaya agar persoalan ketidakadilan tidak berhenti menjadi catatan sejarah.
“Harapannya semoga anak-anak sekarang, zaman sekarang lah ya, masih bisa mengingat itu semua, biar orang-orang zaman sekarang ini nggak lupa akan kejadian-kejadian yang telah lalu. Kita harus bisa menyuarakan apa yang bisa kita suarakan tentang keadilan,” tutur Daffa.
September Hitam akhirnya tidak hanya menjadi rangkaian kegiatan dalam satu sore. Melalui film, diskusi, seni, hingga aksi simbolik, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan kembali ingatan terhadap masa lalu dengan suara yang masih relevan di masa kini.
Reporter: Dafan Mahendra, Yasinta Alicyagrace, Tabita Octavia, Najwa Rahma
Penulis: Amadea Kalila, Khaya Khailila
Editor: Kayla Fauziah
Pemimpin Redaksi: Najwa Rahma
