06/12/2021

Tarik-Ulur Uang Saku Magang Bersertifikat Kampus Merdeka

Tampilan Website Magang Merdeka Kemendikbud. (Foto: Screenshot)

LPM OPINI – Pelaksanaan Magang dan Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka (MSIB) tahun pertama memunculkan masalah bagi para peserta. Program unggulan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) dengan jaminan uang saku dari pemerintah melalui ongkos Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini melulu tarik-ulur dalam proses pencairannya.

Peserta MSIB meramaikan jagat internet dengan memunculkan petisi bertajuk Tolong Realisasikan Uang Saku Peserta Magang & Studi Independen Kampus Merdeka Angkatan-1 lewat kanal petisi change.org yang sudah ditandatangani 5.700 lebih warganet sampai nawala ini diterbitkan.

Petisi realisasi uang saku peserta MSIB di kanal Change.org (Foto: Screenshot).

Merespons hal tersebut, penyelenggara MSIB mengeluarkan rilis pers yang dimuat di kanal resmi Kemdikbud. Dalam rilisnya, Kemdikbudristek menjanjikan uang saku akan segera cair per tanggal 25 – 27 Oktober 2021. Meski demikian, banyak hal yang disesali mahasiswa peserta magang terkait janji manis uang saku yang dilontarkan pemerintah selaku penyelenggara.

Sebagai catatan, Magang Bersertifikat bertujuan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk magang dan mengembangkan diri di dunia industri selama 1-2 semester. Organisasi industri ini kemudian disebut sebagai mitra Kampus Merdeka. Pihak mitra bertanggung jawab untuk memberikan mentoring dengan tujuan pengembangan diri peserta magang bisa terpenuhi. Sebagai gantinya, mitra mendapat keuntungan tambahan berupa tenaga kerja magang ditambah subsidi uang saku peserta magang yang ditanggung pemerintah. 

Bagi peserta magang, Kemendikbudristek menjanjikan tiga poin manfaat yang bakal diterima peserta magang sebagaimana tercantum dalam edaran panduan Kampus Merdeka, di antaranya:

  1. Pengalaman bekerja di Mitra selama 1−2 semester penuh di perusahaan yang diakui oleh Kemendikbudristek 
  2. Uang saku dan biaya hidup selama magang akan disubsidi oleh Kemdikbud
  3. Mahasiswa menerima sertifikat kompetensi dari Mitra setelah selesai magang.

Empat Kali Penundaan

Terhitung sejak pertama kali penerjunan di tanggal 23 Agustus 2021, setidaknya lebih dari 60 hari peserta tidak mendapat uang saku yang dijanjikan. Salwa, salah satu peserta Magang Merdeka sejak Agustus mengaku sudah dikibuli janji tiga kali sebelum janji terakhir yang termaktub dalam rilis pers oleh Kemdikbudristek.

Alasan adanya penundaan diketahui karena masalah data yang belum selesai. Menurutnya, alasan itu tidak masuk akal karena segala data sudah ditagih cepat-cepat sejak awal masuk magang dan peserta magang sudah melengkapinya tepat waktu.

“Pertama, tuh, janjinya tanggal 25 September, terus jadi tanggal 15 Oktober, itu sudah kesepakatan awal, kita sebagai mahasiswa, ya, okelah, kalau dia bilang tanggal 15, selanjutnya kaya “Tanggal 18 ya adik-adik, sorry telat,” terus mundur lagi sampai tanggal 22, tapi sudah lewat tanggal 22 ini belum juga turun,” 

“Katanya enggak serentaklah datanya, masalah, lah datanya, pokoknya alasannya, tuh kemarin, data terlambat datang, padahal menurutku semua orang sudah submit cepat di awal-awal, karena dari Agustus sudah ditagih data yang dibutuhkan,” jelas Salwa ketika diwawancarai Sabtu, (23/10/2021).

Tiga kali dijanjikan, terhitung tiga bulan Salwa tidak dibayar sesuai perjanjian. Keterlambatan ini disayangkan Salwa karena ia merasa mitra sudah memberi benefit sesuai dengan perjanjian, sementara penyelenggara terkesan lalai dengan kewajibannya.

“Masalahnya, Kampus Merdeka selling ke kita itu uang saku, tapi terlambat, makanya orang-orang kesal, padahal orang-orang benar-benar kerja semua, kok. Mitra juga menurutku sudah kasih benefit yang dijanjikan, misalnya ngasih ilmu, ngasih pelatihan, kaya on the job training gitu, cuma dari pemerintahnya enggak jelas,” katanya.

Keterlambatan ini juga dirasakan peserta magang lain di mitra yang berbeda dengan Salwa. Sukma misalnya, dirinya mulai magang di salah satu mitra mulai awal September. Sama seperti Salwa, Sukma dijanjikan tanggal pencairan berulang kali yang terus menerus nihil kejelasan.

“Untuk pencairannya sendiri waktu kabar pencairan pertama ada di bulan September, menjelang akhir gitu tanggal 20-an ada informasi yang disebar di grup, jadi ada grup yang isinya perwakilan tiap mahasiswa di mitra dan dari yang ngurus program Magang Merdeka dari pemerintah, infonya Agustus – September akan cair di bulan Oktober tanggal 15,”

“Kemarin itu ada lagi pengunduran, dikasih tahu untuk pengiriman uang saku dari tanggal 18-22 Oktober, dari informasi katanya masih butuh verifikasi yang sangat banyak sampai ribuan mahasiswa, jadi kayak mereka masih butuh ngepastiin datanya,”

“Tanggal 18-22 (Oktober) itu ada lagi masalah, pembagian uang saku dibagi tiga kloter, katanya, sekitar 13 ribuan jumlah peserta di semua kloternya, itu jangka waktu 18-22 Oktober dikirim cuma kloter satu, setelah itu belum ada kabar lagi sampai di akhir tanggal 22, jam 00.00, tidak ada konfirmasi dan minta maaf pada saat itu,” jabar Sukma.

Banyaknya penundaan dari penyelenggara tidak bisa diterima nalar Sukma, terlebih banyak peserta magang yang merantau membutuhkan uang saku untuk menyambung hidup. Alasan penyelenggara masalah data peserta mengecewakan Sukma. Karena dari pengalamannya, ia beserta peserta magang yang lain sudah diwanti-wanti untuk mengumpulkan berkas tepat waktu dan mengamininya secara tepat waktu juga.

“Cuma pengunduran yang selanjutnya, dari tanggal 22 yang tanpa konfirmasi diundur jadi tanggal 25 ke 27 itu alasan yang enggak bisa diterima. Karena pengunduran uang saku selama dua bulan dirangkap itu saja sudah bikin teman-teman yang harus WFO survive lagi tanpa uang saku mereka tetap bisa WFO, gitu, kan. Nah, dengan itu diundur lagi, berarti ketika diundur, masa iya mereka minta waktu data validasi segala macam tapi ingkar sama waktu yang mereka sudah tentukan sendiri,”

“Jadi, kaya mereka nuntut mahasiswa mengisi logbook tepat waktu, mengisi dokumen segala macam, karena jujur sebelum ada pengumuman pencairan dana ini, Kemendikbud tuh sudah ngejar kayak ‘jangan sampai enggak upload berkas ini itu, karena kalau enggak, uang sakunya enggak akan cair’, dari mahasiswa pun di-tracking juga dari tiap mitra, jadi dari dua belah pihak sudah masukin nomor rekening segala macam jadi data sudah dilengkapi, jadi di tanggal 15 janji pencairan itu, itu semua datanya sudah siap, data-data yang diminta Kemendikbud sudah kekumpul,” jelas Sukma.

Lebih lanjut, Sukma juga menyesalkan rilis pers yang menjanjikan pencairan di tanggal 25-27 Oktober secara berkala, sebab alih-alih memberikan alasan penundaan pencairan dan permohonan maaf, rilis pers tersebut menurutnya berkilah seolah pencairan di tanggal 25-27 Oktober adalah tenggat semestinya; yang mana tidak benar. 

“Di press release pun enggak dijelaskan alasan pengundurannya apa, malah di situ cuma dijelaskan, kalau seakan gajinya dikirim tanggal 27, padahal itu sudah melenceng banget dari (perjanjian) awal,” sambungnya.

Salwa Baru Dapat Satu Bulan Uang Saku, Sukma Terlambat Ditransfer

Janji terakhir Kemdikbudristek selaku penyelenggara Magang Bersertifikat Kampus Merdeka lewat rilis pers akhirnya menemukan sedikit angin segar bagi Salwa, pada tanggal 26 Oktober 2021, uang sakunya cair. Namun, uang saku yang didapatkan baru terhitung satu bulan magang, padahal, Salwa sudah magang tiga bulan terhitung sejak Agustus.

“Sudah (cair) kemarin, tapi baru satu bulan, buat lanjutannya (bulan selanjutnya) kurang tahu,” katanya ketika ditanyai kembali pada Rabu, (27/10/21).

Dalam penjelasannya di rilis pers, pihak penyelenggara memang akan mengangsur uang saku bulan lainnya di akhir bulan Oktober. Sayangnya, tidak ada tanggal pasti dari keterangan ‘akhir bulan’ yang dimaksud.

“Adapun proses pencairan uang saku program MSIB mulai cair sampai dengan 27 Oktober 2021. Akan langsung disusul pencairan uang saku bulan berikutnya pada akhir bulan ini,” dikutip dari rilis pers Kemdikbud yang diakses lewat detik.com.

Beda nasib dengan Salwa, Sukma dan juga peserta magang di proyek mitranya urung mendapat kucuran uang saku sepeser pun pada tenggat waktu yang dijanjikan. Bahkan, lewat sehari dari batas maksimal pencairan, uang saku belum masuk ke rekeningnya.

“Belum cair, hari ini enggak ada kabar sama sekali, teman-temanku juga pada belum,” ungkapnya sedih.

Saat Rabu sore tanggal 27 Oktober, hari terakhir yang dijanjikan penyelenggara uang saku tidak kunjung cair, Sukma mendapat informasi dari grup magangnya, dikatakan keterlambatan uang saku dari waktu yang ditetapkan karena lagi-lagi permasalahan data yang harus direvisi. 

Kendati begitu, tidak diketahui pasti kapan Sukma dan teman-teman magang di perusahaannya akan mendapat uang saku sebagai hak yang sudah dijanjikan sejak awal. Sukma hanya diberitahu untuk menunggu informasi lanjutan minggu ini.

“Rabu sore tetap belum masuk uang saku karena kemarin masih ada data yang salah, tapi data sudah diserahkan ke Kemendikbud buat revisinya. Masih kurang tahu tapi kira-kira kapan fix-nya kalau revisi begitu, informasi terakhir katanya diusahakan minggu ini,” pungkas Sukma meneruskan pesan yang didapatnya dari penyelenggara.

Baru setelah dua hari molor, Sukma mendapati rekeningnya bertambah dari LPDP, uang saku yang dinanti-nanti akhirnya cair. Berbeda dengan Salwa yang hanya dapat uang saku satu bulan, Sukma langsung diberikan besaran dua bulan uang saku meskipun dua hari terlambat dari tenggat waktu yang dijanjikan.

“Hari ini cair malam-malam!” kata Sukma dengan semringah mengabari hampir tengah malam.

Dalam rilis pers Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Sesditjen Diktristek), Paristiyanti Nurwardani menjanjikan pencairan uang saku di bulan-bulan berikutnya akan dicairkan per akhir bulan. Sesuatu yang diharapkan Salwa dan Sukma benar-benar bisa terealisasi tepat waktu tanpa ada drama tarik ulur dari penyelenggara seperti yang sudah-sudah.*

*Nama Sukma dan Salwa bukan nama yang sebenarnya (disamarkan). Hal ini dilakukan atas permintaan narasumber.

Tulisan ini merupakan bagian dari Kelas Mahasiswa yang didukung oleh Citradaya Nita 2021 bekerja sama dengan Project Multatuli dan AJI Jakarta.

Penulis: Luthfi Maulana Adhari

Editor: Annisa Qonita Andini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *