
Sivitas akademika Universitas Diponegoro (Undip) di bawah koordinasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip melakukan pernyataan sikap dan doa bersama di lapangan Widya Puraya pada Kamis (04/09) sebagai lanjutan rangkaian aksi September Hitam tahun ini. Seruan solidaritas ini dimaksudkan sebagai tanggapan atas berbagai kasus kekerasan oleh aparat terhadap warga sipil yang terjadi di masyarakat saat ini. Salah satunya adalah kasus tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online saat aksi demonstrasi di Jakarta, pada Kamis (28/08) silam yang tewas dilindas kendaraan taktis Rimueng milik Satuan Brigade Mobil (Brimob) Kepolisian Daerah Metro Jaya.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari pihak BEM Undip yang menjelaskan tentang rangkaian acara, kemudian diikuti dengan persembahan puisi dan aksi simbolik mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip yang mengguyur diri mereka dengan air di depan para sivitas akademika sambil menyanyikan lagu “Indonesia Pusaka” bersama-sama. Aksi ini merupakan representasi situasi pemerintahan Indonesia yang perlu “mandi” untuk membersihkan diri dari semua “kotoran” yang bermakna segala kesalahan yang terjadi.

Kegiatan dilanjutkan dengan orasi dari mahasiswa FIB Undip yang menyerukan “Bebaskan kawan kami!” serta mengingatkan semua elemen sipil agar saling jaga dan melindungi dalam setiap aksi yang terlaksana, bukan bertingkah anarkis seperti yang terjadi di Jakarta dan Semarang. Orasi ditutup dengan mengheningkan cipta untuk semua korban yang gugur dalam aksi demonstrasi. Setelah merenungkan dan memanjatkan doa, sivitas akademika yang terdiri dari rektor, dekan berbagai fakultas, tenaga kependidikan, dosen, dan mahasiswa bersama-bersama berdiri di depan tiang bendera untuk merekam pernyataan sikap yang dibacakan oleh Rektor Undip. Aksi seruan moral pun ditutup dengan doa bersama dan menyanyikan lagu “Bagimu Negri”.
Undip Menyatakan Sikap
Terdapat lima poin utama yang ditegaskan dalam pernyataan sikap sivitas akademika Undip. Lima poin tersebut adalah sebagai berikut:
- Ucapan dukacita atas para korban yang meninggal dalam aksi demonstrasi,
- peringatan bahwa aparat negara bukanlah alat represi,
- penegasan bahwa demonstrasi merupakan wujud kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi,
- permintaan pembatalan kebijakan-kebijakan yang merugikan rakyat, dan
- tuntutan kepada pemerintah agar sungguh-sungguh mendengarkan segala bentuk aspirasi dari masyarakat.

(Sumber foto: Taufiqurrahman Alfarisi)
Selain mengecam keras segala tindak kekerasan yang dilakukan aparat, pernyataan sikap ini turut mengingatkan agar aksi demonstrasi terus berjalan tanpa adanya tindakan-tindakan anarkis. Rektor Undip, Suharnomo menegaskan hal ini lewat apresiasinya kepada mahasiswa Undip yang dinilai telah tertib dalam menyuarakan aspirasinya.
“Sekali lagi kami sangat appreciate pada BEM Undip dan Senat. Saya rasa mereka menyuarakan dengan sangat baik, sangat santun, (dan) terutama sangat tertib. Jadi ini saya rasa di satu sisi adalah (wujud) aspirasi konstitusional, (misalnya) menyuarakan yang terbaik untuk bangsa ini mereka lakukan sebagai aktivis. Tapi sisi lain, mereka juga melakukannya dengan sangat tertib dan tidak mengganggu masyarakat,” jelas Suharnomo dalam forum pernyataan sikap pada Kamis (04/09).
Menurutnya, berpegang pada aksi damai sudah menjadi kewajiban dari setiap elemen masyarakat Indonesia, baik pemerintah maupun rakyat. Suharnomo berharap seruan damai ini dapat menjadi dorongan untuk selalu mengingatkan bahwa kekerasan bukanlah jawaban yang tepat dalam kondisi apapun.
“Jangan pernah lelah untuk mencintai bangsa ini. Ada banyak yang kurang di bangsa ini, tetapi mari kita sama-sama mengedepankan apa yang menjadi nilai-nilai luhur dari bangsa ini, (yakni) penuh sopan santun dan empati pada sesama. Jangan pernah lelah untuk saling mengingatkan bahwa kekerasan apapun judulnya tidak akan menyelesaikan masalah dan hanya akan menimbulkan kekerasan-kekerasan baru,” tegasnya.
Serukan Solidaritas, Kecam Represifitas
Sebagai sebuah ajakan untuk seluruh elemen sivitas akademika kampus, pernyataan sikap Undip terhadap dinamika sosial politik indonesia yang terjadi kini menjadi sebuah pengingat sekaligus ajakan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk menyuarakan aspirasi tanpa represi. Ketua BEM Undip, Aufa Atha Ariq menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan pernyataan sikap yang berfokus pada tuntutan Undip terhadap instansi terkait.
“Sebenernya, kan, ini sikap Undip ya, bukan aksi dari mahasiswa gitu. Sekiranya memang nanti ada poin-poin tuntutan ataupun keresahan-keresahan yang mungkin ingin disampaikan (oleh mahasiswa), tentu pasti akan ada aksi lagi,” terang Ariq ketika diwawancarai LPM OPINI pada Kamis (04/09).
Ariq menjelaskan pula bahwa diskusi berkenaan langkah dengan langkah para mahasiswa selanjutnya dalam menyikapi tuntutan 17+8 belum memiliki keputusan pasti, sehingga ia belum dapat mengonfirmasi kelanjutan aksi.
“Kita masih memantau sih, hari ini karena teman-teman universitas masih mengkonsolidasikan terkait dengan poin-poin 17 plus 8 itu, sehingga apabila nanti kita rasa perlu untuk turun lagi ke jalan, kita akan turun ke jalan,” ungkapnya.
Salah satu mahasiswa Vokasi Undip yang mengikuti kegiatan ini, Ade Sinta menambahkan bahwa banyaknya kekerasan yang dilakukan aparat terhadap warga sipil, khususnya polisi, melatarbelakangi hadirnya pernyataan sikap dari Undip. Terutama dengan keadaan negara yang sedang tidak baik-baik saja saat ini.

“Seperti yang banyak orang bilang bahwa Indonesia sekarang nggak baik-baik aja, di mana aksi demo kemarin itu banyak sekali rekan-rekan mahasiswa yang terbunuh dalam aksi itu, padahal kami para mahasiswa juga turun untuk membela, membawa suara rakyat gitu,” ucap Ade saat diwawancarai LPM OPINI pada Kamis (04/09).
Harapannya, pernyataan sikap Undip ini dapat menjadi pemantik bagi lembaga pendidikan lain untuk ikut menyuarakan tuntutannya. Menegaskan sikap bahwa kebrutalan aparat perlu dihentikan dan ke depannya lebih ditindak tegas.
“Diharapkan mungkin dari kampus-kampus lain juga bisa mengikuti langkah yang sudah diambil oleh Universitas Diponegoro, bahwa kita menyatakan sikap tentang apa yang sudah terjadi di Indonesia saat ini. Bahwa kami menolak keras apa yang telah mereka (aparat) lakukan pada rakyat.” tutup Ade.
Penulis: Kayla Fauziah
Reporter: Dafan Mahendra, Kayla Fauziah, Taufiqurrahman Alfarisi
Editor: Natalia Ginting
Pemimpin Redaksi: Kayla Fauziah
