
Bayangkan dirimu adalah seorang bintang film ternama yang telah hidup dalam puluhan cerita. Hingga suatu hari, kamu memutuskan untuk menulis skenario film milikmu sendiri. Lantas, dari mana kamu akan memulai?
Kegalauan tersebut dialami oleh Layar (Nicholas Saputra), tokoh utama dari film musikal pertama karya sutradara Garin Nugroho bertajuk Siapa Dia. Namun, di tengah pusara pencarian ide, Layar teringat akan koper yang berisi catatan harian buyut, kakek, dan ayahnya. Proses penulisan skenario film perdana inilah yang membawa Layar menghidupkan kisah cinta di masa lalu, mulai dari awal abad ke-20, masa revolusi kemerdekaan, hingga ke babak Orde Baru. Dikemas dengan bentuk musikal dan diiringi lagu serta koreografi yang mengundang nostalgia, film Siapa Dia menghadirkan cara baru menyajikan sejarah sekaligus perkembangan sinema Indonesia.
Cerita dalam Koper

Cerita bermula dari keputusan Layar, seorang aktor terkenal yang mendapat namanya dari kegemaran sang ayah terhadap sinema untuk membuat filmnya sendiri. Perjalanannya mencari inspirasi membawa Layar berkunjung ke rumah sang buyut, tempat sebuah koper yang menyimpan foto-foto, surat cinta, serta catatan harian leluhurnya bersemayam. Berbekal potongan masa lalu dan bantuan kedua asistennya, Rintik (Amanda Rawles) dan Denok (Widi Mulia), Layar memulai perjalanan melintasi waktu untuk menelusuri benang sejarah, romansa, hingga perkembangan seni dari generasi buyut, kakek, dan ayahnya (seluruhnya diperankan oleh Nicholas Saputra).
Film yang terbagi dalam tiga babak ini menggunakan alur maju mundur untuk menyajikan narasi sejarah sekaligus implikasinya terhadap proses produksi film Layar. Babak pertama menyaksikan ketenaran Komedi Stambul pada awal abad ke-20, lengkap dengan bumbu romansa buyut Layar, Nicholas dengan sosok penyanyi Nurlela (Monita Tahalea). Bagian selanjutnya pun tidak terlepas dari kisah cinta nahas sang kakek, Kabel yang terpisah dari kekasihnya, Mui (Gisella Anastasia) oleh pengasingan di masa penjajahan Jepang.
Bergeser ke zaman Orde Baru, babak ketiga menelusuri budaya anak jalanan hingga maraknya persewaan komik dan majalah. Karakter ayah Layar, Putra digambarkan sebagai wartawan foto sekaligus penulis skenario amatir yang menambatkan hatinya pada seorang aktivis jalanan bernama Sari (Dira Sugandi). Sekembalinya Layar dari perjalanan mengarungi waktu, ia menyadari bahwa inspirasi tidak datang hanya dari menyaksikan kisah hidup orang lain, melainkan butuh keberanian untuk melangkah dan menentukan arah kisahnya sendiri.
Kelindan Linimasa Film, Budaya Pop, dan Peristiwa Politik Indonesia

Perkembangan seni, termasuk film dan budaya pop tentunya tidak terpisahkan dari situasi sosial dan politik yang tengah berlangsung. Terkenal akan karyanya yang merenungi seluk beluk budaya Indonesia, Garin Nugroho tidak luput menyulam perjalanan sinema Indonesia dengan dinamika politik dalam film Siapa Dia. Film ini menghidupkan narasi sejarah bangsa dengan menjadikan tiap karakter terlibat langsung di dalamnya.
Contohnya kunjungan Komedi Stambul keliling ke Stasiun Tuntang tempat Nicholas bekerja, yang ternyata merupakan distraksi masyarakat dari kebijakan represif pemerintah Hindia Belanda. Di sisi lain, walaupun pekerjaan Kabel sebagai ilustrator media propaganda Jepang mencerminkan realitas penyensoran kuat di masa pendudukan, kehadiran Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan) menjadi titik awal lahirnya seniman ternama Nusantara seperti Agus Djaja, Usmar Ismail, dan Ibu Sud. Film ini pun tidak menutup diri dari kenyataan suram pada era Orde Baru, ketika Putra harus merasakan kehilangan kekasihnya, Sari yang tewas di tangan seorang penembak misterius (Petrus).
Pesona Sajian Teatrikal dan Lagu-lagu Legendaris Buai para Sineas

Sebagai debut film musikalnya, Garin memanfaatkan musik dari masing-masing era dipadukan dengan koreografi sebagai medium penyampaian narasi. Gabungan suara berat Nicholas Saputra dengan suara lembut Happy Salma dalam lagu “Di Wajahmu Kulihat Bulan”, maupun performa powerful Dira Sugandi kala menyanyikan “Anak Jalanan” memberi kontras yang apik antarbabak cerita. Aransemen yang digunakan pun terasa segar dengan sentuhan modern, tetapi tidak kehilangan ciri khas dari tiap-tiap zaman.
Tidak hanya itu, dialog dan tatapan mata para pemeran yang seolah menembus layar membuat penonton seolah disedot masuk ke dalam cerita. Akting yang terkesan melekat kuat dengan naskah, dipadukan dengan pengambilan gambar yang cenderung statis menyulap tampilan layar lebar ini menjadi teater musikal yang megah.
Sementara itu, penggunaan alur yang melompat-lompat antara momen sejarah dan masa kini memang menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian pemirsa. Akan tetapi, dalam implementasinya justru membuat penonton tidak memiliki cukup waktu untuk mengenal lebih dalam pergolakan batin setiap karakter. Oleh karena itu, aspek melodrama film ini terasa rumpang di beberapa bagian dan seakan menunggu untuk digali lebih lanjut.
Film sebagai Cerminan Kehidupan Manusia
Ketika seseorang mendeskripsikan kehidupan dengan ungkapan “seperti di film-film”, otomatis pikiran akan tertuju pada akhir yang sempurna kala semua orang mendapatkan kebahagiaannya. Namun, film Siapa Dia membuktikan bahwa layaknya hidup, sebuah karya seni adalah kultivasi dari berbagai emosi manusia. Selipan tragedi di tiap babak dan luka yang dialami leluhur, bahkan diri Layar sendiri membuktikan bahwa kesedihan adalah bagian manusia yang utuh dan pantas untuk dirayakan dalam seni sekalipun.
Terdapat satu kutipan dari tokoh Layar yang seolah merangkum keseluruhan pesan dari film ini: “Film adalah gambar hidup. Kita harus mengalami hidup untuk bisa membuatnya.” Lebih dari sekadar surat cinta terhadap sejarah dan budaya, Siapa Dia mengingatkan kita untuk senantiasa menghargai setiap adegan-adegan kehidupan. Sebab pada akhirnya, setiap orang adalah sutradara bagi hidupnya sendiri, sehingga menjadi tugas kita untuk menuliskan akhir yang kita inginkan.
Penulis: Najwa Rahma
Editor: Aulia Retno
Pemimpin Redaksi: Kayla Fauziah



