05/08/2021

Diselenggarakan Sederhana, Ingatkah Masyarakat Semarang dengan Dugderan?

Masjid Kauman Semarang, Jawa Tengah, Minggu siang (18/4/2021). Tampak di halaman depan masjid berderet tenda bazaar Ramadan. Masjid Kauman menjadi satu dari dua tempat prosesi Dugderan yang diselenggarakan secara sederhana tahun ini. (Foto : Muhammad Rosyid)

LPM OPINI – Dugderan merupakan tradisi penanda dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadan yang rutin diselenggarakan di Kota Semarang sejak tahun 1884. Umumnya Dugderan dimeriahkan dengan berbagai festival seperti kirab budaya, arak-arakan warak ngendhog, dan pasar malam. Dugderan terdiri atas kata “Dug” yang berasal dari suara bedug yang dibunyikan sebagai penanda masuk waktu Magrib dan “deran” yang berasal suara dari mercon yang memeriahkan kegiatan ini. 

Tahun ini adalah kali kedua Dugderan dirayakan dalam kondisi pandemi. Digelar dengan sederhana, tahun ini tidak ada kemeriahan kirab budaya dan arak-arakan warak ngedhog. Rangkaian Dugderan hanya dilaksanakan di Masjid Kauman dan Balaikota Semarang. Acara diawali dengan penabuhan bedug oleh Walikota Semarang Hendrar Prihadi, kemudian dilanjutkan dengan pagelaran seni di pelataran Balai Kota. Tidak ada pawai dan juga kemeriahan kembang api sebagai simbol “deran”, tidak juga terdapat keramaian warga Semarang yang biasanya memeriahkan rangkaian tradisi Dugderan. 

Acara hanya dihadiri oleh pejabat Pemkot Semarang bersama budayawan serta beberapa tamu undangan. Hendrar Prihadi menyampaikan, Dugderan tetap digelar sebab merupakan warisan budaya dan tradisi yang harus dilestarikan. Meskipun pada penyelenggaraannya, tidak dengan perayaan yang meriah karena harus mengikuti protokol kesehatan.

“Sama seperti tahun lalu, kita belajar tetap menjalankan tradisi ini untuk menjaga budaya asli Kota Semarang di tengah pandemi Covid-19. Tahun ini juga dikemas oleh sedulur-sedulur Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dengan protokol kesehatan, sehingga meski tidak semeriah sebelum-sebelumnya tetap bisa dikerjakan,” kata Wali Kota Semarang, Hendrar Pribadi dalam keterangan tertulisnya, Minggu (11/4/2021).

Digelarnya dugderan dengan sederhana, tentu memunculkan dampak, khususnya yang dirasakan oleh masyarakat Kota Semarang. Banyak di antara mereka tidak mengetahui bahwa ternyata tradisi Dugderan masih diselenggarakan pada tahun kedua pandemi. Hal ini dikarenakan anggapan masyarakat terhadap Dugderan layaknya sebelum pandemi menyerang, kemeriahan festival dan arak-arakan yang dilakukan dari Balai Kota Semarang sampai dengan Masjid Kauman. 

Menurut salah seorang mahasiswa di kampus swasta Semarang, Dinara, perayaan Dugderan dengan sederhana justru sudah benar, mengingat kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan acara besar yang berpotensi menimbulkan banyak kerumunan. Hanya saja, ia berharap, sosialisasi dan informasi terkait Dugderan tetap disampaikan kepada masyarakat.

“Kalau secara sederhana kan yang tau pasti nggak banyak, mungkin pemerintah Kota Semarang bisa melakukan siaran langsung terkait pelaksanaan kegiatan ini, supaya masyarakat Kota Semarang tau kalau Dugderan 2021 itu masih ada,” ungkap Dinara ketika dihubungi LPM OPINI pada Senin (12/4/2021)

Senada dengan apa yang disampaikan Dinara, Fanny, salah seorang karyawan swasta di Kota Semarang, sangat mengapresiasi Pemerintah Kota Semarang yang tetap melestarikan tradisi Dugderan, walau dalam kondisi yang terbatas.

“Saya kira tahun ini Dugderan ditiadakan, soalnya kan nggak ada ramai-ramai seperti tahun 2019 atau tahun-tahun sebelumnya, tapi kalau masih diadakan sih keren, berarti Pemkot Semarang masih melestarikan tradisi meski di tengah pandemi,” ungkap Fanny.

Sedikit berbeda dengan dua narasumber sebelumnya, salah seorang ibu rumah tangga, Nuryati, menyebut perayaan Dugderan tahun ini tidak banyak yang mengetahui. Sama seperti Fanny, Nuryati juga baru tau ketika LPM OPINI bertanya tentang Dugderan 2021. 

“Namanya juga ibu rumah tangga, kalau nggak dikasih tau ya nggak bakal tahu, Mas. Harusnya pemerintah buat acara khusus yang disiarkan di TV biar masyarakat tahu kalau Dugderan 2021 masih dilaksanakan. Soalnya saya tahunya Dugderan ya arak-arakan, pasar malem, sama kirab budaya,” kata Nuryati ada Kamis (15/4/2021).

Kondisi pandemi seperti memang berdampak pada banyak hal, sehingga dibutuhkan penyesuaian untuk beberapa aspek kebiasaan yang ada dalam kehidupan. Salah satunya terkait penyelenggaraan tradisi, jangan sampai hanya karena pandemi menjadi alasan lunturnya nilai tradisi budaya yang seharusnya dilestarikan. Dalam bahasan ini, Pemkot Semarang sangat patut diacungi jempol, sebab masih terus menggalakkan nilai budaya dalam gelaran Dugderan 2021. Meskipun demikian, pada lini masa praacara, seharusnya pihak pemkot melakukan publikasi informasi yang meluas dengan tujuan agar lebih banyak masyarakat mengetahui terkait pelaksanaan kegiatan tahunan ini.

Penulis : Dikka Prasetyo

Editor : Annisa Qonita

Redaktur Pelaksana : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *