26/02/2024

Menghitung Hari Menuju Agenda Pasca Pencalonan dan Alasan Dibalik Perubahan Frasa “Musyawarah Luar Biasa”

0

Kegiatan Musyawarah Mahasiswa FISIP Undip pada Selasa (6/12)

LPM OPINI – Musyawarah Mahasiswa (Muswa) masih terus melangsungkan agendanya hingga Selasa (6/12). Setelah berkutat dengan pembahasan mengenai pengusungan bakal calon ketua dan wakil BEM FISIP (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) pada Senin (5/12) lalu, kegiatan yang masih bertempatkan di Auditorium Gedung A FISIP tersebut kemudian mengalihkan pembahasannya mengenai agenda pasca pencalonan.

Yazid Suhada Jaelani serta Thoriq Zafar resmi ditetapkan menjadi pasangan calon tunggal Kabem dan Wakabem FISIP 2023 setelah mendapatkan dukungan dari empat suara peserta penuh lainnya. Sidang kemudian berlanjut untuk membahas terkait timeline agenda pasca pencalonan atas usulan dari Yanwar selaku peserta penuh sekaligus perwakilan dari BEM FISIP.

“Saya mengajukan opsi untuk membahas penetapan timeline terlebih dahulu kemudian pembahasan selanjutnya adalah tahap verifikasi,” ujar Yanwar yang kemudian disepakati oleh forum.

Penetapan Timeline Agenda Pasca Pencalonan

Agenda pasca pencalonan akan jatuh pada Sabtu (10/12) atas usul dari Abed selaku peserta penuh persidangan sekaligus Ketua BEM FISIP 2022. Ia mengajukan opsi terkait timeline pasca pencalonan yang akan meliputi tahap verifikasi, pemaparan visi misi, uji kelayakan, serta penetapan calon yang diharapkan dapat dilakukan secara optimal pada hari dan tanggal yang sama. 

“Aku coba mengajukan tahap selanjutnya di tanggal 10 Desember. Nantinya, tahap verifikasi, visi misi, uji kelayakan, pemilihan dan penetapan itu dilakukan di hari itu entah dari pagi sampai sore dan sebagainya. Jadi, ini adalah fase di mana pada akhirnya publik boleh menilai dan mengkritisi,” usul Abed.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa rangkaian agenda tersebut akan diikuti oleh sesi tanya-jawab kepada paslon Kabem dan Wakabem. Abed mengusulkan agar agenda ini dapat dibuka untuk mahasiswa FISIP secara umum  sehingga nantinya sesi tanya-jawab dapat dipertimbangkan untuk dapat dimasukkan ke dalam agenda uji kelayakan.

“Terkait agenda pengajuan pertanyaan, itu masuk ke agenda uji kelayakan. Jadi, nanti akan dibuka untuk publik. Kita simulasikan ibaratnya seperti mekanisme uji publik ketika Pemira. Jadi, publik boleh nanya (juga),” lanjutnya sebelum akhirnya usulan Abed disepakati oleh forum.

Ia pun menambahkan bahwa pelaksanaan agenda yang jatuh pada Sabtu (10/12) tak luput dari berbagai pertimbangan, seperti adanya kegiatan Sholat Jumat hingga kegiatan Ujian Akhir Semester (UAS) yang sedang ditempuh oleh mahasiswa FISIP, “Mekanisme tanggal 10 kita buat secara terbuka dan mahasiswa FISIP bisa hadir. Hal ini mengingat di tanggal 9 ada jumatan, jadwal UAS, dan lainnya,” imbuhnya.

Menambahkan usulan dari Abed, Dedi selaku salah satu peserta penuh mengajukan usulan agar sebaiknya agenda verifikasi serta pemilihan dan penetapan calon dilakukan melalui persidangan, sementara agenda pemaparan visi-misi dilakukan melalui forum yang mengikutsertakan adanya panelis serta moderator dalam keberlangsungan kegiatan.

“Penyampaian visi misi dan uji kelayakan (agar) lebih luwes gak (perlu) melalui persidangan, tapi seperti pada umumnya, kedua agenda tersebut akan ada panelis dan moderator. Tapi, di (tahap) verifikasi nanti akan tetap melalui persidangan, di tahap penetapan itu (juga) melalui mekanisme persidangan lagi,” terangnya.

Sempat Tuai Perdebatan Mengenai Hari, Paslon Ungkit Perihal Kesiapan

Meskipun telah mendapatkan suara bulat, Prasya selaku peserta penuh persidangan sekaligus Ketua Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Administrasi Bisnis mengajukan opsi agar agenda pasca pencalonan digelar pada Jumat (9/12) dengan beberapa pertimbangan. Hal ini sontak menimbulkan beberapa respons dari peserta penuh lainnya yang mempersoalkan adanya pengajuan opsi pasca pengetukan palu.

“Saya ingin mengajukan opsi agar verifikasi dan uji kelayakan dilakukan pada tanggal 9 Desember, tanggal 10-nya hanya penetapan calon Kabem dan Wakabem. Karena kalau tanggal 9, nantinya akan (bisa) lebih membuka kesempatan mahasiswa FISIP untuk bergabung,”

“Kita lihat dinamika forum selama ini pembahasannya suka lama, apalagi kalau dalam 1 hari dimasukkan banyak (kegiatan). Saya khawatir kita jadi perlu mengundur lagi ke tanggal 11. Di tanggal 11 itu kan Senat akan mengadakan LPJ sehingga bisa mengganggu timeline,” tuturnya.

Merespons hal tersebut, Thoriq menilai bahwa seharusnya peserta sidang dapat menanyakan kesiapan terlebih dahulu kepada paslon sebelum menentukan tanggal.

“Seharusnya ditanyakan dulu kepada calon terkait kesiapan untuk tanggal tersebut karena saya memiliki beberapa agenda sehingga dapat dipertimbangkan lagi terkait kesepakatan timeline di tanggal 10 Desember,” ungkapnya.

Tak sepakat, Yohana yang duduk sebagai Peserta Penuh sekaligus Ketua Senat Mahasiswa menilai bahwa usulan yang diajukan oleh Prasya dan Thoriq kurang bijak. Berkaca dari minimnya partisipasi mahasiswa pada Muswa, Yohana menilai bahwa tidak akan ada perbedaan dari segi keterlibatan mahasiswa FISIP baik pada tanggal 9 maupun 10 Desember.

“Kalau alasannya karena (tanggal 9) mahasiswa masuk dan bisa lebih berpartisipasi, kita lihat saja 2-3 hari kebelakang. Nyatanya, di hari kerja ini, sudah disediakan banyak kursi tapi tetap kosong. Kalau gak ada ajakan, saya kira (mau) tanggal 9 dan 10 akan sama saja,” ungkap Yohana.

Yohana juga menimpali bahwa pasangan calon seharusnya sudah siap dalam menyiapkan diri untuk agenda-agenda berikutnya. 

“Menanggapi Mas Thoriq soal ditanyakan (kesiapan) kepada calon, saya pikir calon harusnya siap-gak siap karena kan kita melihat kondisi. Kalau nanyain siap atau gak, bisa aja siapnya (baru) bulan depan,” 

Yazid kemudian membuka suara terkait tanggapan Yohana. Bahwasanya, kesiapan paslon perlu untuk ditanyakan jika menimbang dari segi rasionalitas. 

“Saya rasa harus rasional juga. Gak mungkin lah 1 hari (aja) bikin visi-misi, program kerja, dan lainnya. Apakah dalam 1 hari bisa sempurna? Saya rasa harus melihat rasionalitas juga. (Namun) melihat opsi dari Mas Abed (soal) tanggal 10, itu udah sangat ideal dalam mempersiapkan berkas dan visi-misi,” responsnya.

Pembahasan Menyoal Teknis Verifikasi

Pembahasan terkait teknis verifikasi diawali dengan pengajuan opsi dari Yanwar yang memaparkan sistematika dari tahap verifikasi. Ia mengusulkan agar paslon dapat mengumpulkan berkas  sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelum akhirnya berlanjut ke tahap pemaparan visi-misi, program kerja, dan uji kelayakan.

“Selanjutnya, paslon dipanggil ke depan untuk melakukan verifikasi. Setelah itu, berkas kriteria calon dicek satu persatu sesuai dengan kriteria yang sudah disepakati. Presidium 1 dengan bantuan presidium 2 nantinya bisa mengecek. Apabila sudah dinyatakan lengkap, (paslon) bisa langsung maju ke tahap selanjutnya (yaitu) pembahasan visi-misi, pemaparan program kerja, dan uji kelayakan,” jelas Yanwar yang kemudian disambut dengan kesepakatan dari forum.

Penetapan Panelis Hingga Teknis Uji Kelayakan yang Belum Rampung

Sebelum beralih ke pembahasan mengenai teknis dari uji kelayakan, Dedi mengusulkan agar sebaiknya sidang dapat membahas terkait panelis terlebih dahulu. Ia pun kemudian mengajukan opsi terkait perwakilan panelis dari masing-masing organisasi mahasiswa (ormawa) yang kemudian menuai kesepakatan dari forum.

“Saya mengusulkan agar panelis diwakili oleh masing-masing ormawa. BEM dapat diwakili Mas Abed, Senat diwakili oleh Yohana, perwakilan UPK dan Himpunan (nanti) dapat dibahas di lingkar UPK dan himpunan tersebut,” ujar Dedi.

Namun, karena keterbatasan waktu peminjaman ruangan, Muswa pada Selasa (6/12) ini terpaksa harus menghentikan pembahasannya pada penetapan panelis sehingga sidang belum berhasil untuk menggelar pembahasan terkait teknis uji kelayakan. Sidang pun harus ditunda selama 2 X 12 jam dan akan dilanjutkan pada hari Rabu (7/12) pukul 12.00 di Ruang Teater Gedung C FISIP.

“Musyawarah Luar Biasa” ke “Musyawarah Mahasiswa”

Melalui unggahan akun Instagram Senat Mahasiswa FISIP, terdapat perbedaan dalam istilah kegiatan musyawarah. Terlihat bahwa Senat menggunakan istilah “Musyawarah Luar Biasa” (MLB) dalam rencana awal diikuti empat agenda pertamanya, sebelum kemudian mengubah kembali istilah kegiatan menjadi “Musyawarah Mahasiswa” (Muswa).

Menurut Yohana selaku Ketua Senat Mahasiswa FISIP Undip, penggantian istilah dari MLB menjadi Muswa dilatarbelakangi oleh adanya kritik dari teman-teman Panitia Khusus (Pansus) yang menganggap bahwa penggunaan istilah MLB dinilai kurang tepat lantaran diksi MLB hanya boleh digunakan ketika terdapat pemakzulan ketua BEM. Padahal, kondisi yang sebenarnya sedang terjadi ialah nihilnya pendaftar untuk calon Kabem dan Wakabem.

“Senat punya diksi MLB ketika ada pemakzulan ketua BEM. Jadi, Senat berpandangan (bahwa) kondisi ini sama. MLB itu masuknya ke Perma Pemakzulan BEM. Jadi, waktu itu teman-teman Pansus enggak setuju karena masalahnya bukan kekosongan jabatan, tapi enggak ada yang daftar gitu,” terang Yohana ketika diwawancarai oleh LPM OPINI pada Selasa (6/12).

Karena MLB dianggap hanya dapat dilakukan ketika terdapat peristiwa insidental, Senat pun memutuskan untuk kembali mengacu pada Pedoman Pokok Organisasi (PPO) yang menyepakati adanya istilah Muswa melalui penyetujuan ulang tata tertib.

 “Sebenarnya enggak punya peraturan yang legitimate untuk melaksanakan MLB ini. MLB kan karena insidental, tapi temen-temen mahasiswa enggak menyetujui, akhirnya kita kembali lagi pada PPO, kalau PPO itu kan adanya musyawarah mahasiswa”

“Dengan agenda pembahasan PPO, GBHK, dan lain sebagainya agenda yang disepakati. Makannya kemarin itu, kita tartib ulang, terus akhirnya kita membuka sidang kembali dengan diksi musyawarah mahasiswa,” jelasnya.

Meskipun demikian, ia menekankan bahwa antara MLB dan Muswa tidak memiliki perbedaan baik secara aturan, teknis, dan tata tertib. 

“Gak ada (perbedaan). Murni nama saja sebenarnya. Secara keberjalanan sama. Yang berbeda paling hanya pandangan kedudukan hukum aja sih,” pungkasnya.

Penulis: Almira Khairunnisa

Reporter: Almira Khairunnisa, I Gusti Ayu Nyoman Septiari

Editor: Luthfi Maulana Adhari

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *