19/09/2021

Teknologi Alternatif Pemanas Ohmik untuk Memasak Nasi

Perbandingan Nasi yang Dimasak dengan Pemanas Ohmik dan Rice Cooker (Sumber: Kanjanapongkul, 2017)

Nasi merupakan makanan pokok yang lazim dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai sumber karbohidrat utama. Ada beberapa metode yang digunakan untuk memasak nasi tergantung tipe beras yang digunakan dan budaya masyarakat di setiap wilayah. Mayoritas masyarakat Indonesia memasak nasi menggunakan alat rice cooker atau menggunakan sumber panas yang berasal dari api kompor. Hal ini yang mendorong produsen teknologi untuk terus menghasilkan inovasi yang dikembangkan dengan tujuan untuk menciptakan efisiensi dalam hal memasak nasi. Alat rice cooker terus mengalami perkembangan guna membantu meringankan pekerjaan rumah tangga. Namun, tidak menutup kemungkinan terlahir terobosan baru berupa teknologi alternatif yang bisa menggantikan konsep teknologi yang sudah ada. Pasalnya, alat pemasak nasi modern ini terus menjadi topik hangat untuk diteliti agar tercipta suatu teknologi yang lebih efisien.

Alat untuk memasak nasi modern dikembangkan dan diteliti untuk disempurnakan baik desain material alat dan penggunaan energi. Konsumsi energi yang tinggi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam pengembangan teknologi ini. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengembangkan teknologi baru yang mampu memasak nasi lebih baik namun dengan penggunaan energi yang minimum seperti pulsed electric field (PEF), pulsed x-ray, ohmic heating dan microwave heating. Prinsip teknologi alternatif ini dikembangkan untuk mengatasi permasalahan seperti borosnya energi yang dipakai dan waktu memasak nasi yang lama saat menggunakan alat rice cooker seperti sekarang.

Salah satu teknologi alternatif yang sedang dikembangkan untuk memasak nasi saat ini yaitu menggunakan teknik ohmic heating atau pemanas ohmik. Pemanas ohmik disebut juga dengan pemanasan joule, pemanasan hambatan listrik, atau pemanasan elektro. Teknologi pemanas dengan ohmik menggunakan energi dari listrik yang dilewatkan menembus bahan pangan yang ingin dipanaskan. Energi listrik yang menembus bahan pangan tersebut dikonversi menjadi energi panas sehingga menyebabkan kenaikan suhu pada bahan pangan tersebut. 

Prinsip pemasakan nasi menggunakan pemanas ohmik ini mirip dengan teknik memasak menggunakan rice cooker. Dalam prosedurnya, beras yang ingin dimasak dengan menggunakan

pemanas ohmik ini direndam dengan air yang telah diberi garam meja beryodium dengan konsentrasi tertentu untuk meningkatkan konduktivitas elektriknya sehingga listrik mudah mengalir melalui air dan mengenai beras yang ingin dimasak. Beras yang dimasak menggunakan pemanas ohmik namun tidak menggunakan larutan garam, tidak terjadi pemasakan disebabkan larutan garam ini yang berperan penting ketika proses pemasakan berlangsung. Air murni memiliki konduktivitas elektrik yang rendah sehingga tidak bisa digunakan dalam pemanas ohmik ini (Gavahian et al. 2019). 

Keunggulan menggunakan teknologi ini yaitu tidak membutuhkan media pemanas, tidak ada residu pemanasan yang tertinggal setelah pemakaian, menggunakan energi secara efisien, sistem yang ramah lingkungan, dan memasak nasi menjadi lebih cepat serta pemanasannya relatif seragam dan merata pada seluruh bagian bahan pangan. Pemanas ohmik ini memiliki prosedur yang lebih efisien sehingga disinyalir mampu menggantikan teknik memasak nasi di skala rumah tangga saat ini.

Beras yang dimasak menggunakan pemanas ohmik ini lebih cepat melunak dan menjadi nasi dibandingkan dengan teknik pemasakan yang lain seperti rice cooker dan pemanas microwave. Hal ini dikarenakan pada teknik pemanas ohmik lebih cepat untuk mencapai suhu tinggi sehingga proses pemasakan beras hingga menjadi nasi bisa menjadi lebih cepat. Tekstur nasi yang dihasilkan dari pemanas ohmik memiliki tekstur yang lebih lunak dibandingkan nasi yang dihasilkan dari pemanas konvensional biasa (Jittanit et al. 2017). Dari segi organoleptik, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara nasi yang dimasak dengan pemanas ohmik dengan nasi yang dimasak dengan teknik pemasakan yang lain seperti rice cooker. 

Dari penjabaran tersebut, pemanas ohmik memiliki keuntungan yang bisa dijadikan pertimbangan untuk memilih pemanas ohmik sebagai teknologi alternatif untuk memasak nasi. Walaupun teknologi ini terbilang baru diaplikasikan untuk memasak nasi, beberapa penelitian telah membuktikan dengan bukti yang kuat bahwa pemanas ohmik bisa menjadi salah satu teknologi alternatif alat pemasak nasi yang lebih ramah lingkungan dan proses yang cepat. Masih banyak yang bisa dikembangkan terhadap pemanas ohmik ini untuk selanjutnya dirancang menjadi suatu alat yang nantinya bisa dikomersilkan dan digunakan di skala rumah tangga secara luas. Tidak menutup kemungkinan nantinya pemanas ohmik ini bisa digunakan secara massal seperti penggunaan rice cooker saat ini.

Referensi:

Gavahian M, Chu Y-H, Farahnaky A. 2019. Effects of ohmic and microwave cooking on textural softening and physical properties of rice. Journal of Food Engineering. 243:114–124.doi:10.1016/j.jfoodeng.2018.09.010.

Jittanit W, Khuenpet K, Kaewsri P, Dumrongpongpaiboon N, Hayamin P, Jantarangsri K. 2017. Ohmic heating for cooking rice: Electrical conductivity measurements, textural quality determination and energy analysis. Innovative Food Science & Emerging Technologies. 42:16–24.doi:10.1016/j.ifset.2017.05.008.

Kanjanapongkul K. 2017. Rice cooking using ohmic heating: Determination of electrical conductivity, water diffusion and cooking energy. Journal of Food Engineering. 192:1–10.doi:10.1016/j.jfoodeng.2016.07.014.

 

Penulis: Sulaiman Akbar Mahdi (Sekolah Pascasarjana Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor)

Editor: Dian Rahma Fika Alnina & Langgeng Irma Salugiasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *